Seorang Hakim Dinyatakan Positif Covid-19 Menyusul Jaksa Fredrik yang Tewas, Novel Baswedan: Semoga Allah SWT Mengampuni Dosa-dosanya


Ilustrasi: Suasa sidang di Pengadilan pra dan pasca Covid-19 (foto:BNTime)
[ A+ ] /[ A- ]

 Seorang hakim dinyatakan positif covid-19. Diketahui setelah yang bersangkutan melakukan test swab dan hasilnya dinyatakan positif kemarin, Senin,17 Agustus 2020,”

HUMAS Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat – Bambang  Nurcahyono, membenarkan ada hakim di PN Jakarta Pusat terpapar virus corona.

“Diketahui setelah yang bersangkutan melakukan test swab dan hasilnya dinyatakan positif kemarin, Senin,17 Agustus 2020,”  ucap Bambang dikonfirmasi Suara.com, Rabu (19/8/2020).

Selain itu, pihaknya juga sudah melaporkan adanya satu hakim PN Jakarta Pusat kepada Ketua Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

Menurut Bambang, Ketua PN Jakarta Pusat pun telah memgintruksikan agar semua ruangan para hakim dilakukan penyemprotan disenfektan.

“Diarahkan untuk segera dilakukan test swab untuk seluruh pimpinan pengadilan, hakim karier, hakim adhoc, seluruh ASN Pengadilan Negeri Jakarta Pusat,” ucap Bambang.

Namun  proses persidangan di PN Jakarta Pusat masih tetap berjalan.

Belum ada intruksi untuk melakukan penutupan sementara, masih menunggu hasil seluruh hakim yang kini menjalani tes Swab.

“Tetap menjaga protokol kesehatan secara ketat, proses persidangan tetap dilaksanakan sambil menunggu hasil test swab yang akan dilakukan di PN Jakarta Pusat, apakah nantinya perlu untuk dilakukan lockdown 14 hari sesuai protokol kesehatan ataukah tidak, akan kami info kan lebih lanjut,” imbuh Bambang.

Dua hari sebelumnya, diberitakan Jaksa Fredrik Adhar meninggal dunia, karena tersengat Covid-19. Kabar ini dibenarkan oleh Kapuspenkum Kejaksaan Agung RI, Hari Setiyono, ikhwal  Kasubsi Penuntutan pada Kejaksaan Negeri Jakarta Utara itu, Robertino Fedrik Adhar, meninggal dunia pada Senin (17 Agustus2020).

Nama Fredrik jadi terkenal setelah dirinya ditunjuk sebagai Jaksa penuntut umum (JPU)  kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Terhadap dua oknum polisi aktip yang disebut sebagai pelaku (terdakwa), dituntut ringan oleh JPU Fredrik Adhar.

Fredrik jadi terkenal dengan pertimbangan hukumnya ‘tak sengaja salah siram’ dan tanpa rencana.

“Yang mau disiram bagian badan yang kena bagian mata (kiri),” ujar Fredrik ketika itu. Alhasil pada sidang pertengahan Juni 2020, kedua terdakwa dituntut ringan, Cuma 1 (satu) tahun. Belakangan vonis hakim pada bulan lalu (Juli 2020) lebih berat satu tahun, menjadi dua tahun penjara bagi Rahmat Kadir Mahulette, dan Ronny Bugis 1,5 tahun (18 bulan) penjara.

“Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosanya. Saya pribadi sudah memaafkan dia (JPU Fredrik Adhar),” ujar Novel Baswedan begitu diberitahu kalau Jaksa controversial “tak sengaja dan salah siram itu” dikabarkan meninggal dunia akibat terpapar Covid-19 dan penyakit gula.*BNTime/Sua 

Editor: EAZ

(Visited 10 times, 1 visits today)

Comments are closed.