Satu diantara Tiga Polisi Terduga Penembak Laskar FPI Dikabarkan Meninggal karena Kecelakaan, Begini Penjelasannya :


Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono (foto:detikcom)
[ A+ ] /[ A- ]

Perbesar huruf, klik A+ di atas

Satu dari tiga anggota Polda Metro Jaya yang menjadi terlapor kasus tindak pidana ‘ulawful killing’ terhadap Laskar FPI telah meninggal dunia karena mengalami kecelakaan.”

KEPALA Divisi Humas Polri Irjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono membenarkan kabar tersebut. “Iya betul,” jawab Argo saat dikonfirmasi lewat pesan instant whatsapp, Kamis (25/3-2021), dikutip BNTime dari kabar24

Saat dikonfirmasi lebih lanjut perihal kecelakaan apa yang dialaminya dan kapan kecelakaan itu terjadi, Argo belum menjawabnya.

Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto saat dikonfirmasi awak media mengatakan satu dari tiga anggota polisi yang berstatus terlapor dalam kasus ‘unlawful killing’ telah meninggal dunia.

Menurut Agus, informasi meninggalnya terlapor ‘unlawful killing’ tersebut diperoleh saat gelar perkara. “Informasi yang saya terima saat gelar salah satu terduga pelaku meninggal dunia karena kecelakaan,” kata Agus pula.

Agus tidak menjelaskan lebih lanjut soal informasi kecelakaan yang dialami anggota Polri berstatus terlapor perkara ‘unlawful killing’ tersebut. “Silakan dikonfirmasi kepada penyidik atau Polda Metro Jaya ya,” kata Agus lagi.

Penjelasan yang tidak jelas dari pihak Polri tersebut menimbulkan keraguan atau tanda tanya dari kalangan netizen yang menyalin beritanya dari media online. “meninggal nih ye? kok baru tau?” tulis 081257xxxxxx di salah satu grup WA.

 

Begini Penjelasan Selengkapnya

.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono, sehari kemudian dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jumat (26/3-2021) memberikan keterangan resmi.

Bahwa salah seorang anggota polisi beritial EPZ yang diduga menembak Laskar Front Pembela Islam (LPI) dalam kasus ‘KM 50’, meninggal dunia karena kecelakaan tunggal pada 3 Januari 2021.

“Untuk diinformasikan, satu terlapor atas nama EPZ itu telah meninggal dunia dikarenakan kasus kecelakaan tunggal motor Scoopy, yaitu terjadi pada 3 Januari 2021 sekitar pukul 23.45 WIB,” ujar Rusdi Hartono, dilansir detik.com.

“TKP dari kecelakaan tunggal tersebut di jalan Bukit Jaya, Kecamatan Setu Kota, Tangsel. Kemudian pada tanggal 4 Januari 2021, sekitar pukul 12.55 WIB, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia,” lanjutnya.

Berdasarkan akte kematian yang ditunjukkan Rusdi, polisi yang meninggal itu bernama Elwira Priyadi Zendrato. Dia meninggal 1 hari setelah mengalami kecelakaan tunggal.

Rusdi memastikan proses penyidikan masih berjalan. Menurutnya, Bareskrim bakal menyelesaikan kasus dugaan unlawful killing terhadap 4 laskar FPI itu secara profesional.

“Tentunya proses penyidikan masih berjalan dan penyidik Bareskrim Polri akan tuntaskan LP0132 secara profesional, transparan, dan akuntabel,” tandas Rusdi.

Tiga anggota Polda Metro Jaya menjadi terlapor dalam kasus pelanggaran HAM ‘unlawful killing’ terhadap empat anggota Laskar FPI di Km 50 Tol Cikampek.

Polri telah menaikkan status perkara ‘unlawful killing’ dari penyelidikan ke penyidikan pada Rabu (10/3/2021). Sejak dinaikkan statusnya, tiga anggota Polda Metro Jaya masih jadi terlapor kasus pembunuhan dan penganiayaan 4 laskar Front Pembela Islam (FPI) yang terjadi pada 6-7 Desember 2020 di Km 50 Tol Jakarta-Cikampek.

Ketiga anggota Polda Metro Jaya tersebut telah dibebastugaskan untuk keperluan penyidikan. Ketiganya dikenakan Pasal 338 juncto Pasal 351 KUHP tentang pembunuhan dan penganiayaan.

Komnas HAM pada 8 Januari 2021 telah melaporkan hasil penyelidikan terhadap kematian 6 orang laskar FPI yang berawal dari pembuntutan terhadap Rizieq Shihab pada 6-7 Desember 2020. Saat itu, anggota Polri mengikuti rombongan tokoh FPI itu bersama para pengawalnya dalam sembilan kendaraan roda empat bergerak dari Sentul ke Karawang.

Hasil investigasi Komnas HAM menyimpulkan, bahwa insiden penembakan enam laskar merupakan pelanggaran HAM.  Menurut anggota Komnas HAM Mohammad Choirul Anam, penembakan enam laskar merupakan ‘unlawful killing’, sebab dilakukan tanpa upaya menghindari jatuhnya korban oleh aparat kepolisian.*BNTime/k-24/dtc

(Visited 45 times, 1 visits today)

Comments are closed.