Ketika Islam Diintimidasi Dari Tepuk Anak Sholeh hingga Good Looking


[ A+ ] /[ A- ]

Oleh, Effendy Asmara Zola

Wartawan senior, Pimred BNTime

“Pemerintah di bawah rezim Presiden Joko Widodo (Jokowi), paling banyak mengumbar statemen controversial berbagai hal dan apabila ditanggapi lalu ngeles alias mengelak dengan klarifikasi.”

DARI sana dapat kita lihat betapa karut-marut segala hal sebenarnya ditebarkan oleh pihak pemerintah sendiri. Seabreg janji yang tak ubahnya tong kosong nyaring bunyinya hingga pembiaran korupsi dan penegakan hukum yang tak tentu arah.

Dalam kesempatan ini, mari melongok ke satu hal saja yang tak henti-hentinya diawasi pemerintah. Apalagi kalau bukan Islam yang dianggap sebagai momok yang dikhawatirkan  akan menggasak kekuasaan ala Mchiavelli yang dipertahankan.

Paling anyar ketika  Menag Fachrul Razi menyebut cara kelompok radikal menyusupkan pahamnya ke masjid-masjid. Dia membeberkan cara masuknya kelompok maupun paham-paham radikalisme ke masjid-masjid yang ada di lingkungan pemerintahan, BUMN, dan di tengah masyarakat. Salah satunya dengan menempatkan orang yang memiliki paham radikal dengan kemampuan keagamaan dan penampilan yang tampak mumpuni. Tanpa dia merinci hasil penelitian apa, di mana dan bagaimana pembuktiannya.

Katanya, cara masuknya mereka gampang; pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan Bahasa Arabnya bagus, hafiz (hafal Alquran), mereka mulai masuk,” kata Fachrul dalam webinar bertajuk ‘Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara’, di kanal Youtube Kemenpan RB, Rabu (2/9-2020).

Ingat celoteh hasutan Denny Siregar belum lama ini kepada anak-anak santri atau pesantren? Bahwa pesantren atau santri merupakan anak-anak didik calon teroris. Apa bedanya dengan imajinasi Menag Fachrul Razi dengan si Denny Sihasut itu, bedanya yang satu takut-takut berani dengan memakai istilah radikal dan yang satu lagi pintar-pintar bahlul terang-terangan pakai istilah teroris.

Bagaimana dengan ratusan anggota dewan di pusat maupun di daerah yang diam-diam sudah menjadi rayap bangsa dan agama (semua agama), “Aku Bangga Jadi Anak PKI” kata Ripka Ciptaning dari Fraksi PDIP DPR-RI di judul bukunya. Mengapa Mentri Agama Fachrul Rozi tak mengomentari ini atau membuat statemen ikhwal bahaya latent PKI?  Adakah bahayanya santri atau ‘good looking’  dibanding dengan latent PKI?

Kealergian rezim terhadap Islam mulai dari terhadap anak-anak generasi penyampai sunnah Rasul dan Alqur’an, dapat kita telusuri melalui lacak jejak digital larangan terhadap anak-anak dijenjang anak usia dini (paud)  dilarang diajarkan menyanyi ‘tepuk anak sholeh’.

Alasannya sederhana, permainan yang dibentuk dalam lagu tersebut dinilai, secara tidak langsung mendidik anak menjadi intoleran, karena di akhir berbunyi ‘Islam yes, kafir no’. Katanya, melatih intoleran dan merusak kebersamaan. Ngawur !!

“Dikhawatirkan nantinya berlanjut hingga ke jenjang pendidikan berikutnya”, kata penyampai pesan, Ketua Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini  (Himpaudi) Banyumas, dalam Rapat Koordinasi Pokja Program Pendidikan Keluarga (Dikkel) di Gedung Ki Hajar Dewantoro (28/7-2017).

‘Tepuk Anak Sholeh’ dilarang, muncul ‘Tepuk Anak Kodok’:

Tepuk Anak Sholeh:

Aku (prok 3x) // Anak sholeh (prok 3x) // Rajin sholat (prok 3x) //  Rajin ngaji (prok 3x) Orang tua (prok 3x) // Dihormati (prok 3x) // Cinta Islam (prok 3x) // Sampai mati (prok 3x) // Laa ilaaha illallah Muhammadurrosulullah // Islam islam yesss // Kafir kafir nooo

Kesal dengan pelarangan Tepuk Anak Sholeh, netizen Iman Septian Nurohman di sebuah media online menampilkan  Tepuk Anak Kodok :

Aku (prok 3x) // Anak kodok (prok 3x) // Cinta mati (prok 3x) // Ke Mukidi (prok 3x) // Walau sering (prok 3x) // Ingkar janji (prok 3x) // Yang penting (prok 3x) // Dapet nasi (prok 3x) // Terpujilah Mukidi. Dia pemimpin yang suci // Yes // Sekali lagi Yess !!

Komentar netizen ketika itu senada, ada pula  Tores Fernando:

‘salahnya dimana??? Wajar klo anak-anak Muslim diajarin untuk tidak menjadi murtad dari kecil ….. wajar anak-anak diajarin untk mencintai agamanya sedari kecil …. Hanya otk pki Dan liberal yang melarangnya

Tubagus Sanny:

Tepuk anak soleh emang buat murid yang beragama Islam/muslim, Klo kaum kafir ngiri… mereka boleh q bikin “tepuk anak domba”  buat murid selain Islam/muslim.

Ade Kusworo:

Lagi-lagi mempermasalahkan kata kafir, kafir kan artinya menyembunyikan kebenaran Allah atau kata lain Non Muslim, sama seperti bangsa yahudi menyebut di luar bangsa yahudi sebagai goyim, di luar kekristenan disebut domba yang tersesat atuh kl ga mau disebut kafir ya masuk Islam lah,   umat Islam di Indonesia paling toleran, di sini ga ada istilah demo anti agama tertentu, di eropa dan barat yang katanya menjunjung tinggi HAM, kesetaraan atau apalah  ada demo anti Islam, jadi siapa yang intoleran?

Tepuk Anak Sholeh dilarang, muncul Tepuk Anak Kodok.

Dari larangan ‘Tepuk Anak holeh’, ‘Santri cikal bakal Teroris’,  sampai ke ‘Good Looking’,  itu menggembosi akal sehat ; apakah demi Asal Bapak Senang (ABS) atau cari muka dengan statemen mengada-ada, nggak ada kerjaan lantas mikir bikin apa lagi ya?

Celana cingkrang nggak laku dihadang, cadar nggak jalan dihajar, ganti Assalamualaikum dengan salam pancasila juga nggak ada yang bela. Muncul Good Looking yang kontrovesrsial, lalu diklarifikasi nggak gitu lo maksudnya. Macam-macam hal lain juga  diklarifikasi begini dan begitu, wal ini wal hantu.

Wahai penguasa berhentilah membuat statemen mengada-ada di luar akal sehat, karena akan merugikan Anda sendiri alias malu-maluin. Sementara Anda sendiri tak faham apa itu radikal, apa khilafah apa khalifah, apa kafir apa kufur  and so on.

Namun Alhamdulillah statemen Anda mencurigai Hafiz Quran yang diakumulasi ke dalam ‘Good Looking’,  justru  meningkatkan semangat perlawanan umat Islam,  menambah ramai jamaah masjid dan taklim-taklim, serta meningkatkan pembinaan TPQ / SPQ, mau disebut Good Looking tak penting. Mengapa tidak belajar dari peristiwa yang melahirkan Persaudaraan 212 yang kuat dan bersatu itu ??

Klarifiksi pun jadi tak penting, tak kurang cuma ngeles  karena kepepet statemen akal  sesat, intimidasi pshycologis dan sudah jadi boomerang.   Inilah perlawanan, membangunkan harimau tidur !! Inilah Radikal, tapi jangan kuatir kursi  terjungkal!! Karena kalian pun tahu Islam itu agama rahmatan lil Alamin. Inaddina Indallahil Islam…..!!! *BNTime

(Pontianak, Sabtu petang 5 Sept 2020).

(Visited 44 times, 1 visits today)

Comments are closed.