Gawat!! Corona di Pontianak Bagaikan Api dalam Sekam, Berpotensi Zona Merah. Beberapa Dosen Untan Positip Corona dan “Libur” diperpanjang s/d 8 Oktober


Jalan Gajah Mada, Pontianak saat penerapan social distancyng April 2020 (foto dok BNTime)
[ A+ ] /[ A- ]

 

Laporan: Rakhmad Ersat/Victor R/Contributor Laylani Laila

Editor: Effendy Asmara Zola

“Saya melihat kondisi Pontianaksekarang ini bisa jadi zona merah. Maka harus kita jaga jangan sampai banyak kasus, karena kita tak ingin daerah ini distatuskan zona merah.”

 KEKHAWATIRAN tersebut  disampaikan oleh Gubernur Kalbar – Sutarmidj, Minggu (27 Sept 2020), terkait kasus Corona atau Covid-19 khususnya di Kota Pontianak kian hari kian bertambah belakangan ini, sehingga berstatus oranye alias waspada karena berpontensi zona merah. Padahal dalam 9 bulan terakhir Kalbar termasuk daerah ‘aman-aman’ saja, sejumlah yang positip covid juga berhasil sembuh secara bertahap, hanya beberapa yang meninggal.

Empat kabupaten/kota dari 13 daerah tingkat II yang ada di provinsi ini, yaitu Pontianak (ibukota Prov Kalbar), Kotif Singkawang, Kab.Kubu Raya yang berdekatan dengan Pontianak, serta Kab.Sintang, disebutkan berada di zona oranye saat ini.

Menurut Kadiskes Prov.Kalbar – dr.Harison, jumlah kasus konfirmasi Covid hingga per 27 September 2020 ada 957 orang, termasuk 11 kasus baru dan tengah dalam perawatan di RS. Sebelas kasus baru tersebut, 5 di Pontianak dan Singkawang 6 orang.  Sembuh 9 orang, masing-masing 6  di Kab.Sintang, Kab.Sambas 2, dan Singkawang 1 orang.

Dua pekan lalu dikabarkan seorang dosen Fak.Ekonomi & Bisnis Untan (Universitans Tanjungpura) Pontianak, diketahui  positip Covid-19 yang diduga terpapar dari salah seorang mahasiswa, karena dosen ybs. pernah menyelenggarakan perkuliahan tatap muka. Maka seluruh dosen dan staf diswab dan diminta untuk mengisolasi diri di rumah sampai diketahui hasil swab-nya.

Empat bulan sebelumnya, Dekan Fak.Kedokteran Untan – M.Asroruddin bersama empat keluarga terdekatnya dikabarkan baru sembuh dari Corona setelah satu bulan diisolasi.

Terkait kasus dosen Fak.Ekonomi & Bisnis yang positip covid, kemudian setelah penyemprotan disinfektan di seluruh area kampus, segala kegiatan dialihkan dengan BDR (bekerja dari rumah) selama 14 hari s/d Senin (28 September 2020).

Namun masa DBR itu diperpanjang hingga 8 Oktober 2020, terkait kabar tak resmi dari sumber yang layak dipercaya dari Kampus Untan, karena ada kasus baru seorang wanita dosen Fak.MIPA dan seorang pria staf di fakultas ini, dikabarkan positip covid pula.

Dalam pada itu, Walikota Pontianak – Edi Rusdi Kamtono, membenarkan kabar bahwa isterinya – Yeanita Arbiastuti positip Covid-19. Namun ketika itu, Senin (21 Sept 2020) Edi Kamtono menyatakan isterinya dalam kondisi baik-baik saja.

“Benar, isteri saya positip corona tanpa gejala, tapi dia tetap olahraga dan isolasi di rumah. Tidak melakukan kontak dengan siapa pun, ” kata Edi.

Kemudian swab pada seluruh keluarganya, hasilnya negatif.

Jam Malam di Api Dalam Sekam 

Mulai malam ini, Senin (28 September 2020) aktifitas malam hari atau yang dikenal dengan istilah ‘jam malam’, mulai diberlakukan lagi di Pontianak.

Walikota Edi Kamtono menerangkan, jam malam yang diterapkan sekarang belum sampai pada penutupan sejumlah ruas jalan (seperti pernah dilakukan dalam 3 – 4 bulan lalu), dengan harapan aktifitas perekonomian tetap berjalan.

Baik walikota maupun gubernur sama menekankan agar masyarakat ketat menaati peraturan protokol kesehatan. Kedua orang nomor satu di kota dan provinsi ini, sama punya harapan segala pengketatan peraturan yang diberlakukan jangan sampai mengganggu roda perekonomian masyarakat.

Gubernur Sutarmidji mengingatkan segenap lapisan masyarakat dan Prokopimda kabupaten/kota masing-masing, bahwa corona itu ibarat api dalam sekam. Jadi, diingatkannya betul, waspadalah jika tak ingin menyusahkan diri sendiri dan keluarga.

Sementara, Walikota Edi Kamtono, terpisah minta agar warganya taat dan patuh pada peraturan.

“Masker jangan dilepas, jangan lupa cuci tangan, jaga jarak dan jaga kebersihan. Terutama pengelola warung kopi untuk tidak segan-segan menegur pengunjung atau langganannya. Kalau perlu caffe atau warung kopi juga supaya menjual masker di warkopnya buat pengunjung yang tidak pakai masker,” tutup walikota pada kota 1001 warkop ini. *** BNTime

 

(Visited 31 times, 1 visits today)

Comments are closed.