Ketika Assalamualaikum Akan Diganti dengan Salam Pancasila


Ilustrasi
[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas utk perbesar huruf)

Oleh, Effendy Asmara Zola / wartawan senior

“Saya benar-benar terkesima ketika mengetahui, ada wacana Kepala BPIP (Badan Pembina Idiologi Pancasila) akan mengganti ucapan Assalamualaikum dengan Salam Pancasila.”

SOAL ucapan salam itu menjadi topik menarik yang kami bincangkan dalam  diskusi warung kopi kali ini,  yang harga percangkirnya ikut naik mengikuti melambungnya harga gula pasir, yang sudah menembus Rp.15,000,00 / kg, padahal masih Rp.12,000,00 pada dua pekan sebelumnya.

Andaikata Salam Pancasila yang diwacanakan Kepala BPIP – Prof Yudian Wahyudi tersebut terwujud, saya tak dapat membayangkan betapa lucunya dan justeru Pancasila akan menjadi olok-olok dalam keseharian.

Sejak bocah kami dan atau kita sudah diperkenalkan oleh orangtua dan nenek-datuk-moyang kita dengan ucapan Assalamulaikum dan juga kewajiban menyahutinya dengan Waalaikumussalam, untuk diucapkan tiap kali bertemu atau akan berpisah.

Dua ucapan yang sama merupakan doa. Doa bahwa orang yang diberi ucapan Assalamualaikum wa Rakhmatullah semoga selalu disertai Allah (Assalam) selamat dan mendapat rakhmatNYA. Dan doa yang diberikan itu, implikasinya sebagai tanda terimakasih wajib disahut atau dijawab dengan Walaikumussalam, semoga kita juga bersama selalu dalam keselamatan dan rakhmat Allah.

Saya tak dapat membayangkan, andaikata suatu ketika bertemu dengan ustadz Abdussamad atau A’Agym, atau ustadz Adi Hidayat atau ustadz Haikal dan lain-lain misalnya, saya ucapkan “Salam Pancasila, ustadz”. Dua hal saja, kalau tidak dianggap mengolok-olok, pasti saya dianggap sebagai orang gila.

Jangankan diucapkan kepada para tokoh, disampaikan kepada teman pun saya akan diberi ujaran “gila kau”.

Akan semakin gila jika suatu saat dalam suatu acara atau pembacaan doa, dibuka dengan ucapan “salam pancasila, wabihi nastainu alaumuridunniya wadin. Astarfirullahal adzim.

Sumpah! Saya mulai makin ketat menjaga anak cucu agar tidak mengucapkan Salam Pancasila, tapi tetap Assalamualikum lalu sebah (cium tangan), lalu pergilah kemana tempat yang menjadi tujuan masing-masing setelah saya iringi dengan walaikumussalam. Begitu pula sepulangnya.

Lalu seorang teman semeja-sepengopian bertanya, bagaimana kalau suatu waktu dia berkunjung ke rumah saya, dia mengucapkan Salam Pancasila bukan Assalamualaikum. Maka kata saya, akan saya terima kunjungannya dengan jawaban, “Antum majenun.”

Saya melihat, upaya mengaburkan makna Assalamualaikum sebagai implementasi controversial sebelumnya yang tidak dapat diterima oleh banyak kalangan, bahwa Agama Musuh Terbesar Pancasila.

Masih banyak jalan lain untuk melakukan pembinaan Pancasila. Hidupkan saja kembali kurikulum Pendidikan Agama dan Budi Pekerti seperti di masa SR (Sekolah Rakyat) tempo doeloe yang di dalamnya ada muatan nilai-nilai Pancasila, lalu kurikulum Civic dan atau Kewarganegaraan ditingkat SLTP/SMU. Jangan malah “tepuk anak sholeh” di tingkat PAUD dan TK dicurigai sebagai ajaran cikal bakal radikal. Entah apa pula radikal itu.

Kepala BPIP, Prof DR Yudian Wahyudi, Phd dilantik oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada hari Rabu (5 Februari 2020).

Baru sepekan kemudian Profesor yang berlatarbelakang pendidikan pesantren ini melancarkan pernyataan controversial, bahwa Agama Musuh Terbesar Pancasila. Berbagai tanggapan dan sikap bermunculan, mulai dari Copot Yudian sampai bubarkan BPIP yang cuma menghamburkan dana negara. Eh, muncul lagi kontroversi susulan, akan mengganti ucapan Assalamualaikum dengan Salam Pancasila.

Nah, setelah itu kejutan controversial apa lagi?

Sudahlah! Kita sudah menerima Pancasila sebagai harga mati, buat apa dibuat berpetai-petai lagi  yang dapat memantik konflik sosial. Bisa buruk akibatnya. Jangan sampai BPIP malah diangap sebagai Badan Perusak Idiologi Pancasila atau Badan Penyesatan Idiologi Pancasila. *BNTime

(Visited 52 times, 1 visits today)

Comments are closed.