Abu Janda sebut Islam di Indonesia Arogan sebagai Agama Pendatang dari Arab, Tengku Zul: Ngeri Melihat Betapa kini Ulama dan Islam Dihina di NKRI


Karikatur Abu Janda dan Keledai.
[ A+ ] /[ A- ]

Perbesar huruf klik A+ di atas

“Ariya Permadi alias Abu Janda bikin gara-gara lagi. Si Abu yang oleh warga net dijuluki Abu Dajjal atau juga Abu Dangkal, kali ini membuat pelecehan dengan menyoal perbuatan mudarat setara syirik merupakan arogansi Agama Islam yang disebutnya sebagai agama pendatang dari Arab.”

PERNAH dijuluki warga net sebagai Abu Dangkal, karena dikuliti habis-habisan oleh Felix Siaw di acara talk show ILC TVOne beberapa waktu lalu terkait bendera tauhid. Dari situ diketahui betapa dangkal otaknya, sehingga dijuluki  Abu Dangkal.

“Nyanyian” dungu yang sering dilansinya di media sosial akun pribadinya, berputar sekitar menydutkan ulama atau ustadz,  memproklamirkan kedunguan pribadinya.

Kali ini si buzzer yang pernah mendadak mengaku diri sebagai ustadz , lagi-lagi ngoceh. Dia coba menarik opini publik dengan  menyudutkan Islam di Indonesia arogan yang dikaitkannya dengan kearifan lokal – menanggapi  twit Ustadz Tengku Zulkarnain soal arogansi mayoritas dan minoritas.

Berikut, melansir gelora.co dari pojoksatu.id, Abu Janda menyebut yang arogan di Indonesia itu agama Islam kepada buadaya asli kearifan loka

“Yang arogan di Indonesia itu adalah islam sebagai agama pendatang dari Arab kepada budaya asli kearifan lokal. haram-haramkan ritual sedekah laut, sampe kebaya diharamkan dengan alasan aurat,” kata Permadi Arya membalas cuitan @ustadtengkuzul.

Abu Janda membagikan tangkapan layar berita berjudul “Tradisi Sedekah di Laut Bantul Dibubarkan, Warga: Mereka Bilang Syirik”.

Ia juga membagikan foto spanduk bertuliskan “Pemutaran Wayang Kulit Bukan Syariat Islam”.

Menurut Abu Janda, larangan pemutaran wayang kulit merupakan bentuk arogansi Islam terhadap kearifan lokal.

“Ritual tradisi asli dibubarin alasan syirik, pake kebaya dibilang murtad, wayang kulit diharamin.. dan masih banyak lagi upaya penggerusan pemusnahan budaya lokal dengan alasan syariat.. kurang bukti apalagi islam memang arogan terhadap kearifan lokal?,” cetus Abu Janda melalui akun Twitter pribadinya, @permadiaktivis1, Senin (25/1-2021).

 

Sebelumnya, mantan Wakil Sekretaris Jenderal MUI, Ustadz Tengku Zulkarnain menanggapi ‘pemaksaan’ pemakaian hijab kepada siswi non muslim di SMKN 2 Padang, Sumatera Barat.

“Awalnya ditekankan non muslimah TIDAK BOLEH DIPAKSA Pakai Kerudung. Ujungnya Berkerudung adalah himbauan bukan kewajiban. Ujungnya karena himbauan maka muslimah pun boleh TIDAK BERKERUDUNG, karena jika dipaksa akan melanggar HAM. Hemm, Ruwet. Waspada Islam Diporoti,” tulisnya.

Tengku Zul membandingkan kasus pemakaian jilbab pada siswi non muslim di Padang dengan kasus pembunuhan 6 laskar FPI di Tol Cikampek.

“Kasus Pembunuhan 6 Lasykar Diputuskan sebagai bukan Pelanggaran HAM. Eh, Giliran Kasus Jilbab di Sumatera Barat KPAI menyatakan itu Kasus Pelanggaran HAM. Apa tidak bingung semua…? Bagaimana prof @mohmahfudmd?”…bingung bingung aku bingung cereret,” cuitnya.

Menurut Tengku Zul, yang perlu diperiksa oleh Mendiknas adalah apakah masih ada sekolah Kristen yang mewajibkan siswa siswi mereka yang non Kristen untuk belajar agama Kristen di sekolah seperti di tahun 1980an dulu. Itu harus dicek benar karena melanggar UU Pendidikan pasal 12a.

Ustadz Tengku Zul lantas mengungkit soal arogansi mayoritas dan minoritas di sebuah negara.

“Dulu minoritas arogan terhadap mayoritas di Afrika Selatan selama ratusan tahun, Apertheid. Akhirnya tumbang juga. Di mana mana negara normal tdk boleh mayoritas arogan terhadap minoritas. Apalagi jika yg arogan minoritas,” katanya.

Ustadz Tengku Zul mengaku ngeri melihat ulama dan Islam dihina di Negara Kesatuan Repubik Indonesia (NKRI).

“Ngeri melihat betapa kini Ulama dan Islam dihina di NKRI,” tandas Tengku Zulkarnain.* BNTime/Gnews

 

 

 

(Visited 52 times, 1 visits today)

Comments are closed.