Astarfirullah, Menag Gus Yakut Meracau


[ A+ ] /[ A- ]

Perbesar huruf, klik A+ di atas

Kolom by, Effendy Asmara Zola

“Menjabat Menteri Agama RI sejak pelantikan bersama lima menteri lainnya, Rabu (23 Desember 2020) di Istana Negara, Yaqut Cholil Quomas sudah action sehari sebelumnya.”

KEPADA wartawan, Gus Yaqut – panggilan akrabnya, bikin kuping panas. Dia mengatakan tidak ingin agama dijadikan alat politik untuk menentang pemerintahan.

“”Yang pertama ingin saya lakukan adalah bagaimana menjadikan agama sebagai inspirasi bukan aspirasi”, ujarnya.

Pendahulunya, ketika masih Menag, 23 Oktober 2019 s/d 22 Desember 2020, Fachrul Razi  pernah bikin gaduh dengan aturan dan pernyataan-peryataan yang panas, berupa membuat suatu strategi  dengan mengkotak-kotakan hanya 200 ulama pilihan yang dinilai layak berpraktik dengan keilmuannya, ditandai dengan sertifikasi ulama.  Tapi nggak laku.

Fachrul Razi juga menyoroti pria pengguna celana cingkrang, perempuan bercadar, dan juga santri good lucking yang  dinilainya berpotensi radikalis, sehingga dapat membahayakan keamanan dan keselamatan bangsa.

Kekinian apa mau dikata, Gus Yakut tidaklah menjadi penyejuk hati umat dari kegusaran yang disemburkan pendahulunya. ‘Ulama’  dipertontonkan melanggar akidah,  berkhotbah di mimbar gereja. Qasidah dan tarian spiritual muslim tak pula diharamkan diperdendangkan di tengah acara kerohanian jemaat gereja.

Staf Ahli Kepresidenan yang tak pernah mengemuka keahliannya apa,  Ali Mochtar Ngabalin pun tak sungkan mengucapkan Selamat Natal  sembari mempersembahkan buah tangan berupa kue natal.

Makin jauh melangkah, akal sehat makin tersesat, ketika markas Kementerian Agama dihiasi pernak-pernik Imlek sebagai tanda penghormatan ikut merayakan Sincia.

Sadar tak sadar, di balik action sang Menag, si Aseng dan si Asing tepuk tangan; Horeee,  Lepublik Indonesia punya papa owe.

Sukalah mereka dan tambah berduyun masuk ke alam gemah ripah loh jinawe. Sementara umat Islam cuma bisa beristifar sambil mengurut dada.

Tapi Gus Yaqut berkelit, “Kementerian Agama adalah Kementerian Semua Agama, bukan Kementerian Agama Islam,”  Astarfirullahal adzim, yang bilang seperti itu siapa dan kapan ? Yang pasti, republik ini dihuni mayoritas umat Islam.

Namun bukan mustahil, bila suatu ketika ratusan pegawai Kementerian Agama diinstruksikan memakai topi sinterklas pada jam kerja demi toleransi yang acak-acakan.

Awal  melangkah, Gus Yaqut sudah meracau bikin kacau.

Pada Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Senin (25 Januari 2021) Pak Menag Yaqut Cholil berbicara tentang moderasi beragama.

Yaqut mengutip dan menjelaskan sebuah ayat dalam Injil, bahwa ayat Injil Matius 22 ayat 37-40 bersifat   universal: “Cintai Tuhanmu dengan hatimu dan dengan segenap pikiranmu. Ini adalah hukum pertama dan terpenting. Dan segenap perintah kedua, yang sama dengan itu, adalah ini: Cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri. Pada dua hukum ini, tergantung pada semua hukum dan kitab para Nabi.”

Setelah mengutip Injil Matius, Yaqut mengatakan pentingnya beragama dan tidak dilandasi oleh keyakinan yang buta.

Bagaikan seekor katak berlagak lembu, dengan berani dan tanpa ragu, Yaqut membandingkan ayat-ayat Injil itu dengan hukum atau fiqih Islam yang tidak dapat menyesuaikan dengan perkembangan saat ini.  Bahwa fiqih menurut akal sesatnya, harus disesuaikan dengan perkembangan zaman.

“Fiqih dalam Islam dibuat atau dihimpun pada era ortodoksi agama yang sangat jauh pada Abad Pertengahan. Tentunya ketika membuat konstruksi hukum, fuqaha, ahli fiqih merumuskan, menerjemahkan dari keadaan yang ada, ” kata Yaqut.

Yaqut mengatakan fiqih yang ada saat ini sebagian besar disusun pada abad pertengahan.

“Sehingga tidak mengherankan jika dalam agama saya, dalam Islam masih banyak hukum agama itu sebenarnya tidak sesuai dengan situasi saat ini, ” kata Yaqut. Sekali lagi Bung, Astarfirullahal adzim.

Wahai Pak Menag, apa yang kau cari sebenarnya? Anda anggap melandasi Fiqih Islam merupakan keyakinan buta, mata hatimulah yang buta karena banyak kemunkaran yang kau diamkan. Kau munkari pula hukum Islam agamamu sendiri,

Nyata, Anda  menilai berpegang pada Fiqih Islam sebagai ‘keyakinan buta’.

Menaq Yakut Cholil terus berdalil buta, membawa masalah demi masalah tanpa merasa bersalah, melangkah dengan gaya langkah Abu Nawas. Paling anyar, ketika dia melemparkan benang kusut ke ruang publik.

Dia meracau memberikan  ucapan Selamat Hari Raya Naw-Ruz 178 EB untuk komunitas Baha’i  yang menuai kontroversi. Pakai ucapan salam muslim pula.

“Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua. Kepada saudaraku masyarakat Baha’i di mana pun berada, saya mengucapkan selamat merayakan hari raya Naw-Ruz 178 EB,” kata Gus Yaqut viral di kanal YouTube Baha’i Indonesia  (26 Maret 2021).

Dalam sambutannya, Gus Yaqut mengajak komunitas Baha’i untuk memperkuat persatuan dan kesatuan.

Ia juga mengajak agar mereka menjunjung nilai moderasi beragama. Lho, kok bicarain moderasi beragama pada orang yang beragama tidak jelas?

Pointnya di ‘moderasi’ itu. Apa yang Anda khawatirkan Bung?

Apik-apik saja kok arus bawah selama ini. Kebebasan beragama yang berlandaskan konstitusi, KeTuhanan yang Maha Esa di sila pertama Pancasila, dengan 6 agama yang vinal diakui, tidak ada masalah kok, rukun-rukun saja. Kita dari tempo doeloe sepakat kok, Lakum dinukum waliadin; agamamu punyamu, agamaku punyaku. Di situ berlaku uhuah Insaniah dan uhuah Islamiah. Habluminnallah wa hablumi nannas.

Di mana masalahnya Gus?

Ketika dikritisi, Yaqut Cholil berkelit, menyebut keberadaan Baha’i yang berkembang di Desa Ringipitu, Kedungweru, Tulungagung, Jawa Timur itu sesuai konstitusi.

Sesuai konstitusi yang mana di luar yang 6 agama itu? Untuk menikah saja, mereka (Baha’i) tidak mau berurusan dengan  Kantor Urusan Agama (KUA), yang nota bene di bawah naungan Kementerian Agama yang memberikan ucapan Selamat Ulang Tahun. Mereka menikah dengan cara mereka sendiri sesama komonitas dengan mengeluarkan surat nikah sendiri. Hebatnya pula  di dalam identitas diri mereka (KTP) minta disebutkan Agama Baha’i.

Berbagai penyimpangan mereka lakukan, seperti tidak wajib salat berjamaah yang cuma mereka ajarkan cukup 9 rakaat, dibagi dalam 3 waktu sehari, 3 kali sehari. Bahkan semula cukup sekali dalam sehari. Ada pula ibadah puasa mereka yang beda,  puasa 19 hari saja.

Penyimpangan yang tak kalah parah adalah mereka punya arah kiblat sendiri, tidak menghadap ke arah Ka’bah, melainkan ke arah Gunung Caramel di Israel. Gus Yakut lebih tahu dimana Israel dan lokasi Gunung Karamel itu.

Inikah Mereka ? Baha’i yang sujud dalam arah berbeda (twitter)

Tak heran jika ucapan selamat Hari Raya Naw-Ruz 178 EB dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas kepada umat Baha’i, memantik reaksi banyak pihak. Tak ketinggalan WasekjenPA-212 Novel Bamukmin pun ikut buka suara dan memberi kecaman keras atas pernyataan Yaqut.

 Novel bahkan meminta Presiden Joko Widodo memecat menteri agama itu karena dinilai bikin gaduh terus.

Baca : PA 212 sebut Menag Gus Yaqut Mirip Megawati, Selalu Bikin Gaduh dan Memecah Belah Bangsa

Saya prihatin, jika seorang pemimpin ibarat pemburu yang berburu di padang datar mendapat rusa belang kaki. Berguru kepalang ajar bagaikan bunga kembang tak jadi.

Last but not least, Baha’i bukan Islam! Tapi Sinkretisme yangmereka olah secara acak dari bermacam pemahaman menjadi keyakinan buta yang dalam  konteks ini mereka praktikan  seolah bagian dari Islam.

Kalaulah Menag Yaqut Cholil hendak ‘berdakwah’ soal ‘moderasi beragama’, tempat yang tepat untuk penyampaiannya adalah melalui Forum Lintas Agama, bukan pada pemahaman atau keyakinan buta penganutnya. yang kiblatnya ke mana-mana.

Kita risau, kita galau,  di tengah cobaan Allah SWT pula, pandemi Covid-19. Apakah banyak kemunkaran, kegaduhan di sana-sini kini, ketakutan dan kelaparan, sebagai salah satu tanda akhir zaman (kiamat), diangkatnya pemimpin bodoh dan atau yang dibodohkan setelah lebih dari 600 ulama kita wafat dan atau dikriminalisasi dalam tiga tahun terakhir?

Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash berkata: “Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT menghapuskan ilmu agama tidak dengan cara mencabutnya secara langsung dari hati umat manusia. Tetapi Allah akan menghapuskan ilmu agama dengan mewafatkan para ulama, hingga tidak ada seorang ulama pun yang akan tersisa. Kemudian mereka akan mengangkat para pemimpin yang bodoh. Apabila mereka, para pemimpin bodoh itu dimintai fatwa, maka mereka akan berfatwa tanpa berlandaskan ilmu hingga mereka tersesat dan menyesatkan.” (HR Muslim). *BNTime 

(Selamat merayakan Tahun Baru Islam 1443H, terus berjihat melawan segala bentuk kemunkaran.)

Pontianak, 1 Muharam 1443H / 10 Agustus 2021M, Selasa 21.45 WIB)

Editor: Penulis Wartawan Senior / Pimred BNTime

(Visited 39 times, 1 visits today)

Comments are closed.