Ada yang Kabur dari Tanggungjawab, 5 Tahun Mangkrak Bangunan Ambruk Rumah Sakit Untan Bernilai Rp47 Miliyar


Inilah Bangunan mangkrak 5 tahun Rumah Sakit Untan."kenang2an dari Thamrin Usman."
[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas utk perbesar huruf)

“Sebuah bangunan yang baru berdiri tiang-tiang penyangganya di pondasi awal, sudah lima tahun berjalan dibiarkan mangkrak membuat semak yang  merusak lingkungan dan tak sedap dipandang.”

BANGUNAN tersebut adalah rencana pembangunan gedung Lanjutan Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tanjungpura tahap III. Bangunan yang baru tekerjakan per/tiang penyangga dan penahan 4 lantai itu berloksi di Jalan Prof DR Hadari Nawawi di Komplek Kampus Untan, atau di belakang RS Pendidikan Untan yang sudah ada duluan, makanya di dalam gambar proyek di sebut sebagai ‘Pembangunan Gedung Lanjutanan’.

Crane yang ambruk menimpa bangunan RSUP UNTAN 2015 (dok)

Bangunan yang dirancang menurut bestek 8 lantai dengan No.Kontrak 13507/UN 2213/LK/2015 tanggal 4 Agustus 2015, dikerjakan oleh PT Dharma Perdana Muda dengan waktu pelaksanaan 150 hari kerja. Konsultan Pengawasnya, PT Arsekon Khatulistiwa Rekayasa.

Bangunan mangkrak senilai Rp.47 miliyar 460 juta 30 ribu  dari dana APBN tersebut, adalah peninggalan Rektor Untan  2 (dua) priode (2011-2019), Prof  DR Thamrin Usman, DEA.

Mangkraknya gedung peninggalan Rektor yang paling rering didemo mahasiswa itu, berawal dari tragedi patahnya alat berat (crane), Kamis (8 Oktober 2015) pagi, menimpa beberapa bagian bangunan penyangga yang tengah dikerjakan dan ambruk ditimpa alat berat bangunan yang patah itu.

Surat Edaran Tutup Mulut Rektor Untan Thamrin Usman.

Dua pekerja bangunan jadi korban dilarikan ke RS-P (Pendidikan) Untan tak jauh dari lokasi kejadin, namun salah seorang diantaranya, Sucipto (pengawas proyek), dirujuk ke RSUD Sudarso karena perlu perwatan di ICCU akibat luka-luka tertimpa runtuhan bangunan.

Menariknya, hanya sesaat setelah peristiwa, pagi hari itu juga  beredar Surat Edaran Tutup Mulut  yang dikeluarkn oleh Rektor Untan Kamis (8 Oktober 2015). Surat Edaran Tutup Mulut dimaksud ditandatangani oleh Direktur RSP Untan kala itu, dr.Muhammad Asroruddin, Sp.M.

Surat Edaran yang bersifat perintah Tutup Mulut itu, diedarkan atau dibagikan kepada seluruh karyawan dan staf RS Untan.

Diberitahukan kepada Seluruh Karyawan dan Pegawai Rumah Sakit Universitas Tanjungpura bahwa :

Sehubungan dengan semakin maraknya isu-isu seputar persediaan alat-alat kesehatan Rumah Sakit Universitas Tanjungpura yang beredar di masyarakat baik melalui Media Sosial maupun dari mulut ke mulut, dengan ini diberitahukan untuk tidak memberikan informasi / refrensi dalam bentuk apapun seputar hal tersebut kepada orang yang tidak dikenal, kecuali dengan surat resmi dan sepengetahuan pihak Direksi.

Perusahaan Pelaksana Pekerjan hanya membuat pemberitahun dengan spidol di kertas tanpa alamat perusahaan. 

Namun BNTime yang sudah menduga bakal banyak hal ditutup-tutupi terkait patahnya crane yang mengambrukan sebagian bangunan lanjutan RSPU itu dan adanya dugaan korupsi pengadaan alat-alat kesehatan RSP Untan (perkaranya tengah diperiksa pengadilan), berhasil mendapatkan bocoran Surat Edaran tsb. di pagi kejadian itu juga dari seorang karyawan senior Untan yang tak harmonis dengan Rektor Thamrin Usman.

Akibat patahnya crane pengangkat alat berat itu,  pekerjaan pembangunan Proyek Lanjutan RSP Untan itu dihentikan sementara, sambil menunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian.

Namun 5 (lima) tahun telah berlalu  mangkraknya  bangunan APBN TA 2015 bernilai Rp.47 miliyar lebih itu pun entah-berantah pertanggungjawaban hukumnya. Sementara Thamrin Usman, sang Rektor, telah  mengakhiri masa jabatannya  kepada penggantinya, pada  Rabu (24 April 2019) di lantai II Rektorat Untan.

Thamrin Usman Saat Menghadapi salah satu Demo Mahasiswa Untan, Jumat 28 Nov 2014 -(foto dok)

Korupsi Alkes RSP Untan

Sekilas terkait ikhwal pengadaan Alkes (Alat Kesehatan) RSP Untan yang disebut-sebut juga di dalam Surat Edaran Tutup Mulut jebolnya crane tersebut. Bahwa pelaksana pekerjaan pengadaan Alkes RSUP Untan,  Direktur PT Kasa Mulia Utama – HM Amin Andika, diketahui telah divonis oleh PN Pontianak pada 15 November 2015 dengan 6 tahun penjara denda Rp.400 juta subsider 4 bulan kurungan, dan UP (uang pengganti) Rp.6 miliyar 838 juta 411,89 ribu subsider 3 tahun kurungan.

Kemudian dalam putusan kasasi Mahkamah Agung nNo.644/K/PIDSus/2017 memperberat hukuman menjadi 8 tahun penjara, denda Rp.500 juta subsider 8 bulan kurungn, UP sebesar Rp.6 miliyar lebih itu dengan subsider 2 kali lipat, menjadi 6 tahun kurungan.

Itu merupakan kasus korupsi mark-up atau penggelembungan harga dari dana APBNP TA 2013 senilai Rp.17,53 miliyar yang merugikan keuangan negara sebesar Rp.6,9 miliyar.

Perkara yang merupakan penyidikan dari Polda Kalbar itu, juga telah menyeret M.Nasir, S.Pd – Kasubag Perlengkapan Untan selaku PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) atau yang lebih populer disebut sebagai Pimpro (Pemimpin Proyek), dan Ya’Irawan Syahrial – Dirut PT.Annisa Farma Dewi.

Dalam persidangan perkaranya di PN Pontianak, M Nasir dan Ya’Irawan, divonis ringan 1,4 tahun penjara dan telah menghirup udara bebas sejak beberapa waktu lalu.

Kasusnya merupakan pat-gulipat Direktur PT Kasa Mulia Utama – Amin Andika dengan orang dalam Untan, dia sebagai sub kontraktor pelaksana pekerjaan dari PT Annisa Farma Dewi yang diminkan sebagai pemenang tender.

Amin Andika yang divonis MA 8 tahun plus denda Rp.500 juta subsider 8 bulan kurungan ditambah UP Rp.6 miliyar lebih itu atau subsider 3 tahun penjara, pernah menyatakan kepada BNTime, sudah ‘telanjang-lanjang’ tak mampu membayar semua itu, sehingga kini Amin Andika yang terkena Stroock di pangkal otak itu, termangu di Lapas Kota Pontianak menjalani sisa total masa hukumannya  14 tahun 8 bulan penjara tanpa mau PK karena sudah ‘telanjang-lanjang‘ itu tadi. Sementara Thamrin Usman, Rektor Untan yang alergi wartawan itu selaku KPA (Kuasa Pengguna Anggaran), berhasil ‘lolos dari lubang jarum’. *BNTime

(Visited 53 times, 1 visits today)

Comments are closed.