Haul Sultan Qadriyah Kota Pontianak, Habib Iskandar Alqadri: Manusia Terbagi dalam Dua Level


[ A+ ] /[ A- ]

Perbesar Huruf Klik A+ di atas

.

“Sultan Qadriyah IX Kota Pontianak, Syarif Machmud Melvin Alqadri memperingati haul empat tahun wafat ayahandanya, Sultan Syarif Abubakar Alqadri bin Syarif Machmud Alqadri bin Sultan Muhammad Alqadri yang wafat pada hari Jumat (3 Rajab 1438 H) bertepatan dengan 31 Maret 2017, jam 04.10 WIB dalam usia 73 tahun.”

 .

PADA acara yang diselenggarakan bertempat di Istana Qadriyah, Pontianak Timur, ba’da Isya, Rabu 31 Maret 2021 itu, sekaligus haul Sultan Syarif Abdul Hamid Alqadrie bin Sultan Muhammad Alqadri yang dikenal sebagai Sultan Hamid II pencipta Lambang Negara, Garuda Pancasila, wafat di Jakarta pada 30 Maret 1978 dalam usia 65 tahun.

Jadi, kata Sultan Melvin dalam kata sambutannya, hari wafat antara ayahandanya, Sultan Syarif Abubakar dengan Sultan Hamid II, dalam penanggalan kalender hanya berselang satu hari. Seri Maulana Sultan Syarif Abubakar Alqadrie wafat di tanggal 31 Maret, Sultan Hamid II yang jid atau kakek Sultan Melvin wafat di tanggal 30 Maret.

Dalam kata sambutannya, Sultan Syarif Machmud Melvin Alqadrie yang alumnus Fakultas Hukum UPB (Universitas Panca Bhakti) itu, menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan moril cukup besar sejak sakit hingga wafat abah (ayah) hingga ke pemakaman keluarga Kesultanan Qadriyah di Kelurahan Batu Layang, Pontianak Utara,

“Tak terasa, sudah empat tahun berlalu wafatnya ayahanda Sri Maulana Sultan Syarif Abubakar Alqadrie,” tutup Sultan Melvin dalam sambutan singkatnya.

Haul yang dihadiri ratusan undangan itu dirangkai dengan peringatan Isra Mi’raj, dihadiri oleh para habaib, alim ulama, tokoh-tokoh masyarakat serta beberapa Ormas, sementara dari Prokopimda Prov.Kalbar dan Kota Pontianak hanya dihadiri wakil masing-masing.

Sebelum acara haul dimulai, dibacakan manaqib allahyarham Sultan Hamid II oleh salah satu Pangeran – Syarif Hasan Basri Alqadri, dan Syarif  Muhammad Fasya (Febri) Alkadri gelar Pangeran Mas Perdana Agung, adik kandung Sultan Melvin membacakan manaqib ayahanda mereka, allahyarham Sultan Syarif Abubakar Alkadri.

Dua Level Manusia

.

Terkait Is’Mi’raj yang dirangkaikan dengan acara hal tersebut, Habib Iskandar Alqadri Dalam dakwah singkatnya mengatakan antara lain, bahwa Islam mengenal dua level kehidupan manusia. Dalam hal ini, yakni manusia yang sadar selagi masih hidup, dan yang baru sadar setelah tidak hidup lagi alias sudah mati. Hidup sia-sia.

Salah satu untuk disadari itu,  mengikuti atau menghayati penuh kesadaran apa yang diperjuangkan oleh Nabi Muhammad dalam perjalanan Isra Mi’rajnya ketika menghadap Allah SWT. Apa yang diperjuangkan adalah salat lima waktu yang wajib dikerjakan oleh umatnya.

Antrean tamu berpamitan dengan Sultan

“Jangan subuh alasan masih ngantuk, untuk zuhur masih kerja, ashar sibuk, magrib capek, malamnya untuk isya alasannya mau istirahat, akhirnya tidak salat-salat,” ujar Habib Iskandar.

Oleh karena itu, Habib Iskandar mengingatkan untuk sadar, salat tepat pada waktunya, karena salat 5 juga mengajarkan kita untuk disiplin, dalam hal ini disiplin waktu. Belum lagi salat-salat sunah lainnya.

“Jangan baru sadar kalau sudah mati,” ujarnya.

Habib Iskandar juga menyinggung malam Nisfu Syaban beberapa hari lalu. Di malam yang merupakan malam pengampunan oleh Allah SWT itu, tidak semua umat Muhammad memperoleh pengampunan. Hanya muslimin dan muslimah yang telah memberikan safaat atau yang dalam kehidupannya perbuatannya bermanfaat bagi orang banyak.

Habib Iskandar memberi contoh pada allahyarham Sultan Syarif Abubakar Alqadri dan allahyarham Sultan Hamid II meneruskan cita-cita leluhurnya, allahyarham Sultan Syarif Abdurakhman Alkadri yang mendirikan Kota Pontianak pada 1771 M, sehingga berkembang seperti sekarang.

Baca juga : Habib Zubair Alaydrus: Memahami Makna Malam Nisfu Sya’ban

Usai menyampaikan dakwahnya, Habib Iskandar Alqadri memimpin acara pokok memcacakan tahlil, sementara doa tahlil disampaikan oleh Habib Fahmi Almutahar.

Gelaran haul seperti yang sudah-sudah di Istana Qadriyah, diakhiri dengan makan malam bersama dalam adat-istiadat Melayu, makan berseprah.*BNTime

(Visited 30 times, 1 visits today)

Comments are closed.