Laporkan Bang Din ‘Radikal’, Kelompok Orang Pintar Alumni ITB Dikecam Banyak Tokoh


Din Syamsudin (ist)
[ A+ ] /[ A- ]

Perbesar huruf, klik A+ di atas

“Tranding topic  mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin yang tiba-tiba dilaporkan dengan issu radikal, masih tetap ramai jadi perbincangan. Pelapornya bukan sembarangan, Gerakan Anti Radikalisme (GAR) Alumni ITB.”

GAR melaporkan Bang Din – panggilan akrab Din Syamsudin, ke Komisi Aparatur Sipil Negara ( KASN) dan Badan Kepegawaian Negara ( BKN). Intinya, Bang Din dilaporkan orang-orang pintar di GAR berprilaku radikal, melanggar prinsip-prinsip kepegawaian, konfrontatif terhadap kebijakan pemerintah.

Apa benar Prof Dr Din Syamsudin “bentrok” dengan pemerintahan Jokowi dengan pandangan atau peryataan-pernyataan sikapnya yang dinilai konfrontatif?

Adalah Fadli Zon, boleh dibilang sebagai orang atau pihak yang kali pertama menanggapi tudingan atau tuduhan GAR tersebut.

Politisi partai Gerindra yang mengaku sudah kenal lama dengan Din Syansudin sejak 1990 dan mengetahui sepak terjang Bang Din yang mendunia, dan yang mengenalkannya dengan Prabowo Subianto, menyimpulkan kalau Bang Din bukanlah orang yang radikal.

Olehkarena itu, menurutnya, orang yang sudah membuat pernyataan tersebut masih sangat lemah literasinya.

Radikal? Kasihan yang menuduhnya karena terlalu terbatas pengetahuannya,” kata Fadli Zon kepada pikiranrakyat.

Fadli Zon – Rizal Ramli

Sementara itu ekonom Rizal Ramli beranggapan yang menuduh Din radikal dan melaporkannya ke KASN terlalu ‘cupet’ pikirannya.

“ITB kampus yg menghasilan tokoh2, pemikir2 besar, engineer2 hebat. Soekarno, Habibie, Rooseno, Sutami dll. Eh ternyata sebagian kecil alumninya berfikiran cupet, terlalu banyak gaul dgn intel, jadi organ surveilance swasta, tokoh2 yg dicap ‘ekstrimis’,” cuit @RamliRizal seraya menautkan link berita media online tentang pelaporan Din ke KASN.

Selain itu cendekiawan muslim yang juga mantan rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra, pelaporan tersebut absurd dan tidak masuk akal. Jika kelompok yang mengatasnamakan Gerakan Anti Radikalisme Alumni ITB (GAR ITB) yang melaporkan Din Syamsuddin kepada KASN sebagai radikal, anti-Pancasila dan anti-NKRI, jelas mengada-ada.

“Prof Din adalah salah satu guru besar terkemuka UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dia memberikan banyak kontribusi bukan hanya pada UIN Jakarta, tapi juga Muhammadiyah dan negara-bangsa  Indonesia dengan menyosialisasikan pentingnya dialog dan perdamaian untuk membangun peradaban dunia yang lebih adil,” katanya, Jumat (12/2-2021).

Selain itu, Din sebagai Utusan Khusus Presiden (Jokowi) untuk Dialog dan Kerjasama antar-Peradaban bersama dirinya, merupakan pihak yang melaksanakan Konsultasi Tingkat Tinggi (2019) di Bogor untuk konsolidasi dan penyebaran Wasathiyah Islam.

“Dengan Wasathiyah Islam yang menjadi karakter Islam Indonesia ke dunia global, Islam dapat terwujud sebagai rahmatan lil ‘alamin—Islam yang damai yang kontributif untuk kemajuan peradaban,” tuturnya.

Begitu pula Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) menyinggung soal pelaporan Din Syamsuddin oleh Gerakan Anti Radikalisme (GAR) Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB).

Hidayat Nur Wahid /net

Dalam cuitannya di Twitter, HNW mengatakan, bahwa Komisi Aparatur Sipil (ASN) bila membahas soal kasus dugaan radikalisme tentu paham, bila yang diadukan adalah seorang Din Syamsuddin. Dia merupakan tokoh nasional dan internasional yang moderat dan anti-radikalisme.

“KASN Bila Bahas Kasus Dugaan Radikalisme, Tentu Paham, Yg Diadukan Adalah Prof Dien Syamsudin Yg 2 Periode Jadi Ketum PP Muhammadiyah, Chairman World Peace Forum & CDCC,Honorary President WCRP. Beliau Tokoh Nasional & Internasional yg Moderat & Anti Radikalisme,” ujarnya melalui akun @hnurwahid, Rabu (10/2-2021).

Tak luput Baitul Muslim Indonesia (Bamusi) yang merupakan organisasi sayap PDI Perjuangan juga tak terima atas tuduhan Din Syamsuddin tokoh radikal.

Ditegaskan oleh Ketua PP Bamusi – M Sukron, bahwa pelaporan kepada tokoh Islam Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA ke KASN oleh GAR ITB atas tuduhan islam radikal merupakan tindakan yang berlebihan dan ahistoris. Disampaikan melalui rilisnya ke Republika.co.id, Sabtu (13/2-2021).

Bukan hanya itu, lanjutnya, bagi Bamusi tuduhan itu juga berimbas kepada organisasinya. Sebab, jika Din dituduh sebagai penganut Islam radikal, itu artinya juga menuduh Baitul Muslimin Indonesia sebagai penganut faham islam radikal juga. Karena Prof Dr Din Syamsuddin, MA adalah tokoh dan pendiri Baitul Muslimin Indonesia bersama dengan almarhum Taufiq Kiemas. Bahkan sampai saat ini pun beliau masih tercatat sebagai anggota dewan pembina Baitul Muslimin Indonesia.

“Bahkan, fotonya pun masih terpampang nyata di kantor PP Baitul Muslimin Indonesia,” kata  M Sukron menandaskan.

Masih banyak tokoh lain yang mengecam tindakan ceroboh GAR ITB tersebut.

Menarik, tokoh Mahasiswa Kristen yang juga mantan Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Korneles Galanjinjinay menyesalkan langkah Gerakan Antiradikalisme Institut Teknologi Bandung (GAR ITB) yang menuduh Profesor Din Syamsuddin sebagai kelompok radikal.

Tokoh Mahasiswa Kristen Korneles Galanjijinay (jpnn)

Menurut Korneles, pelapor yang berasal dari lembaga akademis seharusnya memiliki analisa yang dalam jika menempatkan simbol kelompok radikal kepada seorang tokoh bangsa sekelas Prof Din Syamsuddin. “Tindakan ini sangat keji dan fitnah,” tegas Kornelis kepada wartawan, Minggu (14/2), dikutip dari jpnn

Lebih lanjut, Korneles menilai langkah GAR ITB mengada-ada dan sangat merugikan dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

“Tuduhan ini mencoreng nama baik tokoh bangsa yang selama ini banyak diterima semua golongan di negara kita baik golongan muslim dan nonmuslim. Saya harap hal ini bisa dipertanggungjawabkan,” tegas Korneles. Menurut Kornelis, Prof. Din Syamsuddin adalah tokoh yang menjunjung tinggi pluralisme.

Kalangan Muhammadiyah memang dibuat geleng-geleng kepala oleh laporan konyol GAR ITB tersebut. Ketua Hukum dan HAM PP Pemuda Muhammadiyah Razikin menegaskan bahwa tuduhan radikal terhadap Din Syamsuddin merupakan hal yang mengada-ada.

Razikin mengatakan tuduhan tersebut dapat membuat kader Muhammadiyah tersinggung, bahkan hingga memicu kemarahan.

“Langkah kelompok GAR ITB itu dapat memicu kemarahan warga Muhammadiyah secara keseluruhan. Menuduh Pak Din sebagai tokoh radikal sama dengan membuat ketersinggungan dan kemarahan kami warga kader Muhammadiyah,” kata Razikin seperti dikutip dari situs resmi Muhammadiyah, Sabtu (13/2/2021).

Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Najih Prastyo menegaskan, bahwa Prof Din Syamsuddin secara konsisten meneguhkan Islam dan Pancasila sebagai satu kesatuan yang utuh.

“Hal ini dapat terlihat dari gagasan beliau Negara Pancasila, Darul Ahdy wa Syahadah. Itulah komitmen keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan apabila sering ada kritikan yang dilontarkan mantan pimpinan Muhammadiyah itu kepada pemerintah, hal itu bertujuan untuk memajukan Indonesia.

Dikecam banyak tokoh sedemikian rupa, akankah GAR Alumni ITB menarik laporannya dan minta maaf? **BNTime/Komp/Oke/WE/JPNN/ K24 (re-edit)

(Visited 14 times, 1 visits today)

Comments are closed.