Sutarmidji (Gubernur Kalbar): Sultan Hamid Alqadri Pahlawan bagi Kita Semua


Ilustrasi: Sutarmidji (gubernur) nyatakan Sultan Hamid II Pahlawan bagi Kita Semua (BNTime)
[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas utk perbesar huruf)

“Akhirnya Sutarmidji (Gubernur Kalbar) angkat suara, secara terbuka ia sebutkan, bahwa Sultan Hamid II merupakan pahlawan bagi Kalimantan Barat, khususnya bagi warga kota Pontianak.”

PERNYATAAN tersebut disampaikan mantan walikota Pontianak dua priode itu dalam kesempatan virtual meeting ‘Sultan Hamid II Pengkhianat apa Pahlawan’? pada Ahad (21 Juni 2020).

Sutarmidji menyampaikan sejumlah argumentasi hal-ihwal andil Sultan Syarif Hamid Alqadri atau Sultan Hamid II pada pra dan awal-awal  kemerdekaan untuk merebut kedaulatan Indonesia.

Dalam acara yang digelar oleh Yayasan Sultan Hamid II itu, Sutarmidji yang mantan dosen Fakultas Hukum Untan Pontianak, mendorong agar ada pegakuan secara yuridis formal, siapa sebenarnya yang merancang lambang negara. Padahal memang seluruh dokumen menerangkan, bahwa Sultan Hamid II merupakan perancang lambang negara, Garuda Pancasila.

Menurutnya penolakan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Hamid II, dirasa tendensius dengan alasan lucu, seakan-akan lambang negara itu diciptaakan salah. Olehkarena itu Sutarmidji menyarankan agar dilakukan seminar atau kajian secara komprehensif tentang alasan-alasan kenapa terjadi penolakan atas Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional.

Namun secara pribadi, Sutarmidji menyatakan, bahwa Sultan Hamid II merupakan pahlawan bagi rakyat Kaliamantan Barat, khususnya bagi warga kota Pontianak.

“Terlepas diakui atau tidaknya Sultan Hamid II sebagai pahlawan nasional”, ujarnya.

Dia mengungkapkan, dirinya sebagai orang yang kali pertama menggagas pengabadian nama Sultan Hamid II, melekat sebagai nama jalan yang mengubah nama Jalan Perintis Kemerdekaan.

“Saya orang yang pertama kali menggagas pada tahun sembilan-sembilan hingga dua ribu bersama Syarif Ahmad (almarhum Syarif Ahmad Alqadri, anggota Dewan Kota Pontianak, Red.). Saat itu saya masih anggota DPRD”, ungkapnya.

Seperti diketahui, ketenteraman berbagai elemen masyarakat  dan warga – khususnya keluarga besar Kesultanan Qadriyah Pontianak terganggu, ketika tanpa sebab yang jelas – Jenderal TNI (Purn) AM Hendro Priyono tiba-tiba memuntahkan pernyataan controversial terhadap Sultan Hamid II, perancang gambar lambang negara Garuda Pancasila.

Dalam tayangan video berdurasi 6 menit 19 detik, Hendro Priyono dengan nada dingin  menuding kalau usulan Sultan Hamid II untuk diakui sebagai Pahlawan Nasional merupakan. politisasi sejarah. Tanpa akal sehat, Hendro Priyono menuding Sultan Hamid II adalah pengkhianat – bukan pejuang, sehingga tak pantas menyandang gelar Pahlawan Nasional.

Ujaran kebencian mantan Kepala BIN itu, menjadi bola liar di berbagai media sosial dan ramai di pemberitaan media online dan cetak. Akibatnya, keluarga besar Sultan Hamid II tak terima dan melaporkan Hendro Priyono ke Polda Kalbar.

Sementara itu Sultan ke IX Kesultanan Qadriyah Pontianak, Sultan Syarif Machmud Melvin Alqadri menyampaikan petisi secara kafah,  antara lain minta agar Gubernur Kalbar, Sutarmidji, tidak tinggal diam jadi penonton ihwal ujaran kebencian Hendro Priyono.

*Baca Artikel terkait, klik di sini: Apa yang Kau Cari Mas Hendro? Apa Dosa Keturunan Arab di Republik ini?

Sampai terselenggaranya virtual meeting bersama beberapa pakar sejarah dan pakar hukum bertajuk ‘Sultan Hamid II Pengkhianat apa Pahlawan’ itu, dimana akhirnya Gubernur Sutarmidji angkat suara yang secara pribadi menyatakan, bahwa Sultan Hamid II merupakan pahlawan bagi kita semua rakyat di Kalimantan Barat. *BNTime

(Visited 23 times, 1 visits today)

Comments are closed.