Dewan Muslim Prancis Angkat Bicara! Berikan Jawaban Ini atas Pidato Kontroversial Emmanuel Macron


Mohammed Moussaoui Presiden Dewan Kepercayaan Muslim Prancis / MaxPPP/Vincent/Isore/jurnalpresisi
[ A+ ] /[ A- ]

 

Emmanuel Macron selaku Presiden Prancis baru-baru ini membuat sebuah pernyataan yang sangat kontroversial dalam pidatonya.”

PRESIDEN Macron menyebut bahwa karikatur Nabi Muhammad adalah suatu bentuk kebebasan dan sah-sah saja dilakukan di negara Prancis.

Tidak hanya itu, Ia juga mengeritik dan menyebut agama Islam sebagai agama ‘yang sedang dilanda krisis’.

Pernyataan kontroversial terkait kartun Nabi Muhammad dan ujaran soal Islam trsebut akhirynya berbuntut panjang.

Pemimpin negara Islam di seluruh dunia mengutuk keras pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron, termasuk Indonesia, Pakistan, Malaysia, Arab Saudi dan Iran.

Belum lama ini, Dewan Kepercayaan Muslim Prancis menanggapi soal ramainya problem pernyataan Macron itu.

Dalam wawancara ekslusifnya dengan France Info, Mohammed Moussaoui, presiden Dewan Kepercayaan Muslim Prancis, mengatakan bahwa sindirian yang bersifat ofensif dan membawa suatu kepercayaan perlu dibatasi.

Pada kesempatan yang sama, ia mengatakan bahwa ia sendiri tak bisa menerima bentuk pembunuhan yang disebabkan karena polemik kartun itu. Sebagai gantinya, Moussaoui memberi saran untuk menghentikan publikasi kartun Nabi Muhammad.

“Saya rasa ini bukan cara yang tepat untuk menjelaskan kebebasan berekspresi kepada anak-anak,” kata Moussaoui dalam wawancara dengan France Info pada 27 Oktober 2020 lalu seperti dikutip KabarJoglosemar.com dari New York Times.

“Kewajiban persaudaraan memaksa semua orang untuk melepaskan beberapa hak,” lanjutnya.

Ia pun memberikan saran agar Prancis mau “melepaskan beberapa hak” tidak tepat.

“Jika kebebasan berekspresi memberikan hak untuk menjadi satir atau humoris, kita dapat memahami bahwa kartun yang menempatkan seorang nabi yang sangat penting bagi jutaan orang percaya dalam postur yang menjurus dan merendahkan tidak dapat termasuk dalam hak ini,” tambah dia.

Artikel ini telah tayang sebelumnya di Kabar Joglo Semar dengan judul : “Apa Kata Dewan Kepercayaan Muslim soal Polemik Kartun Nabi Muhammad? Ini Jawabannya”

Seperti yang banyak diketahui, pada awal Oktober lalu, Emmanuel Macron berpidato soal Melawan separatisme – Republik beraksi. Di situ, ia menyinggung salah satunya soal publikasi kartun.

Masih pada bulan yang sama, setelah kematian Paty, seorang guru sejarah yang dibunuh setelah menunjukkan kartun nabi di kelasnya, semakin memperjelas dukungan terhadap kebebasan berekspresi.

Hal itu diungkapkan lewat beberapa postingan di akun Twitter miliknya. Profesor yang dimaksud Macron di postingannya itu diduga merujuk pada Paty.

“Kami akan terus bertahan, profesor. Kami akan terus berjuang untuk kebebasan, kamu telah jadi wajah perjuangan mempertahankan republik,” kata Macron lewat unggahannya di Twitter pada 22 Oktober 2020.

Yang terbaru, dalam wawancara ekslusif bersama Al Jazeera, ia mengatakan bahwa dirinya paham betul banyak sentimen yang ditujukan pada Prancis. Namun ia menyatakan diri tak bisa melepaskan kebebasan bereskpresi tersebut.

“Saya memahami sentimen yang diungkapkan dan saya menghormati mereka. Tapi Anda harus memahami peran saya sekarang, untuk melakukan dua hal: mempromosikan ketenangan dan juga melindungi hak-hak ini,” kata Macron dalam wawancara ekslusifnya dengan Al Jazeera pada Sabtu, 31 Oktober 2020.

“Saya akan selalu membela di negara saya kebebasan untuk berbicara, menulis, berpikir, menggambar,” tambahnya. *BNTime/jurpres

 

(Visited 13 times, 1 visits today)

Comments are closed.