Bubur Asyura Riwayatmu Kini


Bubur Asyura Manis
[ A+ ] /[ A- ]

Perbesar huruf  klik A+ di atas

“Bulan Muharam merupakan bulan awal tahun baru bagi umat Islam,  disambut kedatangannya dengan pembacaan doa awal tahun setelah diantar dengan doa akhir tahun bagi tahun yang ditinggalkan. Doa-doa ini biasanya dibacakan di masjid-masjid atau di rumah-rumah penyelenggara secara berjamaah. Umumnya didahului dengan pembacaan suratul yasin dan tahlil, ba’da asyar, dilanjutkan buka puasa bersama.”

DI DALAM bulan Muharam ada hari spesial bagi umat Islam, yaitu tanggal 10 Muharam yang oleh umat Islam di sebagian wilayah di tanah air dirayakan atau diperingati dengan pembuatan Bubur Asyura.

Hal ikhwal adanya tradisi Bubur Asyura di tanah air, berkaitan erat dengan riwayat 3 (tiga) peristiwa bersejarah di zaman kenabian yang terjadi pada tanggal 10 Muharam.

Pertama, di tanggal hari itu Nabi Nuh dan para pengikutnya diselamatkan Allah dari banjir bandang dan keluar dari kapalnya di atas gunung Judi.

 Kedua, Nabi Musa dan Bani Israil diselamatkan Allah dari kejaran Fir’aun dan tentaranya yang  kesemuanya ditenggelamkan Allah di laut merah.

Ketiga, Husain cucu Nabi Muhammad SAW terbunuh dalam tragedi di Karbala oleh para penghianat Kuffah, di  bawah pasukan Yazid bin Mu’awiyah di tanggal 10 Muharram.

Berkaitan dengan 3 peristiwa bersejarah itulah umat Islam di dunia memperingatinya dengan tradisi masing-masing, tak terkecuali umat Islam Indonesia dengan suatu selamatan membaca doa Asyura dan berbagi Bubur Asyura dengan niat bersedekah sebagai tanda bersyukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmatNYA yang tak terhingga.

Diyakini, bersedekah di bulan Muharram lebih besar pahalanya dibandingkan dengan di hari-hari biasa, dikhususkan bersedekah kepada anak-anak yatim-piatu yang dikenal dengan istilah ‘memberi makan yatim piatu’.

Tanggal 10 Muharram dikenal sebagai hari istimewa bagi yatim dan piatu. Berbagai kegiatan dilakukan, baik langsung kepada yatim-piatu di kediaman masing-masing, maupun menyampaikan santunan uang atau sembako ke rumah-rumah atau melalui yayasan Yatim Piatu seperti yang dilakukan oleh sebuah partai Islam   di Pontianak, 10 Muharram 1443 H yl.

Bubur Asyura bukan sekadar merupakan makanan atau kuliner pendamping atau pelengkap dalam kegiatan memperingatan 10 Muharam, tapi juga merupakan sunnah Rasulullah SAW yang Insyaallah di bagian lain akan BNTime tuturkan riwayatnya.

Di Pontianak khususnya, dan di beberapa kota di antara 12 kabupaten yang ada di Kalimantan Barat, memperingati 10 Muharam dengan membuat Bubur Asyura, masih bisa ditemui.

Bubur Asyura merupakan kacang-kacangan yang direbus, seperti kacang hijau, kacang merah, jagung, ditambah racikan ubi rambat dan singkong, dan ditambah pengharum dan rasa durian seperti di Kalbar yang saat ini bertepatan dengan musim durian.

Bahan-bahan itu direbus atau dimasak santan, dan finisingnya biasanya dibumbui dengan gula aren sebagai pemanis rasa.

Di daerah lain seperti Jawa, Sumatra, Aceh, Riau, Jambi, dan lainnya, tradisi membuat Bubur Asyura masih dipertahankan untuk memeriahkan 10 Muharram. Meski pun ada perbedaan resep masakannya, misal ada yang membuat bubur merah-putih, atau bubur sop dan sebagainya, tapi bukan hal prinsip untuk dipersoalkan. Yang penting, inamal a’malu bi niat sebagai tanda syukur kepada Allah SWT dengan harapan, semoga di tahun yang baru lebih baik daripada tahun sebelumnya.

Sayangnya, tradisi Bubur Asyura sedikit demi sedikit mulai tergerus oleh globalisasi moderenisasi. Generasi muda menganggap tradisi ini sebagai budaya yang dibuat turun menurun begitu saja. Maka para pendahulu perlu menyosialisasikannya kepada generasi penerus, para ulama dan para ustadz perlu meriwayatkannya sebagai peninggalan peristiwa kenabian.

Hendaklah suatu tradisi atau budaya yang tidak bertautan dengan syirik dan musrik dipertahankan, dilestarikan sampai akhir zaman, tak lapuk di hujan tak lekang di panas. Karena adat budaya umat Islam itu bersendikan syara, syara bersendikan kitabullah. (Wassalam Habib Effendy Almutahar, Selamat Memperingati Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1443 H) ***BNTime 

 

 

(Visited 47 times, 1 visits today)

Comments are closed.