Setelah Assalamualaikum Gagal Diobrak-abrik, Kini Otak Santri Mau Diobok-obok


Ilustrasi Sudut Pandang; Setelah Assalamualaikum Gagal Diobrak-abrik....
[ A+ ] /[ A- ]

Perbesar huruf, klik A+ di atas

Sudut pandang,

by; Effendy Asmara Zola / Pimred BNTime

Masih ingat ketika Kepala BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila), membuat pernyataan kontrovesial, bahwa agama musuh Pancasila? Ketika itu saya benar-benar terkesima dibuatnya.”

.

PAK Rektor UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta itu dilantik menjadi juru mudi BPIP langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di hari Rabu (5 Februari 2020) di Istana Negara.

Nah, di awal-awal masa jabatannyalah, baru sekejap duduk sudah membuat kegaduhan publik.  seakan sebagai salam perkenalan dari badan yang ditelurkan melalui sebuah Keputusan Presiden itu.

Klarifikasi adalah satu-satu senjata untuk membela diri, bukan begitu tapi begini, bukan begini tapi begitu. Begitu-begini klarifikasi ikhwal Agama musuh Pacasila tadi.

Padahal Boss BPIP ini diketahui punya seabreg gelar pendidikan tinggi dari dalam mau pun luar negeri dengan program pendidikan Ilmu Syariah, Prof Drs Yudian Wahyudi, MA Phd dan bergelar KH (Kiyai Haji) pula menurut catatan mbah Google. Namun tak mengurangi rasa terperanjat saya, terkesima dengan pernyataan ganjilnya.

Namun ketika masih belum dingin yang bukan begitu-begini dikecam di sana sini, eh muncul pula serial baru bak cerita silat Kho Ping Ho, BPIP memproklamirkan Salam Pancasila sebagai pengganti salam sakral Rasulullah, Assalamualaikum. Padahal pendidikan tinggi Pak KH adalah Program Studi Ilmu Syariah. Gaduh dan viral lagi.  (Baca beritanya  klik di sini )

Lalu terpikir di benak saya, setelah dua kali terantuk kegaduhan publik, apa lagi serial berikutnya?

Sementara itu, giliran Menag Fachrul Razi (ketika itu) yang meracau soal radikalisme, adanya  kelompok radikal menyusupkan pahamnya ke masjid-masjid. Tanpa dia merinci hasil penelitian apa, di mana dan bagaimana pembuktiannya.

Kelompok yang dimaksudkannya, adalah orang yang memiliki paham radikal dengan kemampuan keagamaan dan penampilan yang tampak mumpuni.

“Cara masuknya mereka gampang; pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan Bahasa Arabnya bagus, hafiz (hafal Alquran), mereka mulai masuk,” kata Fachrul dalam webinar bertajuk ‘Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara’, di kanal Youtube Kemenpan RB, Rabu (2/9-2020).

Kecurigaan tak beralasan yang diamini oleh akal dungu Denny Sibuzzer yang bikin kuping panas,  bahwa katanya, pesantren atau santri merupakan anak-anak didik calon teroris (baca beritanya, klik di sini)

Ketika Menteri Agama RI yang baru – Yaqut Cholil Quomas menggantikan Fachrul Razi yang cuma setahun menjabat, tak kalah seru dengan gebrakan pendahulunya membuat kegaduhan.

Gus Yaqut baru satu bulan menjabat sudah mencari-cari, entah apa yang dicarinya di mimbar luar.  Dia mengatakan tidak ingin agama dijadikan alat politik untuk menentang pemerintahan, dia pun bersepak terjang tidak menjadi penyejuk hati umat dari kegusaran yang disemburkan pendahulunya. Ya, tak ubahnya rakyat ini jadi ibarat takut hantu terpeluk kuntilanak (baca beritanya di sini).  

Kedua Badan berbeda legitimasi dalam tupoksinya itu, BPIP dan Kementerian Agama seakan saling berlomba membuat kegaduhan, bukan berlomba berbuat kebaikan – fastabikul khairat untuk kemaslahatan umat.

Sejak masa Menag Fachrul Razi hingga penerusnya, Yaqut Cholil, terus juga dengan spekulasi yang menuai kontroversi. Mengotak-kotakan antar ulama, yang pantas disertipikasi dan yang tidak, lalu paling anyar berani mengundurkan tahun kalender hijriah 1 Muharam 1443 yang lagi-lagi menuai kegaduhan.

Tak kurang BPIP juga coba  berspekulasi mengawal Agama Musuh Pancasila dengan mengobrak-abrik ucapan sakral Assalamualaikum dengan Salam Pancasila itu tadi.

Tak kapok kesandung pengalaman kontroversial akibat perbuatannya terdahulu,  kekinian BPIP membuat kegaduhan baru, bakal menyelenggarakan lomba menulis bagi para santri. Lomba menulis dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2021.

Bukan lombanya itu yang bikin gaduh, tapi temanya yang waduh!

‘Hormat Bendera Menurut Hukum Islam’ dan ‘Menyanyikan Lagu Kebangsaan Menurut Hukum Islam’.

Mengapa tidak lomba menulis misal dengan tema ‘Jihat Menurut Hukum Islam’ atau ‘Ekonomi Sariah Menurut Hukum Islam’ dan sebagainya, sehingga jelas apa pengertian jihat sebenarnya, apa pula ekonomi dalam prespektif Islam. Jadi mendidik bukan membenturkan.

Heran saja, para Boss suka sekali menabur benih permusuhan, membenturkan nasionalis dengan agama (Islam). Saya jadi teringat otak dungu Abu Dajjal yang mendadak ustadz, bahwa katanya Islam itu agama pendatang dan arogan. Abu Dajjal  pun masih kebal hukum, entahlah kebal Covid atau tidak.

Mengapa membuat kegaduhan lagi? Mengobok-obok konsep pemikiran santri yang secara tak langsung cuci otak dengan hal ikhwal bendera dan atau lagu kebangsaan menurut hukum Islam, setelah riuh-rendah mengobrak-abrik Assalamualaikum dengan Salam Pancasila.

Padahal, soal Hormat Bendera Menurut Hukum Islam maupun Menyanyikan Lagu Kebangsaan Menurut Hukum Islam, sudah terjawab nyata ketika Habib Bahar Smith sebagai pencari keadilan mencium bendera merah putih dan meneriakan NKRI harga mati. Jadi jangan mancing-mancing masalah dari atas kursi empuk.

Mancing ikan dapat udang biasa, tapi kalau mancing  masalah dapat masalah  tidak akan menyelesaikan masalah. Benang merahnya makin kusut, pergi saja antum ke Rumah Gadai yang dapat menyelesaikan masalah tanpa masalah.

Belajar sejarah nasional Boss. BPIP sendiri dibentuk, apa urgensinya jika pada setiap momen cuma menimbulkan kegaduhan? Merdeka !!!

(Pontianak, 17 Agustus 2021, 23.10 WIB)

(Visited 27 times, 1 visits today)

Comments are closed.