Berburu Tajil di Tengah Corona


[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas utk perbesar huruf)

 

Sudut Pandang: Effendy Asmara Zola “Ini bulan-bulan susah global, tak terkecuali bagi warga kota Pontianak yang merupakan bagian dari NKRI yang tengah sengkarut pengelolaan pemerintahannya. Memasuki bulan suci Ramadan makin terasa perekonomian tertekan.”

NAMUN kegembiraan menjalani bulan suci terbaik diantara 1.000 bulan ini,  boleh dibilang sebagai hiburan melupakan segala kesengsaraan tiga bulan menjadi ‘tahanan rumah’ akibat serangan Corona alias Covid-19.

Sudah membudaya di tanah air, bahkan di dunia umat Islam, sarapan pagi berganti menjadi ‘sarapan sore’ dengan makanan ringan, seperti penganan berupa aneka ragam kue yang popular disebut dengan istilah Tajil.

Tajil tetap diburu pada petang hari menjelang menit-menit azan magrib, saatnya berbuka puasa. Perduli setan dengan aturan social distancing atau pshycal distancing alias PSBB (pembatasan sosial berskala besar), ini saatnya berbuat dan berbagi, karena tahun depan belum tentu bakal bertemu kembali dengan Ramadan. Bulan yang di dalamnya penuh dengan hari-hari terbaik yang diturunkan oleh Allah SWT sejak zaman Saiyidina wa Maulana Muhammad Rasulullah SAW.

Eh, kemana larinya artikel ini? Wallahualam bi sawab, saya pun tak tahu, asal seenaknya saja memainkan jari-jemari di atas tuts computer. Yang pasti, di tengah wabah yang telah berubah menjadi musibah akibat pemimpin negerinya yang mencla-mencle saling cela diantara sesama mereka di sana, yang memperdebatkan beda antara mudik dan pulang kampung, yang lain di mulut lain di tindakan – konser dibuat menghimpun banyak orang, tapi Habib Bahar Binsmith bin Ali Binsmits ditangkap ulang dengan alasan, melanggar PSBB. La, konsernya yang diselenggarakan oleh para petingi yang tinggi, tinggi sekali, gimana?

Paling anyar bahasa Indonesia dibuat konyol pula dengan pernyataan, bahwa yang boleh mudik itu transportasinya, orangnya tetap dilarang mudik,  and so on and so on. What nek?

Namun di tengah penderitaan dalam keresahan situasional saat ini, rakyat masih merasa punya kesempatan untuk bersama berbagi rasa sebagai umat Rakhmatan lil Alamin.

Tajil diburu di tengah pandemic corona, zakat-fitrah juga mesti terlaksana sebagaimana hukumnya, Syariat Islam berdasarkan Qur’an dan Hadist yang oleh sementara orang geblek yang mengaku elite orang pinter menyebut ayat-ayat konstitusi yang setiap saat bisa berubah-ubah lebih tinggi kedudukannya dari ayat-ayat suci Alqur’an yang abadi sampai akhir zaman. “Dungu”, kata Rocky Gerung. “Bahlul’, kata saya.

Rumah Allah boleh kalian perintahkan tutup, tapi tahukah kalian? Bahwa sesungguhnya hatimulah yang telah ditutup oleh Allah SWT karena ulah kalian sendiri. Khatamallahu ‘ala quluubihim wa’ala sam’ihim wa’ala abshaarihim ghisyaawatun walahum ‘adzaabun ‘azhiim…..

Masyaallah, di Pontianak, ibukota Kalimantan Barat yang hanya berbatasan langkah dengan Sarawak (Malaysia Timur), di hari pertama dan ke-empat bulan puasa ini diguyur hujan petang nan lebat. Namun di hari-hari lain berikutnya cuaca cerah kembali merekah, hanya sesekali renyah hujan tak membuat basah.

Tajil yang produk rakyat kecil tetap tak bisa terkucil, ia tetap diburu petang dan sore jelang berbuka. “Lumayanlah buat tambah-tambah isi keponjen (maksudnya dompet)”, ujar seorang ibu pembuat kue Nagasari dan jualan gorengan.

Minal Aidin wal Faidin – Mohon Maaf Lahir & Batin

Soal aneka rupa bantuan sosial dari pemerintah? Ibu itu tak mau ambil pusing lagi daripada sakit hati, beberapa kali KTP dan KK yang diminta aparat desa, tak sekalipun dia dan emak-emak senasib pernah merasakannya. “Sesat,” ujarnya, maksudnya tak tepat sasaran.

Tajil tetap ramai dikunjungi dan dibeli untuk membantu nafkah wong cilik, seramai orang-orang penting membicarakan asal usul munculnya Covid-19 berdasarkan sudut pandang kepentingan. Seramai memuji-muji APD (alat plindung diri) produk anak negeri sendiri yang disebut lebih baik ketimbang produk impor, ini namanya “sudah terantuk baru tengadah”, sebelumnya produk anak bangsa dicibiri dan dicuekin.

Minal Aidin wal Faidin – Mohon Maaf Lahir & Batin

Ainul Yaqin, tunggulah, Corana berlalu, KPK atau aparat hukum lainnya akan menangani kasus korupsi para pelaku atau pengguna kesempatan dalam kesempitan di area virus yang mematikan itu. Wahai, dapatkah kalian menghitung berapa banyak nikmat Allah? Tapi tamak dan rakus tetap mengisi otak kalian seperti wijen yang menaburi tajil Onde-Onde.

Last but not leas, terimakasih Pak Walikota Pontianak, H.Eddi Rusdi Kamtono, MT yang tak pernah mengeluarkan larangan beraktifitas di masjid, sehingga umat islam dapat terus berhidmat dalam 5 waktu wajib dan waktu-waktu sunah lainnya, tarawih, itikaf, ataupun Qiamul Lail. Terimakasih telah membolehkan Salat Ied di masjid. Soal protokol kesehatan Covid-19 bisa dimaklumi. Minal Aidin wal faidin, mohon maaf lahir dan batin.*BNTime

Pontianak, Rabu (20 Mei 2020)

Penulis Wartawan Senior di Pontianak  (Pimred BNTime)                                                       

Editor: Rakhmat Ersat

(Visited 21 times, 1 visits today)

Comments are closed.