Apa yang Kau Cari Mas Hendro? Apa Dosa Keturunan Arab di Republik ini?


[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas utk perbesar huruf)

Opini, Effendy Asmara Zola: “Jenderal TNI (Purn) A.M Hendro Priyono, tenggelam dalam pribahasa   ‘tumbuh-tumbuh tak bertanam.’ Entah menghayal entah mengigau,  tiba-tiba saja melontarkan pernyataan controversial dengan ujaran kebencian terhadap  Sultan Syarif Abdul Hamid Alqadri yang lebih dikenal atau populer sebagai Sultan Hamid II.”

SULTAN penyipta lambang negara RI – Garuda  Pancasila,  dituding sang Jenderal sebagai penghianat bangsa, bukan pejuang, tak layak untuk dinobatkan jadi pahlawan nasional menurut kreteria sesat versinya.

Atau atas suruhan siapakah ujaran kebencian itu dilontarkan? Sementara segenap lapisan rakyat menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang bernuansa memberi nafas baru bagi ex-PKI yang sudah tiga kali gagal untuk memerahkan bumi pertiwi dan sudah final sebagai partai terlarang. Hal ini yang sepantasnya layak ia kupas sebagai mantan Kepala BIN, boleh berharap mendapat reward.

Apakah ini sebuah sikap yang menunjukan kekecewaan terhadap diri sendiri, sebagai mantan Kepala BIN (Badan Intelijen Negara) di era Presiden Megawati – namun tak terangkat duduk di kursi empuk pemerintahan setelah pensiun dari jabatan strategis? Lalu berimajinasi, barangkali ada pihak yang bisa dibuat terangguk-angguk macam burung belatuk untuk membenarkan ujaran kebenciannya yang tak tentu arah tujuan itu.

Cerita filem Indonesia tahun 1969, ‘Apa yang Kau Cari Palupi’, rasanya tepat untuk disematkan di balik ujaran kebencian sang Jenderal, ‘Apa yang Kau Cari Mas Hendro?’

Ya, apa sebenarnya yang diingini Hendro Priyono dalam usia sepuh tanpa dasar mengutak-atik perjuangan Sultan Hamid II pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan? Apa manfaatnya?

Namun, apa pun alasannya, berdiri sendiri atau ada Ki Dalang di belakang ujarannya untuk maksud-maksud tertentu,  ujaran kebenciannya telah menimbulkan kebencian khalayak terhadap dirinya sendiri. Merugikan diri sendiri menjelang Pilpres 2024, andai di dalam lingkungan keluarganya ada yang tergiur mau menyalonkan diri untuk memimpin negeri.

Ujaran kebencian yang viral di media sosial berdurasi 6 menit 19 detik dari kanal you tube pada 11 Juni 2020, tidak hanya melukai hati keluarga besar Kesultanan Qadriyah, tapi para Sultan dan Penembahan yang ada di Kalimantan Barat serta segenap lapisan masyarakat.

Pribahasa mengatakan, Mulutmu Harimaumu !! Kalau tak ada berada masakan tempua bersarang rendah. Harus bisa dipertanggungjawabkan!! Namun terpantau di tayangan WA groups dengan nada dingin Hendro Priyono ngeles;  “Marah dong sama yang unggah video, jangan sama saya”.

Silaturahmi lintas etnis dan lintas agama, serta dihadiri para habaib, ulama, tokoh agama, ormas, dan segenap perwakilan masyarakat, adalah jalan tengah bijak  yang diambil Sultan IX Pontianak, Syarif Machmud Melvin Alqadri. Dia tidak berkenan ada yang seradak seruduk menyikapi penistaan yang walau pun melukai hati.

Sedikitnya 1.000 orang yang empati memadati balairung Istana Kesultanan Qadriyah Pontianak, hingga meluber di beranda depan dan samping, Jumat (19 Juni 2020) malam untuk menyikapi ujaran kebencian sang Jenderal.

Sultan Pontianak IX,  Syarif Machmud Melvin Alqadri yang adalah cucu kandung Sultan Hamid II, menutup acara dengan pernyataan sikap, atas nama Kesultanan Qadriyah, memutuskan untuk segera melaporkan Hendro Priyono ke polisi. Juga secara khusus akan melaporkan Abu Janda si pembuat keruh segala masalah di tanah air, sok tahu ikut nimbrung menyempalkan ujaran kebencian terhadap Sultan Hamid II dan etnis keturunan Arab serta melaporkan pemilik akun fitnah yang menyebarkan pernyataan tak pantas sang Jenderal.

“Saya Syarif Machmud Melvin Alkadri, Sultan ke IX Kesultanan Qadriyah Pontianak, akan segera membuat laporan, tangkap dan adili Hendropriyono, juga secara khusus melaporkan Abu Janda, serta pemilik akun yang menyebarkan fitnah,” seru Sultan Melvin.

Terdengar gemuruh takbir dan balasan seruan Sultan; “Hidup mulia, mati syahid.”

Sebelumnya, Pangeran Sri Negara yang bernama sama dengan Sultan Pontianak IX, Syarif Machmud Alqadri didampingi 23 pengacara, atas nama pribadi dan keluarga besar Sultan Hamid II telah melaporkan penghinaan dan pencemaran nama baik tanpa dasar tersebut ke Polda Kalbar, Senin (15 Juni 2020).

Sebelum laporan Syarif Machmud Alqadri bergelar Pangeran Seri Negara atas nama keluarga besar, Sultan Syarif Machmud Melvin Alqadri telah pula mengeluarkan Petisi Kesultanan terhadap ujaran kebencian berupa fitnah dan pemutarbalikan fakta sejarah terhadap Sultan Hamid II, tokoh nasional penyipta lambang negara Garuda Pancacasila, tokoh dunia yang berhasil memaksa kolonial Belanda dengan trick-nya untuk cepat-cepat hengkang dari bumi pertiwi dan mengakui kemerdekaan RI.

Sultan ke IX Kesultanan Qadriyah,  Syarif Melvin juga meminta Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji tidak diam dan hanya menonton melihat ujaran kebencian Hendro Priyono tersebut.

“Gubernur Kalbar jangan hanya diam dan menjadi penonton atas penghinaan ini,” tegas Sultan.

“Sekali lagi saya tegaskan, dia (Hendro Priyono) harus segera ditangkap dan diadili sebelum rakyat bergerak,” tekan Sultan Melvin.

Usai pertemuan silaturahmi Jumat (19 Juni 2020) malam itu, dalam bincang-bincang dengan BNTime sampai lewat tengah malam, Sultan Melvin mengatakan, dirinya belum mengeluarkan titah. Dirinya tak mau gegabah yang dapat merepotkan semua pihak.

“Biar saya mengambil langkah hukum dulu, saya ingin buktikan benarkah hukum itu tajam ke bawah tumpul ke atas,” kata Sultan Melvin yang sehari-harinya adalah Advokat/pengacara.

“Kalau  itu yang terjadi, perkara dipeti-eskan misalnya, jangan salahkan Sultan jika Sultan mengeluarkan titah dan rakyat bergerak di Pontianak maupun di Jakarta tempat  dia Hendro Priyono berdomisili,” papar Sultan.

“Apa sih sebenarnya maunya dia (Hendro Priyono) tiba-tiba tak guntur tak petir memancing kemarahan. Apa sih manfaatnya dia memfitnah Sultan Hamid II dan keturunan Arab? Dialah yang sebenarnya mempolitisasi sejarah”, imbuh Sultan Melvin.

“Banyak daerah di Indonesia dibuka dan didirikan berkat jasa keturunan Arab dan kemudian diserahkan untuk menjadi bagian dari NKRI, seperti Kerajaan Siak di Riau, Aceh, Kerajaan Kubu di Kalbar ini juga dan lain-lain, bahkan menyerahkan harta benda kekayaan kesultanan demi terbangunnya NKRI. Kita tidak pernah minta balas jasa, bahkan hutan kita dibabat sampai gundul tak pernah kerajaan atau kesultanan minta apalagi diberi imbalan atau bagian. Lalu apa dosa kita keturunan Arab di republik ini, ini SARA.  Padahal banyak keturunan Arab yang punya andil besar merebut kemerdekaan, bahkan jadi pahlawan nasional. Apa sih maunya dia dengan letupan ujaran fitnah dan penistaannya terhadap datuk atau kakek saya?” tutur tutup Sultan Syarif Maelvin Alqadri.

“Ya, Apa yang Kau Cari Mas Hendro?”

Last but not least, hendaknya jangan ada orang apalagi praktisi hukum yang buta sejarah membuat ujaran, kalau ujaran kebencian Hendro Priyono itu hanyalah ujaran seorang tua yang sudah pikun, sehingga tak perlu ditanggapi. Padahal diketahui, mantan Kepala BIN itu menebarkan ujaran kebenciannya secara sadar dan tersetruktur kalimatnya, walau pun isinya ngelantur.

Hukum pidana tak mengatur soal umur atau pikun tak pikun seseorang? Hanya satu pasal dalam KUHP yang dapat membuat orang lepas dari dakwaan dan atau tuntutan hukum, yakni Pasal 44, Gila!! * BNTime

Editor: Penulis Wartawan Senior

Pimred BNTime

(Visited 62 times, 1 visits today)

Comments are closed.