Kritikan Tajam Habib Rizieq Jadi Kenyataan: New Normal terlalu Dini Jadi Kedunguan Baru, Kasus Corona Melonjak di RI


Kritikan Habib Rizieq faktanya benar terjadi
[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas utk perbesar huruf)

 

“Masih ingat kritikan  Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab terkait penerapan new normal? Ia mewanti-wanti, jangan sampai penerapan new normal itu sebatas memprioritaskan ekonomi dibanding kesehatan rakyat.”

 WAKTU itu, Rabu (27 Mei 2020), melalui Damai Hari Lubis – salah seorang pengacaranya di Jakarta, Habib Rizieq melontarkan kritikan kerasnya, jika itu terjadi, maka sama saja penerapan tersebut adalah kezaliman yang mengorbankan jutaan nyawa rakyat.

“Jika new normal adalah pembukaan mal mewah sebatas dengan andalkan jaga jarak dan penggunaan masker, maka new normal adalah bentuk kedunguan baru,” ucap Habib Rizieq Shihab.

Secara khusus, Habib Rizieq tidak ingin new normal yang didengungkan hanya untuk menyenangkan pengusaha besar. Seperti dengan pembukaan mal. Sementara pedagang kecil di pasar-pasar tradisional masih dilarang beroperasi.

“Jadi semestinya new normal itu kehidupan normal dengan memadukan norma agama dan aturan kesehatan, sehingga rohani dan jasmani menjadi kuat untuk mengatasi wabah,” paparnya.

Selamat Idul Adha 1441 H Mohon Maaf Lahir & Batin

Sementara itu, politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera melontarkan kritikan yang sama, mengeritik sikap pemerintah yang saat itu tengah menyiapkan kebijakan new normal di sejumlah daerah. Alasannya, kebijakan new normal bisa menjadi bencana besar karena dilakukan saat penyebaran virus masih tinggi.

Selamat Idul Adha 1441 H Mohon Maaf Lahir & Batin.

Masih di hari yang sama kala itu, Rabu (27 Mei 2020),  anggota Komisi XI DPR RI, Anis Byarwati mengatakan, new normal belum semestinya diberlakukan pemerintah saat ini, karena jumlah pertambahan kasus yang masih cukup tinggi. Rata-rata 400 kasus positif virus corona bertambah setiap hari. Bahkan pada tanggal 21 Mei lalu, terjadi peningkatan kasus positif corona sebanyak 973 orang.

Baca kembali selengkapnya: Habib  Rizieq: Penerapan New Normal Jangan Jadi Bentuk Kedunguan Baru

HARI ini, Kamis (23 Juli 2020) BNTime melansir CNBCIndonesia, “Orang RI Lebih Taat Jaga Jarak, Kok Kasus Corona Melonjak?”

CNBCI memberitakan, penyebaran virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) di Indonesia masih terjadi. Kurva kasus corona Tanah Air kian jauh dari kata melandai.

Per 22 Juli, jumlah pasien positif corona di Indonesia tercatat 91.751 orang. Bertambah 1.882 orang atau 2,09% dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Secara nominal, tambahan 1.882 orang pasien baru dalam sehari adalah yang terbanyak sejak 9 Juli. Sementara secara persentase, laju pertumbuhan 2,09% menjadi yang tercepat sejak 18 Juli.

Berdasarkan catatan Woridometer, Indonesia kini berada di peringkat 24 dunia dalam hal jumlah kasus corona. Sudah lumayan jauh di atas China di posisi ke-26 dengan jumlah pasien positif corona sebanyak 83.707 orang.

Sedangkan di level negara-negara anggota ASEAN, Indonesia masih menempati posisi teratas. Perbedaan dengan Filipina di posisi kedua cukup signifikan.

Padahal semua prosedur kesehatan dipatuhi, mulai dari cuci tangan, tes suhu tubuh, hingga jaga jarak. Tapi …….

Salah satu penyebab meluasnya penyebaran virus corona adalah masyarakat yang tidak disiplin menjaga jarak. Padahal menjaga jarak adalah salah satu kunci utama untuk mempersempit ruang gerak penyebaran virus corona, selain memakai masker dan menyuci tangan.

Untuk melihat kepatuhan masyarakat di suatu negara dalam menjaga jarak, indikator yang bisa digunakan adalah Social Distancing Index keluaran Citi. Angka Social Distancing Index yang semakin jauh dari nol menunjukkan masyarakat kian berjarak, taat protokol kesehatan.

Dalam kasus Indonesia, sebenarnya kesadaran warga 62 untuk menjaga jarak mengalami perbaikan. Per 17 Juli, skor Social Distancing Index Indonesia ada di -19 sedangkan sepekan sebelumnya adalah -18. Semakin jauh dari nol, artinya kepatuhan warga dalam menjaga jarak meningkat.

Lho, masyarakat Indonesia katanya lebih disiplin menjaga jarak? Kok kasus corona malah melonjak?

Pertama, pelaksanaan tes yang kian masif. Kini, Indonesia sudah melakukan uji corona terhadap 1.283.109 spesimen. Ini menjadi yang tertinggi di antara negara-negara ASEAN.

Ke depan, tes akan semakin digenjot mengingat Indonesia masih tertinggal dari negara-negara tetangga. Dengan populasi mencapai lebih dari 273 juta jiwa, baru 4.688 orang per 1 juta penduduk yang sudah diambil sampelnya. Angka ini masih jauh di bawah Singapura, Malaysia, bahkan Filipina.

Semakin banyak tes, maka akan semakin banyak pula kasus yang semula tidak terekspos menjadi muncul ke permukaan. Ini adalah hal yang baik, karena pengidap virus yang penyebarannya bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China ini bisa mendapatkan penanganan, apakah itu dengan dirawat di fasilitas kesehatan atau karantina mandiri jika tidak menunjukkan gejala.

Kedua, masyarakat Indonesia boleh lebih taat dalam menjaga jarak. Namun dalam hal menggunakan masker, kesadarannya masih kalah dengan negara-negara tetangga.

Berdasarkan survei YouGov, jumlah responden di Indonesia yang mengaku memakai masker saat berada di tempat umum adalah 85%. Lebih rendah ketimbang Singapura (90%) dan Malaysia (86%).

Ketiga, ada kecenderungan Indonesia agak terlalu cepat menerapkan kehidupan normal baru (new normal) usai berbulan-bulan #dirumahaja. Terlihat ada peningkatan jumlah manusia yang signifikan di luar rumah.

Misalnya di tempat kerja. Pada 14 April, jumlah orang di tempat kerja adalah 36% di bawah normal dan pada 17 Juli berubah menjadi 18% di bawah normal.

Bandingkan dengan Singapura. Pada 14 April, kepadatan manusia di tempat kerja tercatat 63% di bawah hari-hari biasa dan pada 17 Juli berubah menjadi 28%. Jumlah kehadiran karyawan lebih rendah ketimbang Indonesia, sehingga risiko penyebaran virus corona juga lebih kecil.

Belum lama ini, eks Juru Bicara Pemerintah untuk Penangnana Covid-19 Achmad Yurianto mengingatkan bahwa peningkatan kontak dan interaksi antar-manusia di perkantoran menjadi risiko terbesar penyebaran virus corona. Kemungkinan terjadi penumpukan jumlah orang dalam ruangan tertutup.

“Dalam seminggu terakhir, kasus konfirmasi positif lebih banyak kita yakini dari kontak tracing berasal dari aktivitas perkantoran, aktivitas yang biasanya dari rumah sekarang sudah di perkantoran. Batasi kapasitas ruang, sebagian bisa dilakukan di ruangan lain atau melalui daring, agar bisa memastikan ruang terbatas masih bisa memberikan kesempatan untuk menjaga jarak,” papar Yurianto.

Rekor Lagi! Satu Hari 139 Orang Meninggal di RI karena Corona

Rekor Lagi! Satu Hari 139 Orang Meninggal di RI karena Corona, tulis CNBCI, Rabu (22 Juli 2020), Indonesia kembali menyatat kenaikan kasus pasien positif virus corona baru penyebab Covid-19 di Indonesia. Hingga Selasa (21/7/2020), kasus konfirmasi positif Covid-19 bertambah 1.882 pasien sehingga totalnya menjadi 91.751 orang.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang diterima CNBC Indonesia, terdapat penambahan 1.789 pasien sembuh sehingga total menjadi 50.255 orang.

Adapun kasus kematian bertambah 139 orang sehingga totalnya 4.459 orang. Ini merupakan kasus kematian tertinggi dalam satu hari sejak penyakit mematikan ini mewabah di RI.

“Ada 469 kabupaten/kota di 34 Provinsi yang terdampak Covid-19. Adapun total suspect corona di RI menembus 44.222 orang”, tutup CNBCI.

New normal terlalu dini dilakukan oleh pemerintah Indonesia:

“Bisa jadi bencana besar”, kata Mardani.

“Belum waktunya,” ujar Anis Byarwati.

“Bisa jadi kedunguan baru”, kata Habib Rizieq dan faktanya benar demikian.

Jadi, apa yang salah dengan kritikan tajam Habib Rizieq Sihab, juga Mardani Ali Sera dan Anis Byarwati dari gedung wakil rakyat DPR-RI tersebut di awal artikel ini? *BNTimet/CNBCI

(Visited 11 times, 1 visits today)

Comments are closed.