PELAKOR dalam Presfektif Islam


[ A+ ] /[ A- ]

Perbesar huruf, klik A+ di atas

“Diskusi kami kali ini lain daripada yang lain, menyangkut hal ihwal Pelakor dan Pebinor. Kedua istilah ini tak akan Anda temui di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sekali pun. Sama halnya dengan taysennya, Pebinor. Pelakor merupakan singkatan dari perebut laki orang, dan Pebinor diartikan perebut bini orang.”

 MENDADAK berceloteh hal-ihwal tak berfaedah begituan? Tergantung dari sudut pandang masing-masing orang. Kalau kajiannya pada aqidah Islam, apa masih berani menyebut diskusi kami kali ini cuma begini begitu tak menentu.

Namanya juga diskusi warung kopi, apa pun bisa ramai dan menarik untuk diperdebatkan antar sesama orang-orang  penyuka kopi. Mau bicara politik, semua pintar mengotak-atiknya. Ekonomi, bakalan ramai bak cacing keremi. Hakim, ada yang bilang Hubungi Aku Kalau Ingin Menang, sampai ngomongin KUHP yang diartikan Kasi Uang Habis Perkara.

Serba komplit dan kompleks yang ada di Warkop alias warung kopi, begini – begitu, sepertinya memang tak bermutu jika dibandingkan dengan diskusi sekelas komisi parpol di kursi empuk di ruang pendingin.

Sahabat semeja sepengopian tercengang, karena melihat saya mempercincangkan hal tak lazim mendadak. Apa yang tidak serba mendadak di negeri ini? Orang bisa mendadak ditangkap, mendadak miras lebih waras ketimbang harga beras, mendadak benci produk luar negeri, mendadak akhlak dan budaya lebih tinggi kedudukannya daripada agama, mendadak dipecat,  mendadak jadi ketua, mendadak jadi ustadz kayak Abu Janda, dan dadakan-dadakan lainnya yang mencengangkan. Tak kalah mengejutkan, mendadak umara dan umaya raib dari tafsir Qur’an – berubah  menjadi sahabat dan teman.

Tak ada catatan khusus asal-muasal atau historis kapan mulai adanya istilah Pelakor dan Pebinor yang menjadi pokok soal diskusi kropos kami kali ini. Kedua kata tersebut tahu-tahu populer di tengah masyarakat, khususnya di kalangan pengguna media sosial yang akrab disebut netizen atau warga net itu.

Ringkasnya, Pelakor atau Pebinor merupakan pihak ketiga yang tidak dikendaki atau diharamkan keberadaannya di tengah-tengah dua pihak rukun, suami isteri. Pelakor atau Pebinor ditamsilkan sebagai perusak keharmonisan rumah tangga orang lain. Apa pun dalihnya, hal ini sangat diharamkan dalam aqidah Islam dan besar azabnya.

Sangat nista perbuatan seorang Pelakor, sebagai pihak ketiga  yang mendudukan diri menguasai laki atau suami orang lain sebagai PIL (pria idaman lain). Begitu pula sebaliknya bagi Pebinor yang menurut istilah ustadz Abdusomad disebut Senior alias Senang Bini Orang.

Bukan tak beralasan saya mengajak para sahabat berdiskusi, kendati hanya di pojokan sebuah warung kopi:

Dikutip dari jatimnu.or.id,tiba-tiba jagat maya dihebohkan dengan berita salah seorang artis terkenal yang terlibat perselingkuhan baru-baru ini. Kalau artis ‘biasa’ mungkin sebagian kalangan akan sedikit ‘mafhum’. Tapi yang mengejutkan sekaligus memprihatinkan, sang artis adalah pelantun lagu islami.

Bagaimana Islam memandang perempuan perebut laki orang atau yang dikenal sebagai Pelakor? Demikian pula bagaimana laki-laki yang mengganggu, bahkan menyebabkan kerusakan rumah tangga orang lain?

Agama mengatur sedemikian rupa kehidupan dan etika rumah tangga. Oleh karena itu agama Islam memandang penting keharmonisan pasangan suami istri dalam membangun iklim rumah tangga yang kondusif bagi tercapainya tujuan rumah tangga itu sendiri, yakni kebahagiaan.

Oleh karena itu Rasulullah SAW melarang keras seseorang untuk mengganggu keharmonisan rumah tangga orang lain sebagaimana sabdanya pada kutipan berikut ini:

 

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِها أو عَبْدًا عَلَى سَيِّدِ

 

Artinya: Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Bukan bagian dari kami, orang yang menipu seorang perempuan atas suaminya atau seorang budak atas tuannya. (HR Abu Dawud).

Pada hadits ini, agama Islam jelas menilai buruk aktivitas tipu daya yang dilakukan seorang lelaki untuk menjauhkan seorang perempuan dari suaminya. Agama mengecam keras pelbagai upaya riil seseorang sekalipun dengan cara memperdaya seorang perempuan dalam rangka merusak hubungan rumah tangganya dengan sang suami.

Kecaman agama ini tidak hanya menyasar lelaki sebagai pihak ketiga dalam rumah tangga. Agama juga mengecam keras perempuan yang melakukan upaya-upaya serupa dalam rangka merebut hati suami orang lain.

Berikut penggalan kutipan dari muslim.or.id, bahwa merusak rumah tangga orang lain merupakan dosa besar, menyebabkan rumah tangga pasangan muslim menjadi hancur dan tercerai-berai.

Perlu diketahui bahwa prestasi terbesar bagi Iblis adalah merusak rumah tangga seorang muslim dan berujung dengan perceraian, sehingga hal perbuatan si Pelakor atau Pebinor termasuk membantu menyukseskan program Iblis, karena perceraian sangat disukai Iblis.

Dengan uraian singkat bak pendakwah tersebut, saya lihat lima orang sahabat dalam diskusi warung kopi  kali ini mengangguk-angguk bak burung belatuk, entah khusuk entah mengantuk. Ada juga yang menarik nafas dalam-dalam entah faham entah tidak, wallahualam.

Namun salah seorang lainnya nyeletuk bertanya, mungkin bercanda.

“Apa bedanya atau samakah antara Pelakor dengan Senator?” tanyanya.

Karena merasa baru kali pertama mendengar istilah itu, saya balik bertanya, “apa pula senator itu?”

“Senang Partai Orang,” jawabnya sambil tertawa.

“Husy ! Jangan unggah persepsi, sudah ada yang ngurus itu. Nanti antum mendadak kena pasal yang tak tentu pasal !” sergah saya sambilj berdiri pertanda diskusi bubar. *BNTime

(Pontianak, 27 Rajab 1442H / 14 Maret 2021M: Selamat Memperingati Isra’ Mi’raj. Semoga Berkah, Aamiin)

(Visited 27 times, 1 visits today)

Comments are closed.