Indonesia Kini Seperti Sepasang Sandal Jepit yang Bolong-bolong


[ A+ ] /[ A- ]

 

“Saya yakin Anda pernah melihat sandal jepit usang yang banyak bolongnya, dan koyak  menipis di bagian tumitnya karena daya tekan tumit lebih kuat. Sandal yang bolong kalau dipakai membuat langkah terseok-seok, tak dipakai masih juga disayang-sayang. Tertinggal di masjid pun tak ada maling yang sudi mengaitnya. Begitulah yang tergambar di dalam kepala saya kondisi tanah air kini.”

AWALNYA saya sempat terbuai dan terhipnotis dengan cerita Mobil SMK yang dipublikasikan oleh Walikota Surakarta, Solo. Lalu, andaikata berikutnya saya warga DKI Jakarta, tentu saya menjatuhkan pilihan pada Pak de Joko Widodo siapa pun taysennya menjadi gubernur ibukota republik tercinta ini. Bersyukur saya orang luar DKI, sehingga saya merasa tidak ikut kecewa.

Kemudian, ketika sang pengelola ibukota meninggalkan paruh waktu jabatannya untuk menaiki tangga escalasi politiknya menjadi pemimpin negeri,  saya pun anteng-anteng saja, karena sudah dapat membaca  tinggi gunung seribu anji.

Apa yang terlihat merakyat tak kurang dari pencitraan, belajar dari realita yang berakar pada kisah miring mobil SMK dan menjadi cerita rakyat. Sekali lagi saya merasa beruntung tak ikut kecewa.

Saya baru merasa berdosa ketika ikut menaruh harapan besar pada Prabowo – Sandiaga, menang pilpres – namun dikalahkan oleh kekuatan bayang-bayang politik. Kalah juga artinya.

Indonesia pun terus larut dalam tsunami janji manis yang membuat tak ubahnya sepasang sandal jepit yang bolong-bolong, ditampal sulit – dipakai rumit.

Bolong besar sudah nampak pada utang RI yang telah menembus Rp 6.376 triliun pada Februari 2020 menurut catatan BI, dan bolong so pasti makin besar dengan dalih dana dampak Corona yang bikin anak-anak sekolah merana.

Sejumlah bolong kecil berdampak besar bagi berbagai sektor, mulai dari sektor perekonomian, sospol, hukum, HAM, agama, dan atau janji-janji serta kebohongan-kebohongan yang bak komidi putar pada sistem pemerintahan di tanah surga yang tongkat, kayu, dan batu bisa jadi tanaman.

Tapi tanah surga  sudah bolong-bolong,  di laut  ikan dan udang tak lagi berani datang menghampiri, kapal nelayan asing justeru yang banyak menggebrak dikawal kapal perang pula, semenjak Susi Puji Sri Astuti tak lagi menjadi pendekar laut yang ditakuti.

Janji manis Jokowi  saat kampanye menebarkan visi terwujudnya Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan Gotong Royong, dengan misi peningkatan kualitas manusia Indonesia, struktur ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing, pembangunan yang merata dan berkeadilan, menyapai lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Selanjutnya budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa, penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya. Perlindungan bagi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga, pengelolaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan terpercaya. dan terakhir sinergi pemerintah daerah dalam kerangka Negara Kesatuan.

Tapi, wow! Puluhan pegawai KPK baru saja undur diri, karena kata Febri Diyansyah juru bicara KPK yang juga hengkang, “KPK sudah tak lagi seperti yang dulu”. Paham ?

Bukan cuma Sri Mulyani yang jadi sakit perut akibat janji-janji kampanye Big Boss, seluruh rakyat Indonesia kini sudah pada mules  kesusahan fulus ditambah cemas dan was-was pada isu virus Covid-19.

Dosa paling besar dari yang besar dibuat pemimpin negeri ini, adalah kebohongan besar mempecundang ulama renta, Abu Bakar Baasyir dan Habib Rizieq Shihab dan ulama lain-lain dalam berbagai bentuk dibuat terantuk-antuk.

Lihat saja di sela ketika menjadi khatib dan imam sholat Jumat (18 Januari 2019) di Lapas Gunung Sindur, Bogor – Jawa Barat, Yusril Ihza mahendra tega nian menebar hoaks, bahwa Ustadz Abu Bakar Baasyir – yang terhukum teroris,  akan dibebaskan dengan satu alasan, ‘kemanusiaan’. “Besok Ustadz Abu Bakar Baasyir bebas,” bual sang ahli Hukum Tata Negara atas nama  pemerintah, waktu itu Yusril mengaku merupakan lawyer Jokowi.

Kalaulah Ustadz Abu Bakar Baasyir yang sudah sekarat dalam usia tuanya 80 tahun, nyata-nyata dijadikan komoditas politik, apa bukan komoditas politik perlakuan terhadap Habib Rizieq sebelumnya?

Mulanya Habib Rizieq diisukan dan terduga kasus perampasan tanah Perhutani dan dijadikan Pondok Pesantren Agrokultural Markaz Syariah Megamendung, Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung itu milik negara, Perhutani.

Kepala Administratur Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bogor, Asep Dedi Mulyadi menepis informasi dugaan penyerobotan tanah milik negara yang melibatkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI)  Rizieq Syihab di kawasan Puncak, Megamendung, Kabupaten Bogor.

“Bukan, yang jelas wilayah kerja Perhutani dibatasi Jalan Raya Puncak, dan kita adanya di sebelah kiri jalan,” ujar Asep singkat, Kamis (26 Januari 2017).   Tapi sepi dari pemberitaan.

Habib Rizieq dianggap lawan politik. Kecele dengan fitnah penyerobotan tanah, bagaimana pun Riziq mesti dibikin tak berkutik. Bermunculanlah hal-ikhwal kotor wal ini wal itu wal hantu. Salah satunya disasar dengan fitnah alias hoaks chads mesum yang membuat Rizieq memboyong istifar Astarfirullah ke tanah suci Mekkah. Namun kumandang upaya pembunuhan karakter jalan terus hingga kini, dimeriahkan para buzzer yang berputar-putar di puser pemerintahan.

Persekusi psychis dan atau perang urat saraf  tak berkesudahan sebagai upaya pembunuhan karakter terhadap Habib Rizieq Shihab,  adalah langkah politik bodoh dan konyol. Justeru menyatupadukan kekuatan umat Islam untuk menegakan amar makruf nahi munkar.

Dalam Revolusi Islam Persia (Revolusi Islam Iran) pada 1978/1979,  Ayatullah Ruhullah Komeyni  dari pengasingannya, Turki, Irak, dan Paris,  – bertahun-tahun, berhasil menyusun kekuatan untuk negaranya. Sang Imam berhasil mendepak  Sah Iran Reza Fahlevi dan kroni-kroninya, membangun ulang (re building) negaranya yang bolong-bolong dan penuh kebohongan korup rezim monarki.

Saya yakin kharismatik Habib Rizieg Shihap dari pengasingannya, Makkah Almukaramah tak akan melahirkan revolusi seperti Revolusi Islam Iran, karena Habib Rizieq bukan Komeyni, dan di Indonesia tak ada yang namanya  Reza Fahlevi.

Tapi, sudahlah. Banyak janji memang banyak bohong, bisa jadi cerita bersambung mulai dari pelarangan nyanyi Tepuk Anak Sholeh sampai anak Good Looking yang dituding sebagai cikal-bakal radikal. Sementara bayang-bayang PKI diberi kursi.

Yang jelas, dari semua warna-warni kisah miris yang telah menjadi cerita rakyat,  benar-benar telah membuat ibu pertiwi bersusah hati melihat buminya sudah tak elok lagi, mirip sepasang sandal jepit yang bolong-bolong. Beda-beda tipislah antara bolong dan bohong !! *** (Pontianak, 05102020, 1230Wib)

Penulis, wartawan senior/Pimred BNTime

(Visited 72 times, 1 visits today)

Comments are closed.