Gubernur Kalbar, Sutarmidji Menyoal Cabut Aturan Rapid Test Penumpang Pesawat Terbang Sebut Menteri Kesehatan Konyol


Gubernur Kalbar Sutarmidji Menyoal Aturan Cabut Rapid test Covid-19 sebut Menkes Konyol (BNTime)
[ A+ ] /[ A- ]

Gubernur Kalbar – Sutarmidji mengeritik tajam keputusan Menteri Kesehatan mengenai penyabutan aturan rapid test dan PCR sebelum penumpang maskapai penerbangan melakukan perjalanan.”

BANG MIDJI, begitu dia biasa disapa, menganggap keputusan Menkes Terawan Agus Putranto  merupakan tindakan konyol,  justru membahayakan masyarakat.

“Itu pekerjaan konyol pak Menteri itu,” teriak khas suaranya di hadapan sejumlah awak media  di Kantor Gubernur, Rabu (9 Sept 2020).

“Sudah tahu daerah kemampuannya sangat terbatas tetapi masih diberi beban untuk tracing orang, konyol kan,” katanya.

Dia menyayangkan sistem penanganan Covid-19 di Indonesia yang tidak konsisten.

Terbaru Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan Dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), menyabut aturan rapid test atau swab test. Orang yang melakukan perjalanan tidak akan dites, cukup dengan hanya  ukur suhu tubuh, penemuan kasus baru difokuskan di pintu masuk wilayah.  Hal ini yang membuat Sutarmidji naik pitam.

“Rapid testnya dicabut lalu diwajibkan daerah yang melakukan itu, konyol lah namanya. Kalau daerah ada PCR nya, kalau tidak  memadai, bagaimana? Itu pekerjaan yang tidak masuk akal,” sambungnya.

Menurut mantan walikota Pontianak dua priode itu dan mantan dosen FH Untan, tidak semua daerah dapat mentracing orang karena keterbatasan kemampuan melakukan tes swab.

Maka menurut pendapatnya, proses penyegahan penularan virus Covid-19 atau Corona itu, lebih baik dilakukan dipintu keluar bukan pintu masuk bandara, agar bisa diketahui hasil dari orang-orang yang dapat dengan bebas berkeliaran.

“Mestinya pintu keluar, bukan pintu masuk. Pintu masuk harus menunggu waktu hasil swab. Swab kan diambil,  mungkin dua hari berikutnya baru diketahui hasilnya karena antri dan orang-orang ini berkeliaran kemana-mana,” ujarnya.

Sutarmidji juga mengeritisi klaim yang menyebut pasien Covid-19 dapat dinyatakan sembuh jika sudah melakukan isolasi selama 10 hari.

“Tidak semua orang tanpa gejala (OTG) bisa sembuh dalam sepuluh hari semua. Karena ada OTG yang sudah duabelas hari kandungan virus didalam tubuh dia itu masih diatas enam Juta Copies virus dan itu masih potensi untuk menular,” ungkapnya.

Sutarmidji menegaskan, Pemprov Kalbar akan tetap melakukan penjagaan ketat dipintu masuk penerbangan, Bandara Internasional ‘Supadio’ Kab.Kubu Raya, Pontianak.

“Kalau saya, jangan dilepas gitu,Kalau perlu penerbangan dengan swab, itu harusnya. Harus kita swab, kedapatan positif langsung kita isolasi,” pungkasnya geram.

Sebenarnya orang nomor satu di Kalbar itu masih belum reda amarahnya oleh peristiwa temuan lolosnya 16 pekerja bangunan dari Jawa Tengah per Kapal Laut,  positif terinfeksi virus corona pada akhir Juli 2020.

Mereka pekerja bangunan di proyek Bumi Raya City Mall yang berada di kawasan atau berdekatan dengan Transmart, Kabupaten Kubu Raya yang bertetangga dekat dengan Kota Pontianak, ibukota Prov.Kalbar.  Jadi mereka yang terpapar bukan karyawan Transmart  atau  customer  Transmart  seperti yang semula heboh.*BNTime

Editor: Effendy Asmara Zola

(Visited 33 times, 1 visits today)

Comments are closed.