Aziz: Habib Sebenarnya Sudah Lelah, Refly: Jaksa Terlihat Bernafsu Mengandangkan Rizieq dengan Pasal-Pasal Konyol


Screenshot Live Streaming persidangan Habib Rizieq Shihab (detiknews)
[ A+ ] /[ A- ]

Perbesar huruf, klik A+ di atas

“Terdakwa Rizieq Shihab dan tim kuasa hukumnya  mengajukan banding terhadap vonis hakim dalam kasus kerumunan di Petamburan, Jakarta Pusat, dan Megamendung, Kabupaten Bogor. Kezaliman terbaca oleh Refli Harun.”

ANGGOTA tim kuasa hukum Rizieq Shihab, Aziz Yanuar mengatakan, bahwa pihaknya secara resmi akan mengajukan banding pada Rabu (2/6-2021) ini.

“Kami akan banding resmi besok (kemarin). Banding ini kami lakukan karena jaksa penuntut umum nyatakan banding terlebih dahulu,” kata Aziz saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa, dikutip Antara yang dilansir Kompas.com
Diketahui, pada Kamis (27 Mei 2021) Hakim PN Jakarta Timur menjatuhkan vonis lebih rendah di bawah tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Dalam perkara kerumunan di Mega Mendung, menuntut HRS dengan 10 bulan penjara dan denda Rp.50 juta. Serta hukuman tambahan, dicabutnya hak-hak terdakwa untuk menjadi pemimpin suatu Ormas.

Namun hakim ketua majelis, Suparman Nyompa mengetukan palu di meja hijaunya dengan 8 bulan penjara dan denda R.20 juta, mengenyampingkan tuntutan politis 3 tahun tak boleh berorganisasi.

Begitu pula dalam berkas terpisah perkara kerumunan di Petamburan, Jakarta Pusat, hakim PN Jakarta Timur memvonis Habib Rizieq Shihab dkk 8 bulan penjara. Dalam sidang sebelumnya JPU menuntut HRS dkk dipidana 2 (dua) tahun penjara dikurangi masa tahanan.

 

Artikel terkait sebelumnya : Habib Rizieq Dituntut Dua Tahun dan 10 Bulan Penjara dalam Perkara Logika Sesat

Ini vonis buat Habib Rizieq dalam Perkara Kerumunan di Mega Mendung dan Petamburan

Ini Alasan Hakim Menghukum Ringan Habib Rizieq Shihab dkk

Baca Juga : Habib Rizieq Jeli, Jaksa Ketahuan Rekayasa Fakta Bohong, Berkilah Salah Ketik dan Minta Maaf. HNW: Bebaskan HRS

Hanya sehari setelah vonis hakim, menurut Humas PN Jakarta Timur –  Alex  Adam Faisal, JPU menyatakan banding pada Jumat (28 Mei 2021).

Anggota tim kuasa hukum terdakwa Rizieq Shihab, Aziz Yanuar, mengatakan bahwa Rizieq Shihab sebenarnya sudah lelah menghadapi proses hukum terkait kasus kerumunan di Petamburan, Jakarta Pusat, dan Megamendung, Kabupaten Bogor.

Rizieq Shihab dan terdakwa lainnya dalam kasus kerumunan tersebut sebenarnya sudah dapat legowo menerima vonis yang dijatuhkan majelis hakim. Namun, Rizieq Shihab mengajukan banding juga, karena mengikuti JPU yang terlebih dahulu mengajukan banding.

“Habib (Habib Rizieq Shihab) dan kawan-kawan sebenarnya sudah lelah dalam proses ini dan menerima dengan legowo vonis kemarin,” ujar Aziz saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa, dikutip Kompas.com dari Antara.

“Dalam proses mengajukan,” kata Aziz dikonfirmasi, Senin (31/5/2021). “Kita tetap berusaha sampai dapat vonis tidak bersalah dan bebas murni,” lanjutnya.

Pihak HRS mengajukan banding kemarin, Rabu (2/6-2021).

 

Bernafsu dengan Pasal-pasal Konyol

 

Pakar hukum tata negara Refly Harun mengatakan, langkah JPU di perkara tersebut terkesan hanya ingin memanjang-manjangkan persoalan.

“Terlihat betul JPU sangat bernafsu mengandangkan Habib Rizieq. Karena kenapa? Sebenarnya kalau kita melihat fakta-fakta persidangan, kebetulan saya menjadi ahli, baik di Megamendung, Petamburan maupun di RS ummi. Sesungguhnya kita tahu bahwa banyak fakta yang tak terbukti. Banyak fakta yang tidak bisa membuktikan tuntutan dari JPU,” kata Refly melalui unggahan video di akun youtube-nya, Senin (31/5/2021) malam, dikutip Sindonews

Refly Harun (tribunnews)

Refly menjelaskan, sebagai contoh, kasus penghasutan yang akhirnya majelis hakim tidak menggunakan Pasal 160 penghasutan tersebut. Demikian penggunaan pasal-pasal lainnya termasuk Undang-undang Organisasi Masyarakat atau Undang-undang Nomor 16 Tahun 2017, juga tidak digunakan hakim.

“Nah satu-satunya yang digunakan Pasal 93 Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Undang-undang ini kita sebut dengan pelanggaran protokol kesehatan (prokes) yang dalam sidang pun saya mengatakan unsurnya tak terpenuhi juga. Tentunya, rupanya hakim tentu tidak mau melalui JPU atau penegak hukum yang barangkali instrumen-instrumen kekuasan kehilangan muka. Kemudian tetap dihukum walaupun hukumannya ringan,” katanya.

Refly kemudian memandang, apabila JPU banding dengan perspektif bahwa Habib Rizieq telah melakukan kejahatan dalam protokol kesehatan. Maka sesungguhnya sangat aneh, sebab banyak pihak yang melakukan hal yang sama.

“Ya termasuk Presiden Jokowi misalnya, yang terbaru Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak. Dan banyak pihak lainnya termasuk menantu dan putra Presiden Jokowi sendiri yang disebutkan secara blak-blakan secara jelas oleh Habib Rizieq dalam pembelaanya (pledoi-pledoinya),” katanya.

Untuk itu, Refly menilai kasus Megamendung dan Petamburan seharusnya sudah selesai, sehingga energi JPU tidak dihabiskan untuk mengejar Habib Rizieq dengan pasal-pasal yang dinilainya sangat konyol.

“Saya sebenarnya berharap (selesai) ya dan ini ideal. Ya Habib Rizieq kalau pun dihukum ya dihukum dalam 8 bulan itu ideal. Setelah itu silakan dia mungkin bisa dibebaskan, tapi ya kita tahu JPU tidak bertindak mandiri ya. Mungkin dia bertindak atas perintah. Kita tidak tahu mudah-mudahan ujungny baik ya,” ujar pria asal Sumatera Selatan itu.*BNTime/Komp/Sinews

(Visited 30 times, 1 visits today)

Comments are closed.