Dahsyatnya Banjir di Kapuas Hulu Tahun Ini


Forkopimda Kapuas Hulu saat meninjau banjir tampak Bupati Nasir dan Kapolres KH AKBp Wedy Mahadi.
[ A+ ] /[ A- ]

“Meskipun masyarakat di pehuluan Kalimantan Barat sudah terbiasa dengan meluapnya air Sungai Kapuas, namun kali ini terasa luar biasa. Mata rantai perekonomian mereka terputus oleh banjir besar di tengah pandemic Covid-19 di tanah air.”

SEDIKITNYA 8 kecamatan dari 23 kecamatan yang ada di Kapuas Hulu, kabupaten paling timur Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia itu, terendam banjir cukup tinggi.

Akses jalan antara Kab.Sintang – Putussibau (ibukota Kapuas Hulu) dan sebaliknya terputus sejak Minggu malam hingga Senin (14 September 2020). Sementara kondisi di dalam kota,  tenggelam setinggi antara 60 – 80 Cm dan terus meninggi karena debit air yang terus naik ditambah intensitas hujan. Lalu-lintas terhenti, baik kendaraan roda empat maupun sepedamotor. Bahkan di beberapa titik dalam kota dilakukan giliran pemadaman listrik, karena air menyeruak masuk ke instalasi PLN.

Para pedagang sayur-mayur dan kebutuhan dapur lainnya di Putussibau, terpaksa membuka lapak di jalan yang masih belum terendam banjir, karena terhambat banjir tak dapat menyapai Pasar Pagi tempat biasa mereka berjualan.

Dahsyatnya Banjir di Kapuas Hulu pada September 2020

“Kami bersama seluruh jajaran Forkopimda Kapuas Hulu tetap berdaya upaya memperhatikan kondisi alam ini untuk membantu masyarakat akan apa yang perlu dibantukan”, kata Bupati Kapuas Hulu Abang Muhammad Nasir kepada BNTime melalui telepon seluler, Selasa (15 Sept 2020) malam.

“Camat-camat juga sudah saya instruksikan untuk ambil bagian memperhatikan warganya. BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) juga kita siagakan, meskipun belum ada permintaan bantuan masyarakat untuk dievakuasi”, tambah alumnus FH Universitas Panca Bhakti Pontianak itu.

“Semoga banjir cepat berlalu kita doakan,” imbuhnya.

Sekilas tentang Kapuas Hulu, jarak antara Pontianak – Putussibau lk.800 Km yang dapat ditempuh transportasi darat sekitar 12 jam, atau 1 (satu) jam penerbangan. Kondisi alam seperti itulah yang membuat insfrastruktur jalan cepat rusak, sehingga memperlambat perjalanan

Sementara kondisi Kabupaten Melawi (sebelah Barat Kapuas Hulu)  menurut informasi warga kabupaten itu yang ada di Pontianak, tak kurang dahsyatnya  dilanda meluapnya Sungai Melawi dan hujan lebat. *BNTime

(Visited 29 times, 1 visits today)

Comments are closed.