Wahai Pentolan Istana, Rakyatmu Sedang Kelaparan, Lho


[ A+ ] /[ A- ]

(Perbesar Huruf klik A+ di atas)

Opini: Effendy Asmara Zola “Terus terang saya rada bingung, yang mengendalikan negara sekaligus pemerintahan,  presiden apa para pentolan istana yang mengelilingi kepala negara sekaligus kepala pemerintahan?”

MENTERI dan atau orang dekat di lingkaran Istana bisa bersikap dan asal bicara tanpa pembatasan jabatan, begini-begitu, wal ini wal itu, wal hantu! Nyerocos tak peduli  menyinggung perasaan orang banyak – rakyat, apalagi ditengah pikiran yang galau, kacau, merana dihenyak corona.

Pernyataan paling kejam ketika Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjitan (LBP), yang menganggap enteng korban Corona (Covid-19) dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia.

Dalam press conferenve  virtual, Selasa (14 April 2020), Luhut  membandingkan jumlah pasien terinfeksi corona yang meninggal belum sampai 500 orang, sedangkan penduduk Indonesia lebih dari 270 juta jiwa. Itu artinya cuma sekian, sangat sedikit, sangat tidak berarti  dari jumlah sekian besar atau banyak.

Dalam suatu Pemilihan Kepala Daerah atau Pilpres, satu suara saja disebut sangat menentukan untuk sebuah kemenangan (kalau tidak curang). Satu suara, artinya satu nyawa, sangat berharga.

Mengapa ratusan nyawa yang ko’id disikat covid tidak dihargai barang sedikit. Konon pula untuk merespon jenazah yang terinfeksi corona, dipimpong sini-sana. Sampai-sampai Gubernur Jawa Tengah – Ganjar Pranowo, berbasah mata menyampaikan permohonan maaf kepada rakyatnya, karena masih ada warganya yang menolak pemakaman jenazah (perawat) korban corona di wilayahnya.

Lebih dari itu Ganjar juga menyatakan berencana untuk membangunan Taman Makam Pahlawan Khusus bagi Pahlawan Kemanusiaan, para medis dan atau dokter yang terpapar vrus mematikan itu, serta para relawan penanggulangan Covid-19 itu.

Jauh sebelumnya, awal-awal Walikota Surabaya – Tririsma Harini menggagas ‘wastafel umum’ di daerahnya yang belakangan ‘dicontek’ oleh para kepala daerah di tanah air. Bahkan dituru oleh banyak negara lain.

Semua itu menggambarkan, betapa berharganya nyawa sesama manusia yang harus dicegah atau setidaknya dikurangi dari kematian akibat wabah tak berwajah. Layak jika Risma Harini kelak diberi penghargaan sebagai ‘Ibu Wastafel Indoneia’

Ilustrasi: pemakaman jenazah pasien dalam pengawasan (pdp) covid-19 dengan standar organisasi kesehatan dunia (who), yakni membungkusnya menggunakan plastik (Foto: Antara/dok).”bagaimana perasaan Anda melihat ini?”

Namun Anda, Luhut, sebagai pembesar yang punya pangkat tinggi, jabatan tinggi, sayangnya tinggi hati. Anda asal cuap, di tengah lingkungan sosial pandemic Covid-19, apa tak diprakirakan psycologis masyarakat berdampak mudah marah dan gampang naik darah?  Kerusuhan tidak sedang terjadi di lapangan yang bisa dihadang dengan gas air mata atau water canon, tapi kini tengah terjadi kerusuhan di dalam perut rakyat.

Dibebaskannya 30 ribu lebih narapidana di Indonesia, lewat program asimilasi dan integrasi  Kemenkum HAM, dengan alasan untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19 di lingkungan rutan dan lapas–yang juga disebut sudah kelebihan kapasitas, menambah keresahan warga.

Apa mereka-para mantan Napi itu  bakalan bisa betah tinggal di rumah oleh berbagai maklumat terkait social distanding dan atau pshycal distanding, lalu dicanangkannya peraturan PSBB (pembatasan sosial bersekala besar). Yang pasti mereka juga perlu cari makan, sementara akibatnya angka pengangguran pun bertambah.

Sudah satu bulan terakhir lho, rakyat jadi ‘tahanan rumah’, mengencangkan ikat pinggang,  Beribadah pun diatur-atur, ulama pun jadi saling berbenturan faham. Anda paham? Berlalu lintas diberi batas, melanggar bisa kena pasal yang tak pantas.

Tidak seperti Anda, Bung Luhut. Anda kejam,  Anda pernah lapar? Pernah makan nasi bulgur makanan kuda itu? Anda pernah tidak punya uang serupiah pun?  Anda pernah miskin? Pernah dengar jeritan anak – cucu, “lapar…” Anda pernah berlinang air mata atas itu semua? Anda kejam Bung Luhut!

Rakyatmu kini sedang kelaparan! Jaga mulut, jangan suka bikin kalut. Kami semua sedang kelaparan, galau dan risau. Rakyatmu bisa mati tidak karena terpapar virus Covid-19, tapi  terkapar mati kelaparan !! * BNTime (Pontianak, Rabu 15 April 2020)

Editor: Habib Masyhur Effendy ibnu Achmad Maulana Zen Almutahar, dikenal sebagai penulis dengan nama Effendy Asmara Zola, Wartawan senior di Pontianak.

 

(Visited 29 times, 1 visits today)

Comments are closed.