Sejumlah ASN dan Anggota Dewan di Kalbar Positif  Corona


dr,Malik Saepudin (foto:tribun)
[ A+ ] /[ A- ]

“Informasi data di Kalimantan Barat, ada sejumlah ASN atau PNS dan anggota dewan yang positif Covid-19 dengan tanpa gejala atau OTD (orang tanpa gejala).

DEMIKIAN baru-baru ini kepada pers disebutkan oleh dr. Malik Saepudin, SKM, MKes, ahli epidemiologi yang sekaligus ketua Tim Kajian Ilmiah Covid-19 Poltekkes Kemenkes Pontianak. Ia mengingatkan, klaster keluarga perlu diantisipasi.

Malik yang juga Ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCU) Kalbar, menyampakaikan, telah tampak di beberapa kota besar di Indonesia seperti di Jakarta, Bekasi, Bogor, Yogyakarta, Semarang, dan malang, sudah ada tren ditemukannya klaster baru dari keluarga.

Dipaparkan oleh dr.Malik, bahwa klaster keluarga penularannya dari salah satu aktifitas anggota keluarga di tempat kerja atau angkutan umum, atau pun pusat perbelanjaan yang dilakukan tanpa protocol kesehatan Covid-19.

“Tentu ini memberikan cukup penjelasan, bahwa klaster keluarga mungkin akan segera terjadi, jika pelonggaran penerapan protokol kesehatan di kantoran, transportasi dan pusat perbelanjaan serta pusat rekreasi atau keramaian umum lainnya”, ungkapnya.

“Salah satu cara menyegah penyebaran di klaster keluarga, dengan meningkatkan pengetesan serta pelacakan di perkantoran, pusat perbelanjaan, angkutan umum, dan pusat rekreasi”, pungkasnya.

Orang Tanpa Gejala (OTG)

Sebelumnya, diketahui, bahwa seorang laki-laki warga kota Pontianak yang masih berusia 42  tahun meninggal dalam perawatan di RSUD Sudarso pada Selasa (14 Sept 2020).

Pasien tersebut yang pertama di Kalbar, selain masih muda, ia meninggal tanpa  komorbid atau penyakit penyerta. Pasien meninggal ini tidak memiliki riwayat penyakit komorbid seperti diabetes mellitus (DM), hypertensi atau jantung.

Meninggalnya pasien tanpa komorbid tersebut, merupakan kasus terbaru dari 6 pasien meninggal beberapa waktu sebelumnya yang semuanya memiliki penyakit penyerta.

Kadiskes Kalbar – dr.Harison menuturkan, bahwa 6 kasus sebelumnya – penyakit penyerta yang dominan adalah diabetes dan hipertensi.

“Kalau orang dengan penyakit diabetes dan hipertensi, daya tahan tubuh biasanya berkurang. Apalagi diabetes, ini kadang menyebabkan fungsi organ tubuh mengalami penurunan”, jelasnya.

Sementara itu, dari salah satu sumber terpercaya BNTime, Rabu (16 September) mengatakan, bahwa dua family dekat dari pasien meninggal tanpa komorbid dua hari lalu, kini juga dirawat di RSUD Sudarso. Hanya tidak diketahui, apakah juga terpapar karena Corona atau penyakit lain atau pun faktor lain.

Dr.Harison mengingatkan, agar masyarakat tidak meremehkan virus Covid-19. “Apalagi kasus akibat virus corona kini kembali menunjukan tren kenaikan”, tegasnya mengingatkan. *BNTime

(Visited 26 times, 1 visits today)

Comments are closed.