Wapres Ma’ruf Amin: Saya Sudah Berusaha untuk Tiadakan Penutupan Masjid, Adi Hidayat Minta Umat Tetap Makmurkan Masjid


Wapres KH Ma'ruf Amin (WhatsApp/Setneg)
[ A+ ] /[ A- ]

Perbesar huruf, klik A+ di atas

“Alhamdulillah saya sudah berusaha karena banyak protes dari masyarakat supaya tidak ditutup. Di dalam aturan yang terbaru sudah disebutkan bahwasanya tidak ada lagi kata-kata menutup masjid, tapi yang ada adalah dilarang untuk berkerumun,” kata Wakil Presiden, KH Ma’ruf Amin.

ATURAN dimaksud adalah Instruksi Mendagri Nomor 19 Tahun 2021 tentang Perubahan Ketiga Instruksi Mendagri Nomor 15 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat COVID-19 di Wilayah Jawa dan Bali.

“Bahkan supaya nanti tidak ada perbedaan, selain itu juga yang dulunya orang resepsi dibolehkan dengan jumlah 30 orang maka sekarang ditiadakan. Resepsi tidak boleh sama sekali. Masa jamaah salat tidak boleh, resepsi perkawinan boleh. Karena itu, resepsi perkawinan juga tidak boleh. Jadi ini sudah sesuai dengan tuntutan para kiai,” tegas Ma’ruf.

Disampaikan Wapres Ma’ruf Amin dalam pertemuan virtual dengan ulama dan tokoh agama, Senin (12 Juli 2021), bertajuk ‘Peningkatan Peran Ulama dan Tokoh Agama Islam dalam Mendukung Pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat COVID-19’.

Aturan yang diubah pada Instmendagri No.15/2021, yakni  pada huruf g dan huruf k  tentang penutupan tempat ibadah dan pelaksanaan resepsi pernikahan. Tempat ibadah (Masjid, Mushola, Gereja, Pura, Vihara dan Klenteng serta tempat umum lainnya yang difungsikan sebagai tempat ibadah) ditutup sementara;.

Direvisi menjadi:

Tempat ibadah (Masjid, Mushola, Gereja, Pura, Vihara dan Klenteng serta tempat umum lainnya yang difungsikan sebagai tempat ibadah), tidak mengadakan kegiatan peribadatan/ keagamaan berjamaah selama masa penerapan PPKM darurat dan mengoptimalkan pelaksanaan ibadah di rumah.

Berikutnya, resepsi pernikahan dihadiri maksimal 30 (tiga puluh) orang dengan menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat dan tidak menerapkan makan di tempat resepsi, penyediaan makanan hanya diperbolehkan dalam tempat tertutup dan untuk dibawa pulang.

Direvisi menjadi :

 Pelaksanaan resepsi pernikahan ditiadakan selama penerapan PPKM Darurat.

Dalam instruksi Mendagri No.19/2021 itu, tertulis bahwa aturan baru ini berlaku mulai 10 Juli sampai 20 Juli 2021. Instruksi baru ini sudah diteken oleh Mendagri Tito Karnavian.

Ma’ruf menyatakan, masjid kini tidak lagi ditutup. Namun dia mengingatkan tetap tidak boleh ada kegiatan berjemaah di masjid, termasuk saat Idul Adha nanti, baik di dalam maupun di luar area masjid.

“Tidak hanya di dalam masjid, tetapi juga di luar masjid sampai keadaan nanti sudah memungkinkan lagi karena ada bahaya yang harus kita hindari,” ujarnya.

Ma’ruf menyatakan aturan tersebut dikeluarkan pemerintah semata-mata untuk menjaga umat karena kasus COVID-19 di Indonesia kedaruratannya sudah luar biasa”, tambahnya.

Baca juga : Innalillahi…!  Pemerintah Resmi Tutup Masjid,  Gus Miftah Menohok Keras : Stop Kedatangan Warga Asing, Netizen: Sebenarnya Negeri Siapa Ini??

Ma’ruf berharap umat Islam bisa memahami aturan tersebut.

“Nanti jika kondisi COVID-19 sudah melandai, tentu aturannya akan kembali disesuaikan,” pungkasnya.

Sebelumnya memang ada kritikan dari  Ustadz Adi Hidayat ikhwal kalimat ‘tutup masjid’ dalam kebijakan menutup masjid  saat PPKM Darurat Jawa-Bali.

Menurut Ustadz Adi Hidayat, dikutip dari Suara Banten, lebih tepat meniadakan salat jamaah, bukan menutup masjid secara keseluruhan.

Ustadz Adi Hidayat

“Bukan menutup masjid, hanya mengalihkan berjamaah ke rumah bagi wilayah yang terdampak,” ujarnya seperti dikutip  dari Youtube Adi Hidayat Official Senin (5 Juli 2021).

“Jangan sampai ada kalimat ‘tutup masjid’, aneh itu. Mohon maaf, jangan sampai keliru,” tegas Ustadz Adi Hidayat.

Kata Ustaz Adi Hidayat, selama PPKM Darurat tetap harus ada yang memakmurkan masjid, seperti azan, salat berjamaah bagi yang tinggal di masjid.

“Dalam kondisi ini pun (pandemi), tetap di masjid itu ada yang bertugas untuk azan, dan yang standar di situ untuk memakmurkan masjidnya,” ungkapnya.

“Yang azan, yang tinggal di masjid, ya tetap azan di situ, imam rawatib di situ tinggal. Yang lain di rumah,” tambahnya.

Namun Ustadz Adi Hidayat juga menyarankan bagi masyarakat yang tinggal di zona merah agar menunaikan salat di rumah saja.

“Alangkah lebih baiknya tunaikan (salat) di rumah. Tidak perlu memaksakan ke masjid,” ungkapnya.

Ustadz Adi Hidayat mengungkapkan, sesuai hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan Abu Hurairah salat di rumah karena kondisi tertentu, tetap mendapatkan pahala seperti salat berjamaah di masjid. *BNTime

(Visited 25 times, 1 visits today)

Comments are closed.