DIB Minta Menkes Terawan Serius Beri Jalan Keluar Jangan Sampai Semua dokter dan Tenaga Kesehatan Hengkang atau Mati


[ A+ ] /[ A- ]

by: Ari / AKSIKATA

“Pak Terawan perlu segera cari jalan keluar, karena ada peningkatan kasus terbaru akibat kluster-kluster di perkantoran di Jabodetabek. Kami ngeri kalau gak ada jalan keluar, dokter dan tenaga kesehatan banyak yang sudah mau mundur,” kata dr. Eva Sri Diana, Ketua Umum DIB (dokter Indonesia Bersatu).”

EVA  juga meminta agar para dokter bersabar dan tetap bertahan, agar rumah sakit tidak kekurangan dokter di tengah wabah Covid yang kembali meningkat.

“Kalau bukan dokter dan semua tenaga kesehatan, siapa lagi yang akan melayani pasien di rumah sakit. Kalau para dokter mundur semua, kami yang di rumah sakit umum pasti akan semakin kelelahan dan jatuh sakit. Kematian hanya soal waktu saja,” tegasnya.

Tetap waspada

Eva mengatakan, saat ini masyarakat banyak yang sudah tidak peduli lagi dengan bahaya Covid. Mungkin karena desakan ekonomi dan kejenuhan. “Maka kita bisa lihat masyarakat sudah banyak di luar rumah, memacetkan jalan raya, bahkan tidak jarang mereka bebas berkeliaran di luar tanpa masker, seakan sudah lupa dengan wabah,” katanya.

Ia menjelaskan, bertemunya banyak orang menyebabkan wabah Covid-19 ini semakin tinggi angka kesakitannya dikarenakan mudahnya penyakit ini menular. Bahkan tidak perlu waktu berkali-kali atau waktu lama untuk terpapar.

“Akibat penularan yang mudah, masyarakat yang terpapar covid-19 makin tinggi. Maka angka pasien yang berobat terutama ke rumah sakit makin tinggi,” ujarnya.

Ia mengatakan pada ruang isolasi dan ICU hampir penuh semua pada dua rumah sakit tempat ia bekerja. Sehingga kebanyakan pasien terpaksa harus dirujuk.

Artikel terkait: Tugas Makin Berat Hadapi Covid-19, Masyarakat Banyak Tak Peduli, Pekerja Kesehatan Mulai Undur Diri

“Namun karena rumah sakit rujukan pun sudah banyak yang penuh, akibatnya pasien harus menunggu di ruang IGD kami sampai rumah sakit rujukan ada. Akibatnya tidak jarang meninggal juga karena terlambat dapat perawatan intensif,” katanya.

Menurutnya, jumlah pasien menjadi tinggi sehingga tidak lagi sebanding dengan jumlah dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang melayani. Ketidakseimbangan ini menyebabkan kelelahan pada tenaga kesehatan.

“Apalagi ini terus berlangsung berbulan-bulan, yang menyebabkan imunitas akan menurun sehingga tenaga kesehatan berpotensi mudah terinfeksi Covid-19 dan berujung kematian,” jelasnya.*BNTime/AKA

(Visited 19 times, 1 visits today)

Comments are closed.