Air Mata Subuh di Masjid “Darul Muttaqien”, Alwada ya Ramadan


[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas utk memperbesar huruf)

Sudut Pandang, Effendy Asmara Zola “Mudah-mudahan artikel ringan ini dapat sedikit mengisi kekosongan pengetahun kita, tentang Alwada dan rangkaian sunah-sunahnya sepanjang bulan Ramadan.”

ALWADA dalam pengertian bahasa adalah suatu akhir dari sebuah pertemuan – yang biasanya diucapkan dengan salam perpisahan, ‘selamat tinggal’ atau ‘selamat jalan’. Populer dalam bahasa Inggeris ‘goodbye’ atau ‘sayonara’ menurut bahasa Jepang dan lain-lain.

Pada khakikatnya, Alwada berarti suatu kebersamaan yang indah dan akrab, buka puasa bersama, sahur bersama, tapi  harus berpisah dengannya,harus diakhiri pada waktu tertentu, ditinggalkan dengan rasa haru dan sedih mendalam. Demikianlah halnya yang terjadi dengan bulan suci Ramadan, ucapan perpisahan padanya mesti kita ucapkan dengan doa semoga dapat bertemu kembali di satu bulan diantara 12 bulan yang ada. Alwada ya Ramadan.

 

Sejenak kita tinggalkan ikhwal Alwada, bahwa puasa bukanlah satu-satunya ibadah wajib di bulan suci Ramadan. Banyak sunah-sunah lain yang diisi di dalamnya, antara lain tarawih, tadarus Al Qur’an, itikaf, qiyamul lail, dan sebagainya. Nex on, tak boleh tidak adalah berbagi dalam zakat/fitrah.

Namun di tengah musibah pandemi Covid-19  atau Corona, beberapa sunah dengan berat hati terpaksa ditiadakan, seperti tadarus  sepanjang malam ba’da tarawih, atau itikaf yang biasa dilakukan pada 10 hari terakhir di bulan suci Ramadan, cukup dengan Qiayamul Lail atas kebijakan pengurus masjid masing-masing yang tak tega menutup sama sekali Rumah Allah, tempat umat berdoa – bermunajad ke khadiratNYA untuk mengangkat segala bentuk musibah di jagat raya ini.

Itu semua terkait adanya larangan dari pemerintah dan fatwa MUI untuk tidak kumpul ramai – ramai dengan dalih guna memutus mata rantai pandemi Corona. Walahu alam bi sawab dengan keramaian di mal-mal dan paling anyar controversial penyelenggaraan Konser yang konon secara virtual, tapi wong cilik mana ngeri membedakan virtual apa bual. Tahunya kalau bulan suci telah dinodai dengan konser.

Konser di bulan suci Ramadhan digagas oleh orang pintar di republik tercinta ini, pintar sekali, bukan mbah dukun yang biasa di sebut sebagai ‘orang pintar’,  Digagas oleh Ketua MPR Haji Bambang Soesatyo,SE, MBA,  dan Kepala Badan Pembinaan Ideologi,  Pancasila (BPIP)  Prof. Haji Yudian Wahyudi, PhD, cs. yang controversial dengan pernyataannya yang terkenal, bahwa agama (Islam) adalah musuh terbesar Pancasila. Wow, orang pintar yang hilang kepintaran karena khatir kehilangan kursi.

Muslimah Darul Muttaqien saat sahur bersama

Konser  direstui oleh Presiden Joko ‘Jokowi’ Widodo, buat menggalang dana penanggulangan dana Covid-19. Lha, duit triliunan yang dikantong itu dikemanain, buat apa saja?  Padahal PSBB dan pshycal distancing (jarak pisik) atau Social Distancing (jarak sosial) berlaku, sementara kenaikan iuran BPJS Bikin Pusing Jiwa Sengsara. Habib Bahar Binsmith bin Ali Binsmith juga ditangkap ulang setelah dua hari dibebaskan, karena dituding menyebabkan kerumunan orang ramai yang menyambut kebebasannya. Oh, nggak, dakwahnya itu lho yang konon berbahaya, memprovokasi publik. Hm.

Maka muncullah meme di media sosial, besok kalau kita takbiran keliling kota dicegat polisi, bilang saja mau konser, pasti aman.

Kita turuti maunya pemerintah yang terus berdebat atau membual dan atau apa pun namanya ikhwal PSBB, tadarus dan sebagainya ditiadakan – cukup di rumah masing-masing, win win solution itikaf  diperketat dengan Qiyamul Lail di 10 malam terahir di masjid-masjid. Tutup masjid? Tutup mal dong.

 

Buka puasa bersama sebulan penuh di Darul Muttaqien

Di kota Pontianak seperti diungkap oleh Kapolresta ibukota Prov.Kalbar ini – Kombes Komarudin, tercatat ada 333 masjid, hampir sepertiganya tetap membuka pintu di tengah amarah Corona – untuk  salat 5 waktu, salat Jumat, dan tarawih.

Kalaulah konser dapat membuat manusia ingat kepada Tuhan, dapat membuat ingat pada kematian, dapat membuat sadar pada keagungan Tuhan yang Maha Pencipta, yang Maha Mengadakan dan Meniadakan apa pun yang dikehendakiNYA, saya ikut konser. Tapi itu inkar di bulan suci Ramadan pula. Nauzubillahi minazaliq.

Konser tentulah tidak sama dan sebangun dengan itikaf.  Itikaf menurut pengertian bahasa adalah ‘mengurung diri’ atau berdiam diri (di masjid), dalam hal mendekatkan diri kepada Khalikul Alam, maka Qiayamul Lail, mengerjakan salat-salat sunah di malam hari, tak kalah penting khakikatnya.

Minal Aidin wal Faidin – Mohon Maaf Lahir & Batin

Salah satunya Qiyamul Lail di Masjid ‘Darul Muttaqien’ menjadi syahdu dan mengharukan, ketika di bawah lampu remang salat tasbih, salat tahajud, dan atau salat taubat, dibacakan oleh imam muda hafiz Qur.an, Ustadz Faizal Fadli (24). Mahasiswa semester akhir IAIN Pontianak jurusan Dakwah dan Tafsir Qur’an ini, tengah menyusun skripsi tentang Ayat-ayat Qur’an Pilihan di Pesantren.

Minal Aidin wal Faidin – Mohon Maaf Lahir & Batin

Betapa mata tak basah di 10 malam terakhir Ramadan, Faizal salah satu perserta dari kafilah Kalbar pada MTQ nasional di Kalimantan Utara 2017, satu-satunya yang berhasil memenangkan MTQ menempati juara II untuk seni membaca Alqur’an.

Di Masjid ‘Darul Muttaqien’, dengan ayat-ayat Qur’an yang dibacakannya, dia dapat menderaikan air mata puluhan jamaah pesera Qiamul Lail antara jam 02.00 – 03.30 Wib dinihari. Dilanjutkan sahur bersama dan salat subuh dengan sedikitnya 300-an jamaah dalam situsional pandemi Corona.

Masjid tersebut semula hanyalah surau kecil di atas sekapling tanah wakaf seorang Bintara Polri di tahun ’80-an, Serka (Bripka) Syarif Yusuf Alqadri (masih kerabat Kesultanan Qadriyah, Pontianak), dan dari di atas tanah 22 x 12 meter di Jalan Tabrani Akhmad, Pontianak Barat itu, selanjutnya berkembang atas semangat para jamaah menjadi masjid berlantai dua yang dapat menampung antara 800 – 1000 jamaah serta sebuah TPQ yang telah memiliki sedikitnya 2.000-an alumni dan banyak yang sudah bekeluarga.

Bagaimana dengan Alwada – salam perpisahan dengan Ramadan, bulan dengan hari-hari terbaik diantara 1000 bulan yang di dalamnya ada malam-malam keberkahan,  Lailatul Qadar yang ditetapkan oleh Allah SWT kepada yang bersungguh-sungguh bermunajat kepadaNYA.

Ba’da Qiyamul Lail dinihari terakhir Ramadan, dilanjutkan dengan salat subuh berjamaah, sedikitnya ada 300-an jamaah (beberapa belas muslimah), diimami oleh ulama senior, Ustadz Anas Azzobi, ditutup dengan tausiyah yang menggetarkan hati.

Mulai dari hal-ikhwal kepatuhan anak kepada kedua orang tua, kepatuhan isteri kepada suami selaku imam di rumah-tangga, mendoakan kebaikan kepada kedua orang tua baik yang masih ada  maupun yang telah tiada, semoga dilapangkan Allah kuburnya, bukan mendurhakainya dengan berkata “ah” sekalipun,  soal dosa bagi pembuat  provokasi putusnya hubungan silaturakhim.

Menjauhi segala larangan Allah, amar ma’ruf nahi munkar. Mendoakan agar terbebasnya bumi Allah ini dari musibah, wabil khusus musibah Covid-19.

“Ketika kita ditinggalkan orang-orang terdekat, entah orangtua, isteri atau suami, anak atau saudara, kalau ingin menangis, menangislah – tak ada larangan, tak ada larangan bersedih. Tapi kesedihan itu tidak akan sama dengan kesedihan yang dalam, berpisah dengan bulan suci Ramadan. Entah tahun depan kita masih akan bertemu lagi dengan Ramadan apa tidak, tidak siapa pun di antara kita mengetahui. Alwada ya Ramadan…”, antara lain tausiyah disampaikan dengan intonasi suara yang memikat disertai ayat-ayat Qur’an yang berhubungan, mampu membuat air mata membanjiri keduabelah pipi dalam tangisan yang tersendat dan dibawa pulang untuk kemudian kembali lagi menunaikan salat Idul Fitri.

Alwada…., alwada ya Ramadan, ya Allah yang maha perkasa serta maha pengasih dan penyayang, ampunilah dosa-dosa kami, dosa-dosa kedua orangtua kami baik yang sudah tiada maupun yang masih ada, dan dosa-dosa para leluhur senasab kami, dosa-dosa para guru kami, dosa-dosa para pemimpin kami – bukalah mata dan hati mereka agar mereka sadar – bahwa  apa yang mereka lakukan adalah salah!! Sehatkanlah kami, mudahkanlah segala urusan kami, angkatlah derajat kami dan lapangkanlah rezeki kami agar kami dapat berbagi di dalam keluarga maupun berbagi pada sesama.

 

Alwada ya Ramadan, ya Raab yang maha mengadakan dan meniadakan, angkatlah segala macam penyakit dan musibah dari atas bumiMU ini.

Ya, Allah, kabulkanlah doa kami, doa yang kami sampaikan dari dalam masjid, dari dalam rumahMU, ya Raab, bukan harapan atau bualan dari tengah-tengah konser yang ditutup dengan mudahnya permintaan maaf para petinggi negeri, tinggi sekali…. (Minal Aidin wal Faidin, Mohon Maaf Lahir dan Batin) *BNTime

(Pontianak, Selasa 260520,  01.10 WIB)

(Visited 22 times, 1 visits today)

Comments are closed.