Yang Diwajibkan Membayar Zakat Fitrah dan yang Berhak Menerimanya


[ A+ ] /[ A- ]

Perbesar huruf klik A+ di atas

“Ramadan adalah bulan istimewa, tak hanya diwajibkan berpuasa, umat Muslim juga diperintahkan membayar zakat fitrah.”

DISARIKAN oleh Oase.id dari Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili, Bidayatul Mujtahid wa Kifayatul Muqtashid karya Ibnu Rusyd, serta Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratil ‘Ain karya Syekh Zainuddin bin Abdil Aziz Al-Malibari, bahwa:

Jumhur ulama menyatakan, hukum zakat fitrah atau disebut juga zakat fitri adalah fardu (wajib) bagi orang-orang yang memenuhi syarat.

Lalu siapa saja yang wajib menunaikan ibadah yang diturunkan pada tahun kedua hijriyah ini?

Muslim 

Zakat fitrah diwajibkan bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, yang dewasa maupun anak-anak. Adapun non-muslim tidak dikenakan kewajiban membayar zakat fitri.

Merdeka 

Kewajiban mengeluarkan zakat fitrah diperuntukkan bagi umat Muslim yang merdeka. Seorang Muslim yang berstatus budak tak dibebankan membayar zakat, akan tetapi tuannya lah yang membayarkannya untuknya.

Mampu

Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Al-fiqh Al-Islamiy wa Adillatuh menuliskan, jumhur ulama mengartikan mampu di sini sebagai orang yang memiliki kelebihan harta untuk makanan dirinya, dan orang yang berada di bawah tanggungannya, selama 24 jam (siang dan malam hari raya). 

Maka orang yang memiliki kelebihan harta dari yang dibutuhkan untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang berada di bawah tanggungan nafkahnya, baik harta berupa rumah, pembantu, kendaraan, pakaian dan hajat pokok lainnya diwajibkan membayar zakat fitrah.

Orang yang diwajibkan berzakat fitrah untuk dirinya sendiri juga wajib membayarkan zakat untuk orang yang ada di bawah tanggungannya. Misalnya, seorang suami memiliki tanggungan zakat untuk dirinya sendiri, anak-anaknya, istrinya, juga pembantunya.

Seorang ayah punya tanggungan membayarkan zakat fitri untuk anaknya hingga sang anak balig. Bahkan Mazhab Maliki menyatakan, kewajiban mengeluarkan zakat untuk anak perempuan baru selesai setelah anaknya menikah.

Syekh Zainudin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menyatakan, anak yang kaya diwajibkan membayar zakat untuk dirinya sendiri. Akan tetapi jika ayahnya ingin membayarkan zakat untuknya, maka tetap diperbolehkan.

Selain itu, bayi yang dilahirkan di bulan Ramadan langsung dijatuhkan kewajiban zakat fitri. Begitu pula orang yang meninggal, apabila ia sempat memasuki bulan Ramadan sebelum wafat, maka keluarganya wajib membayarkannya untuknya.

Baca juga : Melongok Penyelenggaraan Zakat Fitrah di Masjid Darul Muttaqien Kota Pontianak

 

Yang Berhak Menerima Zakat 

Definisi zakat  menurut bahasa adalah ath-thathhiir (mesucikan) dan an-nammaa (tumbuh). Sebagaimana zakat lainnya, zakat fitrah atau zakat fitri diserahkan kepada para mustahik (orang-orang yang berhak menerimanya) sesuai ketentuan dalam QS. At-Taubah: 60

Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, orang yang berada di jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Berdasarkan ayat tersebut, maka orang-orang yang berhak menerima zakat fitri ada 8 kelompok, yaitu:

 

Orang fakir

Berdasarkan Mazhab Syafi’i dan Hanbali sebagaimana tercantum dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, orang fakir adalah yang tidak memiliki harta maupun pekerjaan. Ia tidak punya pasangan, anak, maupun orang tua yang bisa menafkahinya. Ia juga tidak mampu memenuhi kebutuhannya.

 

Orang miskin

Yaitu orang yang mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhannya, tapi belum bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan Mazhab Syafi’i dan Hanbali, orang miskin lebih baik keadaannya dari pada orang fakir.

 

Amil/pengurus zakat

Yaitu orang yang mengurus zakat, baik yang mengumpulkan, mendata, membagikan kepada mustahik, yang menjaga atau menyimpan harta zakatnya, dan lain sebagainya. Syaratnya, mereka harus adil dan mengerti fikih zakat.

Muallaf

Muallaf adalah sebutan bagi orang baru masuk Islam yang memiliki niat masih cenderung lemah. Ia berhak mendapatkan zakat demi menguatkan keislamannya.

Budak

Kebanyakan ulama menyatakan, budak yang dimaksud adalah budak mukatab, yakni yang melakukan perjanjian kebebasan dengan tuannya dengan cara membayar.

Syekh Wahbab Az-Zuhaili menyatakan, di masa kini sudah tidak ada lagi budak, karena perbudakan di seluruh dunia telah dihapuskan. Maka pemberian zakat pada kelompok ini pun turut terhapus.

Orang yang berutang (Gharim)

Yakni orang yang berutang baik untuk dirinya sendiri maupun untuk lainnya. Bagi orang yang berutang untuk dirinya sendiri, maka ia berhak mendapatkan zakat jika ia fakir.

Fii Sabilillah (Orang yang berada di jalan Allah)

Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid menyatakan, menurut Mazhab Maliki dan Hanafi, mereka adalah orang yang berperang dan berjihad di jalan Allah.

Imam Abu Hanifah menyatakan, orang yang berperang boleh diberikan zakat jika ia miskin.  Ada pula ulama yang menyatakan bahwa orang yang berhaji dan umrah termasuk fii sabilillah.

Ibnu Sabil/ Musafir

Yakni orang yang sedang berada di perjalanan dengan tujuan yang baik dan penuh ketaatan, bukan kemaksiatan.

Kemudian, si musafir mendapatkan kesulitan dalam mencapai tujuannya kecuali dengan mendapatkan pertolongan.

Musafir dengan keadaan seperti ini diperbolehkan menerima zakat. Meskipun di tempat asalnya ia adalah orang kaya.

Contoh perjalanan untuk ketaatan seperti haji, jihad, dan ziarah.  *BNTime

(Visited 21 times, 1 visits today)

Comments are closed.