Pontianak di Ujung Ramadan, Dijalani dari Awal di Bawah Ancaman yang Dikecam


Kerumunan pebelanja lebaran, dua hari jelang hari H 1442H di pasar rakyat Pasar Tengah, Pontianak
[ A+ ] /[ A- ]

Perbesar huruf klik A+ di atas

“Dua kali Ramadan pada 1441 H (2020 M) dan 1442 H (2021 M), dua kali umat Islam beribadah dalam gulungan kekhawatiran dan kecemasan terhadap apa yang disebut sebagai virus corona atau covid-19 yang mematikan. Berbagai trick pemerintah dikomunikasikan ke publik untuk menekan amuk sang corona di tanah air.”

TERKAIT hal tersebut, dalam pantauan khusus BNTime di Kalimantan Barat, rakyat sudah berani melawan, nyaris tak lagi percaya hal-ihwal adanya virus mematikan itu. Ditambah lagi pernyataan ahli pandemi dunia, termasuk pernyataan mantan Menteri Kesehatan RI Siti Fadilah, omong kosong menyelamatkan rakyat dengan vaksin sementara obatnya belum ditemukan. Berdasarkan pengalamannya ketika Menjabat Menkes dulu, Flu Brung dan atau Flu Babi bisa dihadapi dimuka dengan obat, bukan dengan vaksin.

Maka terpantau, Ramadan 1441 H merupakan Ramadan Ketakutan, sedangkan Ramadan 1442 saat ini merupakan Ramadan Keraguan, teka-teki apa yang sedang dimainkan dunia dengan kematian-kematian yang konon akibat Corona. Dibuktikan  dengan beberapa pemberitaan prihal kematian orang yang sehal wal afiat justeru setelah divaksin corona.

Di Kalbar, pernyataan Gubernur Sutarmidji yang mengingatkan jangan membuat kerumunan saat belanja makanan persiapan untuk takjil buka puasa, mendapat kecaman, karena sudah bersifat ancaman.

Kerumunan di tempat penjualan gorengan, Ramadan 1442 H.

Sutarmidji menyatakan akan memerintahkan Satpol PP untuk memblokir atau menutup kios-kios atau lapak-lapak penjual makan takjil berbuka puasa Ramadan, jika pemilik atau penjual tidak bisa mengatasi pengunjung atau pembeli.

Bahkan gubernur dijuluki kepo, dengan kata-kata asal semprot, belakangan akan membuat PNS menangis jika berani mudik, karena di beberapa titik sudah disiapkan ‘border-border kepung bakul’.

“Jangankan mau bikin menangis, sebenarnya sudah lama bapak buat kami menangis”, kata netisen mengomentari akun FB pribadi Sutarmidji-gubernur Kalbar.

Sejumlah warga berhasil lolos dengan berkayuh sampan atau menyewa speed boat malam-malam, mengarungi Sungai Kapuas balik kampung.

Bahkan Solihin dari Kabupaten Mempawah balik mengancam, ‘tunggu nanti di Pilkada 2024’, tulis komentar di akun FB pribadinya.

Tak kurang Sutarmidji mendapat sentilan dalam kuliah subuh di beberapa masjid swasta, agar bisa menahan diri dengan menjaga lisan, supaya tidak mengurangi pahala puasa, kalau puasa.

Padahal beberapa hari menjelang Ramadan 1442 H kini, Walikota Pontianak – Edi Rusdi Kamtono sudah menyampai peringatan secara elegan.

Edi mempersilakan masyarakat yang ingin berjualan jajanan percepatan buka puasa (takjil) Ramadan 1442 Hijriyah ini, dengan pesan tidak mengabaikan penerapan protokol kesehatan dan kebersihan, jaga jarak supaya tidak terjadi kontak langsung antara sesama pembeli yang antre dan atau dengan penjual dan pelayannya.

Edi Kamtono menyadari, lapak-lapak atau kios-kios jajanan takjil buka puasa yang ratusan banyaknya bertebaran di enam kecamatan yang ada di Kota Pontianak, merupakan kesempatan pemulihan ekonomi masyarakat yang terjepit Covit selama satu tahun lebih ini.

“Dengan demikian ekonomi rakyat tetap bergerak”, ujarnya. (*Baca: Marhaban ya Ramadan: Ini Pesan Walikota Pontianak buat Penjual Jajanan Buka Puasa

Sampai dengan sehari menjelang hari ‘H’ atau di ujung Ramadan 1442 H, kerumunan tetap terjadi di pasar-pasar tradionil, seperti di Pasar Sudirman / Nusa Indah, lebih-lebih di pasar rakyat yang dikenal dengan nama Pasar Tengah.

Di tempat-tempat penjualan jajanan pengantar buka puasa pun tak terkendali dari kerumunan pembeli.

“Sudah tidak zamannya orang yang mencari rezeki ditakut-takuti dengan ancaman– ancaman. Pasar rakyat dibatasi, masjid yang menjadi kuasa Tuhan dijarak-jarakkan, bahkan ada yang ditutup, sementara mal dan pasar-pasar swalayan (super market) dibiarkan bebas”, kata seorang penjual jajanan buka puasa di Kel.Sungai Jawi.

“Memang serba salah, macam buah simalakama. Gubernur (Sutarmidji) takut  ancaman penguasa di pusat kalau gagal dengan aturan Prokes yang ada, tak sedapnya dia (gubernur) malah balik mengancam rakyat. Jagalah lisan, supaya tak merusak ibadah puasa, kalau puasa….”, kata seorang ustadz pada bagian dakwah subuhnya di salah satu masjid di Pontianak di ujung Ramadan 1442 H ini.*BNTime

(Minal Aidin wal Faidin)

(Visited 33 times, 1 visits today)

Comments are closed.