Antara Radikal Gila dan Gila Radikal


[ A+ ] /[ A- ]

 

Oleh, Effendy Asmara Zola

Wartawan Senior, Pimred BNTime

 Waspada aktifitas Partai Tanpa Ujud

“Gila! Kata Radikal dipopulerkan rezim, menyasar pada umat Islam wabil khusus para ulama atau guru agama (ustadz) yang tak sepaham dengan alam pikiran atau radikalisme rezim itu sendiri. Kalau begitu, apakah penguasa negara itu juga radikal? Jawabannya, ya!”

 KALAU orang awam seperti Mat Garuk yang cuma pemulung tak pernah menggaruk uang negara, tak mengerti makna radikal –  asal nyebut saja, masuk di akal. Tapi kalau penguasa yang begitu murah mengobral kata radikal, sedikit-sedikit radikal, sepertinya kehilangan akal.

Kita lihat mulai dari Habib Rizieg Shihab yang terbuang dengan cara halus, Habib Bahar yang tangkap lepas tangkap, sampai pada Ustadz Abdul Samad yang dipersekusi di Bali dan nyaris teraniaya, atau Neno Warisman yang baca doa dibilang baca puisi di persekusi di Batam, hingga kiyai-kiyai kampung jadi bola pingpong . Tak ketinggalan Ustadz tokoh mualaf  yang asset negara dan patut dilindungi, Felix Siaw,  dipersekusi di Yogyakarta beberapa waktu lalu, tak luput dari semburan kata radikal dan intoleren. Entah alat apa yang dipakai mengukurnya. Tapi apa kabar Sukmawati yang tembang kidungnya lebih syahdu dari surara azan? Kondenye lebih bagus ketimbang hijab. Apa kabar juga Ripka Ciptaning yang Bangga Jadi Anak PKI? Anteng-anteng saja tuh bertengger cipika-cipiku di gedung wakil rakyat Senayan, DPR-RI.

Waspada! PKI kini bangga dengan bayang-bayangnya sendiri, latent. Siapa bilang PKI tidak ada, karena sudah dikunci dengan Tap-Tip-TOP MPRRI. Ia tetap radikalisme sebagai partai tanpa ujud, terkenal dengan GTM (gerakan tutup mulut)

Di Jawa Barat ada penganiayaan terhadap pengasuh Pondok Pesantren Cicalengka KH Umar Basri saat shalat subuh. Lalu Ustaz Prawoto yang dianiaya di depan rumahnya di Bandung Kulon oleh lelaki berinisial AM. Ustad Prawoto akhirnya meninggal dunia karena kejadian tersebut, dan AM (Asep Maptuh) pelakunya divonis 7 tahun dari semula tuntutan JPU 2 tahun.

Paling anyar peristiwa penyerangan dan penusukan terhadap Syekh Ali Jaber pasca bertausiyah di atas panggung di Masjid Falhudin, Bandar Lampung, Minggu, (13 September 2020) sore dan tetap jadi trending pemberitaan.

Dua peristiwa berdekatan waktu sebelumnya, adalah Imam Masjid Alfalah, Yazid Nasution,  di Pekanbaru tiba-tiba diserang oleh seorang pria muda (24) bersenjata tajam yang diduga salah satu jamaah masjid itu juga, Kamis (23 Juli 2020) malam, ba’da salat Isa saat  membaca doa.

Dua hari sebelum musibah yang menimpa Syekh Ali Jabir, terjadi penganiayaan terhadap Muhammad Arif (61), saat mengimami magrib di sebuah masjid di  Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Jumat (11 Sept 2020). Arif syahid karena luka parah diwajahnya oleh sajam yang dilayangkan pelaku beritial M (Muhyidin (?)).

Boleh saja bilang terhadap korban tewas – Imam Muhammad Arif beda kasus dengan penyerangan terhadap Pak Imam Yasid dan Syech Ali Jaber. Namun apa pun dalihnya, pelaku punya otak Radikal Gila.

Menariknya, kedua pelaku baik yang menyerang Pak Imam Yazid mau pun yang menyerang Syech Ali Jaber berusia sama sangat muda (24), dan sama berbekal pisau dari rumah, direncanakan. Menariknya pula, kedua orangtua pelaku berbeda waktu dan tempat itu, nongol begitu kejadian menyatakan puteranya pernah sakit jiwa alias gila. Lagi-lagi gila. Wow !!

Waduh, orang gila bisa kena pasal  351 ayat 2 (KUHP) tentang penganiayaan berat dengan ancaman pidana penjara 5 tahun, dan Pasal 2 ayat 1 UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang senjata tajam dengan ancaman pidana penjara 10 tahun.  Sama halnya dengan pelaku penganiayaan terhadap Ustadz Prawoto 3 tahun silam yang dijatuhi hukuman 7 tahun penjara itu,  gila,   tapi bisa melakukan upaya hukum banding atas vonis hakim. Benar-benar gila.

Hebatnya, orang gila zaman now pintar-pintar, ngerti milih sasaran, yaitu penyandang simbol keagamaan (Islam); Ulama, pendakwah atau ustadz yang konon radikal. Padahal orang gila pemilik satu-satunya pasal, yaitu pasal 44 KUHP.Titik.

Menarik pula, kedua pelaku yang menumpahkan darah di masjid itu, disebut adalah juga jamaah masjid masing-masing bersangkutan.

Selagi PKI Berjaya, sebelum G30S/1965, mereka juga pinter nyaru jadi jamaah masjid, punya imam masjid dan ustadz, sehingga publik ketika itu menyebut mereka ustadz PKI. Bahkan ketika HUT PKI 1965, di atas panggung ada Kiyai PKI yang menutup acara dengan pembacaan doa. Di masa-masa itu fitnah berhamburan persis seperti yang dihamburkan para buzzer dan antek-anteknya zaman now.

Kalaulah benar para pelaku yang terdahulu dan terbaru penyandang gangguan jiwa alias gila, tentu ada yang lebih gila lagi, yaitu yang menyuruh mereka melakukan penyerangan terhadap para pendakwah. Syech AliJaber sendiri tak merasa yakin kalau penyerangnya ‘main’ sendiri tanpa ada yang menyuruh. “Sangat terlatih,” ujar Syech Ali Jaber yang mendapat kemudahan kewarganegaraan WNI dari Presiden ke-6 RI, SBY.

Dalam pada itu Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan,  Mchfud MD   menyebut pelaku penusukan (Alpin Andria) terhadap Syech Ali Jaber adalah musuh kedamaian dan perusak kebersatuan yang memusuhi ulama, sehingga harus diadili secara fair dan terbuka serta dibongkar jaringan-jaringannya yang mungkin ada di belakangnya. Ingat, sekali lagi ‘jaring-jaringannya’, kata Machmud.

Merujuk pada makna radikal, maka para penyerang ulama atau para pendakwah, adalah radikal. Radikal gila. Sementara jaringan yang disebut tersirat oleh Machfud MD,  lebih lagi Radikal Gila menyuruh menghabisi para tokoh Gila Radikal.

Setiap orang berpotensi radikal, punya ego dan semangat, punya idealisme, sepanjang radikalisnya berada di alam pikiran akal sehat untuk mempertahankan yang benar adalah benar, yang salah adalah salah.   Orang-orang Gila Radikal punya cita-cita, punya akal sehat kepingin dekat dan lekat dengan amal ma’ruf nahi munkar. Punya mimpi Indonesia adil makmur di bawah ideology Pancasila. Jadi, jangan samakan Bung, Radikal dengn teroris.

Gila Radikal beda dengan Radikal Gila yang suka bikin keruh air jernih, bawaannya curiga saja. Alergi pada celana cingkrang, cadar dan hijab, alergi pada jenggot yang disamakan dengan goblok – makin panjang jenggotnya makin gede gobloknya.  Ulama dikotak-kotakan dengan sertipikasi, shalat tak perlu lurus dan rapat – biar jian atau setan dan iblis ikut sama-sama shalat. Astarfirullah lberal.

Dari Tepuk Anak Saleh hingga pelajaran Sejarah Islam dan puluhan kurikulum pelajaran Islam di Madrasah dibuldozer, pesantren diklasifikasi sebagai tempat pendidikan radikalisme dan calon teroris, bahkan anak didik pesantren seperti hafiz qur’an diberi label Good Looking – dinilai kelihatannya saja bagus, tapi berbahaya bisa membawa ke alam pikiran radikal masuk dalam masjid.

Tak bisa disangkal, alam pikiran dungu masuk ke alam pikiran Radikal Gila, yang menilai semua itu merupakan benih-benih teroris. Lebih gila lagi, ketika alam pikiran Radikal Gila menyuarakan musuh besar Pancasila adalah Agama. Gila benar.

Setiap orang berpotensi radikal dalam sudut pandang dan pikiran politik masing-masing. Manusia tanpa memiliki dasar-dasar otak sehat radikal sama dengan hewan yang tak punya akal, konon pula nalar.

Oh, ya, saya tak bisa melupakan pada sebuah ucapan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok ketika masih menjadi Gubernur DKI yang berwacana anak SMP dan ke atas tak boleh pakai  hijab. “Serbet di dapur rumah gua lebih bersih ketimbang jilbab anak sekolah,” ujar Ahok di Jakarta kala itu. Ini salah satu contoh soal Radikal Gila, cuma beda gaya dengan Radikal Gila bersenjata yang menyasar simbol agama.

Ainul yakin, kita yang waras adalah orang-orang Gila Radikal pemilik akal sehat, bukan Radikal Gila di belakang ‘orang gila’ yang menyasar para ulama dengan persekusi dan atau serangan bersenjata tajam.

Negara butuh agama, tidak semata-mata bertahan dengan radikalisme teori Machiavelli yang menghalalkan segala cara  guna menyapai tujuan. Negara dengan orang-orang Radikal Gila yang dibiarkan memperolok-olok simbol-simbol agama, cepat atau lambat bakal modar menghadapi suatu perlawanan

Benar kata Felix Siaw yang masuk nominasi runner-up ustadz paling radikal di Indonesia; bahwa bagi Firaun, Nabi Musa itu radikal habis. (Pontianak,Rabu  23 Sept 2020/13.45WIB)*BNTime

Penulis Eksponen Angkatan ’66 exs Wadan Yon “Sutoyo” Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Indonesia / PII – HMI di Pontianak,  Pemerhati Sosiologi Hukum. Mantan Biro Litbangkum Alumni UPB 2007-2012 Mantan Biro Hukum PWI Kalbar ‘86/’96.

(Visited 29 times, 1 visits today)

Comments are closed.