“Melancong” ke Lingkungan Pengadilan di Pontianak dalam Situasi Virus Covid-19


[ A+ ] /[ A- ]

(Perbesar huruf, klik A+ di atas)

“Suasana sepi sangat terasa di tiga pengadilan negeri di Pontianak yang biasa ramai dikunjungi oleh orang-orang berkepentingan, seperti para pihak yang berperkara perdata atau pun mereka yang berurusan lainnya.”

DUA hari bolak-balik ‘melancong’ ke pengadilan negeri yang ada di ibukota Prov.Kalbar ini, terasa ada  sesuatu yang mencekam, suasana lain dari biasanya sangat terasa. Sepi dari suara berisik orang ramai (pengunjung) yang berurusan di gedung pencari keadilan tersebut.

 

Rabu, (1 April 2020) pagi, pintu pagar gedung Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Pontianak di Jalan Uray Bawadi tutup, mestinya ada acara dua kasus Tipikor diperiksa hari itu.

Bergerak ke gedung Pengadilan Negeri Pontianak di Jalan Sultan Syarif Abdurakhman, suasana terasa tenang karena sepi pengunjung. Halaman parkir yang biasanya dipadati kendaraan roda empat dan dua nampak lengang.

Di kantin pengadilan ini hanya nampak empat pengacara tengah santai ngopi, dan seorang panitera pengganti.

Sementara Waktu

“Nanti siang, kayak tele confrence,” celetuk salah seorang pengacara.

Siang, terlihat ada satu sidang Tipikor yang dialihkan ke gedung PN Pontianak ini. Persidangan diselenggarakan dengan sistem video confrence sesuai   instruksi Jaksa Agung Sanitiar (ST) Burhanuddin pada Selasa (24/3-2020), untuk mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19.

(Baca Artikel terkait: Di Tengah Pandemi Corona: 303 Kejari Sidangkan 1.509 Perkara Via Video Conference )

Perkara tersebut mengenai dakwaan Tipikor pengadaan alat-alat kesehatan dan kedokteran (Alkes) RSUD Kabupatan Sambas TA 2011. Jadi, kata Andry Hudaya Wijaya, advokat yang mendampingi terdakwa HM Amin Andika, JPU-nya tetap ada di sana, di Kejari Kabupaten Sambas, terdakwa tetap terisolasi di Lapas kota Pontianak, sedangkan di ruang sidang hanya majelis hakim bersama panitera pengganti dan PH (penasihat hukum).

 

Kursi tunggu pengunjung di PN Pontianak ditandai silang kuning sebagai pshycal distancing.

Kamis, (2 April 2020), sidang gugatan terhadap Dirut PDAM ‘Tirta Khatulistiwa’, dilangsungkan dengan menggelar keterangan seorang saksi dari Penggugat dan penambahan surat bukti dari Tergugat, di Pengadilan Tata Usaha Negara di Jl Achmad Yani II, Pontianak.

Majelis hakim bersama panitera pengganti  dan para pihak berperkara tampil di ruang sidang mengenakan masker, begitu pula beberapa pengnjung menutupi wajah dengan masker atau sejenisnya. Sementara di kantin, belakang gedung pengadilan ini, sepi dari biasanya.

Majelis Hakim PTUN Pontianak bermasker tgl 2-4-2020 (BNTime)

PTUN maupun pengadilan negeri semua tingkatan, menghentikan sementara lk. 2 (dua) pekan semua kegiatan perkara, dan kembali menggelar persidangan merujuk pada Surat Edaran Sekretaris Mahkamah Agung (SE Se-MA) No.1 Tahun 2020 tgl.17 Maret 2020 Tentang Penyesuaian Sistem Kerja Hakim dan Aparatur Peradilan Dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Lingkungan Mahkamah Agung dan Badan Peradilan Di Bawahnya.

(Baca Artikel terkait: Virus Corona Juga “mengoyak” Badan Peradilan, Perkara PDAM Pontianak Ditunda (Baca di sini: Surat Edaran SeMA)

 

Di tengah seramnya serangan virus Corona (Covid-19) ini, pemandangan tak biasa pun nampak menghiasi bagian depan gedung PN dan PTUN Pontianak, yaitu disediakannya wastafel dan sabun cair, cuci tangan sebelum masuk, jaga jarak, tak boleh bersalaman, dan wajib pakai masker, tanpa kecuali siapa pun. *BNTime

(Visited 28 times, 1 visits today)

Comments are closed.