Ir.Izhar Alaydrus: Penyebab Rubuhnya Jembatan di Tebas, Sambas


Menyoal rubuhnya jembatan Tebas, Kab.Sambas (BNTime)
[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas utk perbesar huruf)

“Rubuhnya jembatan penghubung sebuah sungai  di  Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, tak hanya menjadi cerita panjang di masyarakat setempat, tak luput juga jadi perbincangan warga Sambas yang banyak bermukim di Pontianak.”

MASALAHNYA jembatan 25 meter senilai Rp.4 miliyar lebih itu, belum sempat diresmikan penggunaannya,  baru sekitar 90% rampung  sudah ambruk.

Awalnya viral beredar video di medsos kejadian itu yang membuat warga setempat kecewa dan geram. Berbagai tudingan dilemparkan, mulai dari kontraktor yang dinilai tidak profesional sampai merambah ke dugaan korupsi sebagai penyebab ambruknya jembatan tersebut.

*Selengkapnya baca: Belum Rampung, Jembatan Senilai Rp.4 Miliyar di Tebas, Kab.Sambas, Ambruk jadi Tontonan (video)

.

Apa sebenarnya penyebab rubuhnya jembatan APBD Kalbar 2019 senilai Rp.4 miliyar lebih itu.?

“Kalau masyarakat kecewa atau gusar, saya kira wajar dan sah-sah saja. Mereka sangat berharap bakal dapat kemudahan lebih dari jembatan itu, tahu-tahu yang sudah di depan mata, ambruk, cuma meninggalkan sisa reruntuhan bangunan,” kata Ir.H.Syarif Izhar Assyuri Alaydrus, konsultan senior di Pontianak yang dimintai BNTime pengamatannya hal ihwal kemungkinan penyebab rubuhnya jembatan Sungai Tebas tersebut.
“Secara umum kita lihat ambruknya suatu bangunan, apakah bangunan gedung, jalan/jembatan, kita sebut sebagai gagal konstruksi,” jelas Habib Izhar mengawali penjelasannya.
Salahnya di mana, di pengawasan apa di perencanaan, urainya, itu yang perlu didalami lebih lanjut. Kita tidak bisa begitu saja menuduh kesalahan pelaksana karena pandangan kasat mata.
Suatu proyek itu kan melibatkan tiga unsur. Pertama  konsultan perencana, kedua – pelaksana, dan ketiga adalah konsultan pengawas.
Ketiganya itu secara bersama-sama bekerjasama menyukseskan pekerjaan. Dalam hal ini sebagai bahan utama atau yang pertama sebagai dasar tentulah perencanaan awal.  Segala sesuatunya dari perencanaan inilah – yang dipakai sebagai komitmen untuk pelaksanaan oleh pelaksana pekerjaan yang kita kenal sebagai pemborong atau kontraktor.
“Namun dalam pelaksanaan biasanya terjadi perubahan mengikuti yang terjadi. Misal,mungkin secara situasional ada yang berubah”, jelas antan Ketua DPP INKINDO (Dewan Pimpinan Provinsi Ikatan Nasional Konsultan Indonesia) 2006-2010.
Maklum saja, paparnya lebih lanjut, misal pada saat pengukuran berdasarkan perencanaan waktu itu musim kering, karena air surut, sehingga kemungkinan air yang deras menghantam tebing lalu runtuh, pada waktu itu tidak  terbaca, karena air surut. Ketika begitu terjadi air pasang deras menghantam tebing, lalu tebing longsor yang menyebabkan tergulingnya abutment (bangunan bawah jembatan pemikul semua beban bangunan, Red), kondisi ini tidak terbaca awal,  oleh pelaksana pekerjaan.

Apa yang menjadi bacaan pelaksana itulah yang  dapat dipakai untuk mengajukan perubahan pekerjaan kepada owner, dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Bidang Bina Marga bersangkutan dibantu oleh konsultan pengawas.

Misal tebing atau apalah di situ rawan longsor, dimintalah perubahan, adendum penguatan tebing dsb. Maka dibuatlah mungkin turap penguatnya. Terbaca tidak oleh mereka, ketiga unsur pembangunan tadi hal-hal seperti itu selama ini?

Hal-hal yang mestinya terbaca dimaksud mestinya direspon oleh pihak Dinas PUPR.  Dimana adanya keterkaitan tiga unsur tadi yang bekerja bersama untuk suksesnya pekerjaan dimaksud.

“Jadi jangan pula ada yang pagi-pagi main tuding, ini salahnya kontraktor, ini korupsi, tidak mesti,” kata Habib Izhar, panggilan akrab Ir.H.Izhar Asuri Alaydrus, alumnus Teknik Sipil Untan angkatan 1985 itu.

“Tapi soal hukum, bukan domein saya untuk membicarakannya. Tanyakan saja pada pakarnya,” tambahnya.

Sebab saya dengar dalam hal Jembatan Tebas yang runtuh baru-baru ini, tambah Habib Izhar, katanya ada masyarakat yang melihat, cerucuk yang mestinya tertanam 27 meter cuma masuk 9 meter, akibatnya jembatan runtuh. Lalu disebutlah itu karena ada korupsinya.

Mungkin saja ada warga yang melihat pemasangan cerucuk sedalam 9 meter itu sebenarnya di tahap akhir. Jadi beberapa batang  saja sebagai tambahan,  tidak dipakai juga tidak apa-apa. Sedangkan,  ratusan batang lainnya tidak menyalahi, tetap 27 meter masuk sesuai perencanaan.

“Tolong tulis ya, saya tidak ada kepentingan dalam hal runtuhnya Jembatan Tebas. Saya tidak tahu menahu dan tidak kenal kontraktornya, panitianya sampai ke Kepala Dinas PUPR Kalbar dan lain-lain yang terkait. Saya menyampaikan pandangan atau pendapat dalam hal ini, karena Anda minta pandangan saya yang Anda sebut sebagai konsultan senior,” kata Habib Izhar wanti-wanti kepada BNTime.

“Jangan pula belum-belum sudah jadi pintu masuk bagi penyidik terhadap hal-hal yang saya yakin, penyidik pun belum tentu paham lika-liku penyelenggaraan pekerjaan, apalagi teknis pekerjaannya. Jika pun itu terjadi,  bagimanapun nanti tentunya penyidik akan minta bantuan keterangan ahli,” imbuhnya.

“Semua perlu pendalaman dan analisa internal PUPR dan para mitranya itu lebih dahulu,” tambahnya.

“Sabar dululah, sepanjang prosedur jalan keluar atau solusinya ada di internal seperti saya sebutkan di atas untuk mengatasi permasalahan yang timbul, why not?” pungkas Habib Izhar. *BNTime

(Visited 41 times, 1 visits today)

Comments are closed.