Ajakan Tanam Cabai di Pekarangan Tak Sepedas Cabainya


[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas utk perbesr huruf)

“Nongkrong di warung kopi, ada-ada saja yang dicelotehkan. Bermanfaat atau tidak, tergantung bagaimana menyikapi atau menanggapinya. Kali ini, kami ‘nyinyir’ soal ajakan Walikota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, kepada warga kota yang dipimpinnya untuk menanam cabai rawit di pekarangan rumah. Patut dihargai, karena alasannya mengena. Namun sayang ajakannya tak sepedas cabainya.”

CERITANYA, Edi Kamtono mengatakan, bahwa komoditas cabai kerap menjadi penyumbang inflasi setiap bulan. Olehkarena itu dia mengajak warga kotanya untuk menanam cabai di pekarangan rumah masing-masing.

Menurutnya, hal tersebut  perlu dilakukan agar masyarakat tidak perlu lagi membeli cabai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Ajakan Geratam (gerakan tanam) cabai itu  disampaikannya di halaman kantor gubernur pada Ahad medio Juni  lalu, saat menghadiri penyerahan 12 ton cabai rawit untuk didistribusikan oleh Perusahaan Daerah ‘Aneka Usaha’ Prov Kalbar.

Ajakannya guna melawan harga cabai rawit di pasaran yang saat ini mulai melonjak naik, berada pada kisaran harga Rp.39 ribu hingga Rp.43 ribu / kg. Namun apabila stock cabai di pasaran persediaannya mencukupi, dirinya yakin harga cabai bisa stabil dan terkendali.

“Apalagi cabai ini tidak bisa bertahan lama, maksimum empat hari,” hitungnya.

Dia pun berharap ada daerah di Provinsi Kalbar yang bisa menjadi sentra produksi pertanian termasuk tanaman cabai. Ia menyebut, secara umum di Kalbar ada beberapa komoditas yang cocok untuk ditanami. “Hanya tinggal bagaimana sistem penanaman dan pendistribusiannya,” komentarnya.

Cabe Pot di pekarangan rumah, jadi tanaman hias (foto,cybex pertanian go-id)

Mas Edi menyebut, ada pasokan cabai sebanyak 12 ton yang didistribusikan di wilayah Kalbar oleh Pemprov Kalbar melalui Perusda (perusahaan daerah) ‘Aneka Usaha’, dirinya menyambut baik, karena sebagai upaya dalam menyetabilkan harga cabai di pasaran supaya tidak terjadi inflasi yang tinggi.  “Hal ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menjaga harga kebutuhan pokok,” ungkapnya.

Saat ini, kata dia, geliat pasar sudah mulai menunjukkan peningkatan pada sejumlah komoditas, dibuktikan dengan beberapa komoditas yang meningkat harganya. Apalagi pada saat ini cuaca musim hujan.

Dengan langkah yang dilakukan Pemprov Kalbar, dia berharap bisa terus berlanjut sehingga beberapa komoditas di Kota Pontianak yang harganya melambung tinggi bisa disetabilkan. “Supaya kita bisa mengendalikan inflasi di Kota Pontianak,” harapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Kalbar – Sutarmidji mengatakan, Perusda ‘Aneka Usaha’ sekarang ini dimintanya untuk memasok cabai bekerja sama dengan distributor dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Hal ini dilakukan, menurutnya agar Perusda ‘Aneka Usaha’ berkembang dalam melakukan usahanya. “Daripada Perusda menggeluti usaha berskala kecil saja, ada baiknya melakukan kegiatan usaha seperti ini untuk membantu pemerintah daerah menyetabilkan harga pangan,” katanya.

Dikatakannya, kebutuhan cabai di Kalbar antara 1.500 ton per bulan. Sementara produksi cabai antara 300-400 ton. Hal ini membuat harga cabai fluktuatif dan kerap menjadi penyumbang inflasi di daerah ini. “Jadi inflasi naik turun juga disebabkan oleh komoditas cabe,” terang Sutarmidji.

Ia menilai, kalau dilihat dari sistem kuadran, cabai selalu berada di kuadran pertama penyebab inflasi. Padahal seharusnya masuk ke kuadran keempat, sehingga tidak menjadi penyumbang inflasi setiap bulan.

Dilatarbelakangi fakta ril ekonomi pasar di salah satu sector pertanian itu, tentu patut kita hargai upaya Pemkot Pontianak maupun Pemprov Kalbar tersebut.

Namun sayang, ajakan atau seruan itu hambar, tak sepedas cabainya, tidak greget – tidak  efektif, karena ajakan habis-habis di pidato lapangan saja. Segenap lapisan masyarakat di kota dan provinsi ini tidak mengetahui adanya hal-ikhwal ajakan yang sejatinya layak mendapat dukungan publik.

Bahkan, Pak RT/Pak RW, kalangan Kelurahan dan Kecamatan pun angkat bahu, tak mendengar kabar ajakan Geratam Cabe Rawit itu.

Ajakan tersebut rasanya akan efektif  dan atau menjadi ‘sepedas’ cabe rawit jika dibarengi dengan Surat Edaran untuk diteruskan ke RT guna disampaikan kepada warga masing-masing. Bahkan tidak ada salahnya disampaikan juga melalui sekolah-sekolah, rumah-rumah ibadah – hitung-hitung buat fastabikul khairat sebagai jakan berlomba-lomba berbuat kebaikn. Kendati perolehan bibit cabenya dari merogoh kocek sendiri.

Tak perlulah ajakan Gertam Cabai itu sehebat yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian. Dimana sebelum Mas Edi bermaksud mengatasi ‘inflasi dapur’ tadi, untuk menyikapi fluktuasi harga cabai yang terjadi setiap tahun, Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) telah mencanangkan Gerakan Tanam (Gertam) Cabai di Pekarangan dan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).

“Melalui Gerakan penanaman Cabai secara nasional ini, diharapkan menjadi solusi permanen dalam mengatasi harga cabai, sehingga masalah yang sama tidak akan terjadi lagi,” ujar Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan), saat mencanangkan Gertam Cabai di TTIC Jakarta tahun lalu, Kamis (8 Agustus 2019).

Dalam gertam cabai untuk 33 provinsi ditanah air ini, BKP Kementan menyiapkan 10.000 bibit cabai. Dalam tahap awal telah dibagikan 1.000 bibit kepada 200 rumah tangga penerima, masing-masing mendapatkan 5 pohon.

Jadi untuk sosialisasinya, tak menyalahi aturan apa pun jika Pemkot Pontianak mengambil langkah efektif dengan susulan berupa Surat Edaran (SE) Gertam Cabai Rawit, supaya efisiensinya sepedas cabe rawitnya juga. Ainul yakin, warga – terutama  emak-emak akan asik berlomba-lomba menanam cabai di pekarangan rumah masing-masing.* BNTime

Wassalam,
Pontianak,  Minggu 5 Juli 2020
(Visited 15 times, 1 visits today)

Comments are closed.