Ketika Machfud Tak Lagi Menjadi Penjaga Garis


[ A+ ] /[ A- ]

 

 

“Sumpah! Dulu saya kagum pada Machfud MD – mantan Ketua MK (Mahkamah Konstitusi), kekaguman tanpa paksaan. Bagaimana tidak, betapa pun dia sesepuh kami di sebuah organisasi Islam kemahsiswaan. Tapi itu dulu, dulu sekali.”

KETIKA Machfud masih penjaga garis yang mengawasi bola out atau offside. Tiupan peluitnya pasti, tak bisa diganggu gugat oleh konfirmasi wasit.

Namun ketika Machmud berubah status masuk lingkaran lapangan menjadi pemain tak bernomor punggung sekaligus wasit,  sikap dan pandangan sang sesepuh kontan rapuh. Ucapannya tak bisa lagi dijadikan pegangan. Dipegang panas, tapi kalau tak dipegang dia makin ganas.

Kepastian hukum antara bukti materil dan formil boleh jadi di dalam kata hatinya sekarang “emang gua pikirin?”, jadi asal cuap. Yang penting Boss Kesebelasan senang, peduli setan score lebih piawai dimainkan ketimbang memainkan bolanya.

Diantara beberapa soal yang lagi viral jadi persoalan adalah rencana kepulangan Imam Besar FPI – Habib Rizieq Shihab dijadikan bola panas oleh Machfud MD yang kini sudah jadi pemain sekaligus wasit itu, Menkopolhukam.

Di berbagai jenis Medsos dan pemberitaan, Pak Menkopolhukam yang mestinya elegan – paling tidak dalam ucapan,  malah nyinyir seakan benar sendiri. Jangan salahkan warga net jadi genit mencet abjad dari ‘a’ sampai ‘z’  melesat di  keyboard.

Tak kurang tokoh masyarakat Tionghoa – Lieus Sungkharisma. merasa perlu ikut angkat suara.Menurutnya kepulangan Habib Rizieq setelah 3,5 tahun lebih berada di pengungsian adalah langkah besar bagi pembangunan politik Indonesia di masa datang.

 “Ini merupakan langkah yang positif bagi Indonesia dalam upaya membangun kehidupan kenegaraan yang kondusif,” ujar Lieus Sungkharisma yang juga koordinator Forum Rakyat ini kepada redaksi Rmol, Kamis (5/11-2020).

“Oleh karena itu, saya menyarankan agar Presiden Jokowi menyambut kepulangan Habib Rizieq dengan membentangkan karpet merah dan memberinya ruang yang luas untuk memimpin revolusi akhlak di negeri ini,” ujarnya.

Terlepas dari apapun masalah yang selama ini menimpa Habib Rizieq hingga ia mengasingkan diri ke Saudi Arabia, Lieus menilai kepulangan Habib Rizieq ke Indonesia adalah berkah yang harus disyukuri oleh pemerintah Indonesia.

“Sebab, apapun cerita buruk yang dihubung-hubungkan dengan Habib Rizieq selama ini, faktanya Habib Rizieq adalah salah satu putra terbaik Indonesia yang sudah seharusnya dihargai sebagai asset bangsa,” tegasnya.

Tapi apa yang terjadi? Kalangan Istana malahan makin kepanasan seperti cacing kena abu. Apa sih yang ditakuti atau dikhawatirkan dengan akan pulangnya Habib Rizieq ke tanah air, mulai dari pelarangan nyanyian anak PAUD/TK “Tepuk Anak Soleh” sampai Good Looking Hafiz Qur’an?

Bak kehabisan modal cuap, Mahfud menyebut Habib Rizieq pulang karena akan dideportasi oleh pemerintah Arab Saudi akibat overstay. Sementara pihak pemerintah Arab Saudi menyebut soal Habib Rizieq dari awal clean and clear.

 

Mantan penasihat hukum Habib Rizieq yang sudah menyeberang ke kesebelasan lawan  menjadi Politisi PDIP – Kapitra Ampera, justeru bisa bersikap elegan. Dia menjewer Machfud MD.  “Sebenarnya tidak penting Habib Rizieq pulang karena akan dideportasi ataupun bukan,” ujarnya kepada pers.

“Bagi saya sih, enggak penting dia pulangnya dideportasi, apakah tidak overstay, mana penting itu. Kalau dia pulang, yang penting sejuk, aman, tertib, bisa menjadi stabilisator untuk kerukunan dan keguyuban nasional,” katanya. Kita acung jempol untuk hal yang satu ini ke Kapitra.

Dia menilai bahwa bangsa ini telalu lama terjebak dalam lubang konflik yang tidak berujung. Karena itu, diperlukan jiwa besar bagi semua pihak untuk menciptakan kerukunan besar dalam Republik Indonesia ini.

“Mahfud itu ngomong begitu (untuk) opo sih? Apa ruginya negara dia dideportasi atau tidak overstay, apa ruginya? Kan enggak ada kerugian negara. Kenapa sih Mahfud kok jadi baperan begitu. Jadi sentimental begitu. Ini kemungkinan  Machfud sentimen atau sentimental,” tuturnya.

Itulah sebabmya, terkait rencana kepulangan Habib Rizieq, Lieus meminta Presiden Jokowi untuk mengingatkan para pembantunya agar tidak lagi mengeluarkan pernyataan yang justru semakin memperkeruh suasana.

“Negara ini tidak bisa dibiarkan kisruh terus oleh statemen-statemen pejabatnya yang asal bicara. Negeri ini butuh membangun. Tapi pembangunan hanya bisa dijalankan dengan baik kalau situasi sosial politik negara berjalan kondusif,” katanya.

Lieus sendiri memastikan akan memberi dukungan penuh pada langkah-langkah positif Presiden Jokowi dalam menyambut kepulangan Habib Rizieq tersebut.

“Presiden Jokowi harus menjadikan kepulangan Imam Besar FPI dengan jutaan pengikut ini sebagai langkah awal rekonsiliasi untuk kebaikan bangsa,” kata Lieus yang berjanji akan datang untuk ikut menyambut kepulangan Habib Rizieq di bandara.

Sementara Habib Rizieq Shihab telah siap menyepak balik bola panas  yang ditendang Machfud MD, karena Machfud bukan lagi penjaga garis. Habib Rizieq  siap menuntut siapa pun yang telah menuding rencana kepulangannya ke tanah air karena diusir oleh pemerintah Arab Saudi, karena fitnah overstay. Ya, Machfud mesti membuktikan, mempertanggungjawabkan ucapannya secara hukum, apalagi dia orang hukum – ahli hukum, jangan seperti Pak Ogah dalam cerita bocah si Unyil, “katanya…. katanya……”. What Next ?*** (Pontianak, Sabtu 0701120 – 14.00WIB).

*Penulis Pimred BNTime

(Visited 17 times, 1 visits today)

Comments are closed.