Astaga, Harga Gula di Pontianak Tembus Rp.18,000/Kg, Bisa  Rp.20,000 – Rp.22,000 Jelang Lebaran


[ A+ ] /[ A- ]

(Perbesar huruf klik A+ di atas)

 Oleh; Rakhmat Ersat dan Victor R, dan laporan  Laylani Laila (contributor)

 “Gila benar. Harga gula benar-benar menggila. Meroket dengan cepat dari HET Rp.12,500/Kg, kini sudah menembus Rp.18,000/Kg.”

 CATATAN khusus dari Kalbar, sampai dengan pekan ke dua Januari 2020 rata-rata harga gula pasir di provinsi ini masih berkisar antara Rp.12,500 – Rp.13,000/Kg.

Memasuki pekan ketiga Januari 2020, tiba-tiba melonjak menjadi Rp.14,000/Kg. Lalu hanya dalam beberapa hari berikutnya mengejutkan menjadi Rp.15,000 – Rp.16,000/Kg  s/d awal Maret 2020.

Pada  hari ini, Senin (16 Maret 2020) masyarakat dibuat terkejut dengan Lonjakan harga antara Rp.17,000.00 – Rp.18,000/Kg. “Sudah jalan seminggu harga segini (Rp.18,000),” kata seorang pengecer sembako salah satu ruko di Pasar “Flamboyan” Pontianak. Sementara di pasar swalayan yang ada di kota ini mematok harga Rp.16,500/kg.

Bahkan seorang pedagang Sembako kiosan di pasar tradisional ‘Dahlia’ sempat menjual dengan ‘harga bisik-bisik’ Rp.19.000,00/kg pada hari Minggu (8 Maret 2020).

Harga yang sama juga  terjadi di Kabupaten Kubu Raya dan Kab.Mempawah,  sempat Rp.18,000,00 . Sementara di Kota Admin Singkawang, Kab.Sambas, Kab.Bengkayang.  Kab.Sanggau, Kab.Sekadau, Kab.Sintang, Kab.Kapuas Hulu,  Kab.Melawi,    Kab.Ketapang, dan Kab.Kayong Utara, dikabarkan  stabil sejak lonjakan awal Februari 2020, Rp.17,000/Kg.

Menurut seorang pengecer Sembako di pasar tradisionil terbesar di Pontianak, pasar ‘Flamboyan’, diprediksi harga gula akan merangkak menjadi Rp.20,000.00 dan bertahan hingga bulan puasa mendatang.

“Bisa-bisa Rp.22,000/kg menjelang lebaran,” ujarnya.

Dia mengklaim, jangan salahkan pedagang Sembako, karena, dapatnya dari penyalur juga sudah tinggi harganya.

“Kita cuma pedagang warung kecil, bini saya juga ikut menjerit. Tapi mau gimana lagi,” kata seorang pemilik warung di Kelurahan Sungai Jawi, Pontianak.

Menariknya, warga di perbatan Indonesia / Malaysia Timur (Kucing/Sarawak), seperti di Kec.Entikong – Kab.Sekadau,  di Kec.Seluas – Kab.Sambas, Kec.Jagoi Babang – Kab. Bengkayang, Kec.Nanga Badau / Kec.Batang Lupar di Kab.Kapuas Hulu, tenang-tenang saja di soal harga gula yang menggila itu. Masalahnya, mereka mengkonsumsi gula Malaysia yang cuma Rp.12,000.00/kg.

Jangan heran , masyarat di perbatasan lebih akrab dengan produk Malaysia, karena lebih murah dan bersih. Selain gula yang lebih murah, makan/minuman kaleng, juga lebih dikenal. Sementaragas dan atap seng lebih di percaya warga setempat, tabung gas dan seng lebih tebal.

Bagi masyarakat perbatasan, banyak jalan menuju ke negeri jiran itu tanpa melalui pintu resmi perbatasan, border. Tinggal melangkah, sebelah kaki di tanah air – sebelahnya lagi di bumi Malaysia.

Ayam Geprek Gg Nurhadi I Komp Sentarum Mandiri 2 (B 16) Jl.Danau Sentarum Pontianak Kota HP 0895701996654

Belum terdengar komentar atau sikap dari gubernur maupun kepala daerah tingkat II yang ada di provinsi yang berbatasan langsung dengan Sarawak/Malaysia Timur ini, terkait menggilanya harga gula. Bahkan belum terdengar kabar-kabarinya dari pemerintah pusat, sementara emak-emak sudah pada ngedumel.

Mafia Gula

Padahal jauh hari sebelumnya, Senin (17 Februari 2020)  Anggota Komisi IV DPR, Andi Akmal Pasluddin sudah mengingatkan Presiden Jokowidodo (Jokowi), agar tak hanya konsen di soal pemindahan ibukota negara dan cuma dengarkan suara sekitar ABS alias Asal Bapak Senang.

Dia mengatakan kelangkaan gula pasir di pasar (seluruh Indonesia) terindikasi besar akibat karena permainan mafia. Mereka sengaja menimbun, karena paham betul prediksi permintaan pasar meningkat jelang Bulan Ramadhan dan lebaran.

Baca : Harga Gula Menggila, DPR Tuding Ada yang “Main Gila”. Jokowi Diminta Jangan Cuma Dengar Suara ABS

Bahkan ada beberapa analisa berkaitan dengan komoditas gula tahun 2020, bahwa akan terjadi defisit gula konsumsi pada tahun ini apabila tidak ada tambahan dari gula impor. *BNTime

Editor: Effendy Asmara Zola

 

(Visited 9 times, 1 visits today)

Comments are closed.