Bincang-bincang dengan Pak Rakhmat Patah Tulang asal Sampang, Madura


[ A+ ] /[ A- ]

Perbesar huruf klik A+ di atas

“Bagi yang pernah bekeperluan, tentu wajah ini tak asing lagi. Rakhmat namanya, atau lebih dikenal dengan nama panggilannya sehari-hari Pak Amat. Lebih populer lagi, Pak Amat Patah Tulang.”

KERIPUT sudah nyaris merata diwajahnya, logat Maduranya tetap melekat jika dia berbicara, meski pun sudah sekitar 70 tahun menjadi warga Kota Pontianak.

Menurut ceritanya, dia masuk ke ibukota Provinsi Kalimantan Barat ini pada tahun 1952, masih dalam suasana pengantin baru, karena baru 5 bulan menikah. Isterinya ia boyong serta dari kampung halamannya, Sampang, Madura.

Punya anak yang masih ada hingga sekarang  2 orang, 4 meninggal waktu masih kecil-kecil.

Ia mengaku usianya kini sudah lebih dari 80 tahun. Tapi masih nampak fress, walau pun jalannya sudah sedikit bungkuk. Alhamdulillah, kata kakek murah senyum ini, sekarang sudah punya cicit 17, cucu 7, dari satu-satunya isteri yang kini telah tiada.

Menurutnya, sudah pernah pulang kampung 7 kali, dan tetap kembali lagi ke Pontianak sebagai warga kota ini.

Orang yang mengenalnya, biasa menyebut nama warga Jalan Selat Panjang, Desa Parit Ganduk, Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara ini, dengan nama populernya; Pak Amat Patah Tulang.

Apakah karena kondisi pisiknya cacat atau ada yang patah tulangnya? Tidak demikian, tak lain karena kiprahnya selama puluhan tahun, piawai memulihkan orang yang patah tulang atau keseleo.

Beberapa tahun silam, BNTime pernah menyaksikan, seorang wanita patah pergelangan kakinya terjatuh dari sepedamotor akibat tabrak lari oleh penjambret. Beberapa kali dibawa ke dokter spesialis tulang sampai mesti digips balut beberapa hari, untuk kemudian dioperasi guna dimasukan pens ke pergelangan kakinya.

Ketika Pak Rakhmat dimintai pertolongan, seketika itu juga gips balut di kaki yang bersangkutan disuruh buka.

“Kalau terus begitu (digips berhari-hari), nanti kaki sampeyan bisa kecil sebelah,” ujarnya.

Pak Rakhmat lantas minta disedikan semacam obat gosok dalam kemasan kalengan, habta seharga Rp.30 ribu.

Setelah dia menggosokan obat gosok kental yang disediakan, pasiennya menjerit nyaring kesakitan tatkala Pak Rakhmat menarik atau memutar pergelangan kaki yang patah.

“Sudah, nanti dua kali lagi saya datang, sampeyan sudah lari-lari,” katanya. Dia mengobati dua hari sekali.

Benar saja, di kali ketiga mengusapkan obat gosok, yang bersangkutan sudah lancar berjalan, dibuktikan dengan disuruhnya lari-lari.

Demikian pula ketika seorang bocah perempuan yang tengah belajar naik sepeda, terjatuh dan terpulas ke depan siku mulai dari siku tangannya. Jeritan kesakitan, hanya terdengar pada kali pertama diobati, karena tangan yang terpulas dipulas balik. Setelah itu pulih kembali dalam tiga kali ditangani, dua hari sekali.

Hanya dalam kasus berat butuh waktu lama untuk memulihkannya. Seperti pada peristiwa kebakaran sebuah kapal kayu antar kota, Pontianak – Pehuluan beberapa waktu lalu. Tulang punggung korban sudah tak karuan, ada yang terkeluar menembus daging dan kulit. Sekarang sudah pulih seperti tidak pernah terjadi peristiwa apa pun.

Warisan dari Kakek

Ditanya belajar atau menuntut ilmu pengobatan patah tulang dengan siapa, Pak Rakhmat menjawab tidak pernah belajar. Dia Cuma menyebut warisan dari kakeknya.

Ditanya, ayat apa (dari Qur’an) yang dibaca waktu mengobati orang patah tulang, Pak Rakhmat menjawab tidak ada yang dibaca-baca atau mantera.

Menurut cerita Pak Rakhmat, ketika dirinya masih kecil di Madura, sering dibawa kakeknya ke tempat orang yang minta bantuan karena patah tulang atau terkilir. Jadi Pak Rakhmat cuma melihat saja.

“Jadi warisan dari kakeklah,” ujarnya, Ahad (4 April 2021) di rumah salah satu warga yang perlu pertolongannya.

Lantas, mengenai sejenis obat gosok yang dipakai sebagai media pengobatannya, Pak Rakhmat menerangkan, cuma syarat saja. Pakai tangan kosong pun bisa.

Dulu, cerita Pak Rakhmat, kakeknya cuma pakai kapur sirih yang dipoleskan dengan tanda silang pada posisi tulang yang patah.

“Kalau jaman sekarang pakai kapur sirih, kan kelihatannya tak masuk akal. Nanti saya dikira ngolok-ngolok”, katanya sambil tertawa.

Memang, apa yang sempat dilihat BNTime, sepertinya tak ada mantera yang dibaca Pak Rakhmat dalam pengobatannya, karena dia pun sambil ngobrol dengan pasiennya.

Kemana-kemana Pak Rakhmat dibonceng sepedamotor oleh salah satu cucunya, biasa juga dengan Gojek. Tak jarang juga orang datang sendiri menemui di rumanya.

Buat mereka yang butuh pertolongan, baik orang dalam kota maupun yang ada di luar daerah, inilah nomor HP Pak Rakhmat yang bisa dihubungi ada pada cucunya, 081522654561.

Pak Rakhmat tidak menentukan tarif dalam praktinya, dan keistimewaan kiprahnya, dia tidak menggunakan arak gosok beralkohol sebagaimana yang biasa dipraktikan para sinsang atau sinse. Cukup mengawali praktiknya dengan ucapan Bismilah.

Sukses ya, Pak Rakhmat. Semoga panjang umur dan sehat walafiat selalu, bermanfaat bagi orang banyak. Aamiin ! *BNTime

(Visited 48 times, 1 visits today)

Comments are closed.