Andry Hudaya (Praktisi Hukum): Runtuhnya Jembatan Tebas Perlu Analisa Mendalam, Belum Terlihat Adanya Kerugian Negara


[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas utk perbesar huruf)

“Dalam kesempatan terpisah dari Ir.H.Izhar Assuri Alaydroes, Praktisi Hukum – Andry Hudaya Wijaya SH, MH, mengatakan kepada BNTime, belum terlihat adanya petunjuk kerugian negara akibat rubuhnya jembatan Tebas di Kab.Sambas baru-baru ini.”

SENADA dengan Habib Izhar di awal keterangannya, Andry mengatakan, wajar-wajar saja jika masyarakat setempat geram atau kecewa atas rubuhnya jembatan senilai Rp.4 miliyar lebih, sepanjang 25 meter di rentang sebuah sungai di Tebas, Kabupaten Sambas itu.

“Itu emosionil sesaatlah jika ada ocehan atau narasi video di medsos mengatakan karena korupsi, nyesal milih Sutarmidji jadi gubernur dan sebagainya. Lebai juga sih sebenarnya,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, BNTime meng-crupping video dari suatu group WA menjadi 30 detik saja dari durasi 3,21 menit, karena selebih dinilai kurang layak tayang.

*Baca : Belum Rampung, Jembatan Senilai Rp.4 Miliyar di Tebas, Kab.Sambas, Ambruk jadi Tontonan (video)

**Baca juga: Ir.Izhar Alaydrus: Penyebab Rubuhnya Jembatan di Tebas, Sambas

.

“Maka yang paling pas adalah tindakan cepat pemanggilan dari DPRD Kalbar,” kata Andry.

Komisi yang bersangkutan, tuturnya, dalam hal ini Komisi IV yang membidangi pembangunan memanggil penanggungjawab anggaran atau penanggungjawab pemberi pekerjaan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Dimintai klarifikasi, analisa dan kajiannya untuk dikaji dan dianalisa kembali.

Dari sana  akan ditemui kemungkinan-kemungkinan karena kealpaan atau kelalaian atau hal-hal lain karena situasonal faktor alam misalnya,  jika temuannya memungkinkan untuk diberikan solusi, ya bisa saja diatasi.

“Apalagi jika pelaksana atau kontraktornya kuat atau mampu mendanai rebuilding (bangun ulang) pekerjaan keseluruhan, bertanggungjawab penuh, mengapa tidak mungkin? Alasan pemaaf saya kira berlaku. Lebih cepat lebih bagus, tentu semua dengan tahapan dan prosedur yang ada demi kelancaran pembangunan,” paparnya.

“Memang, peristiwa runtuhnya jembatan tersebut menarik perhatian publik yang menimbulkan anggapan-anggapan atau dugaan-dugaan macam-macam. Tapi baiknya biar dululah internal melakukan pendalaman sebab musabab kejadiannya.  Jangan tergesa-gesa dibawa masuk ruang hukum,” kata Andry.

“Lain halnya jika dalam musibah itu, ada korban jiwa atau luka-luka akibat kelalaian”, tambah Andry.

Soal pemborong yang disebut-sebut tidak profesional atau tidak berkualitas, kata Andry, subyektiflah saya kira itu. Relatiflah. Sebab untuk melaksanakan pekerjaan tersebut didapat melalui tender atau pelelalangan. Setakat  ini, saya belum melihat adanya trick unsur kesengajaan yang dapat merugikan keuangan negara.

Tiap pemborong atau kontraktor itu, tentu sudah melalui jenjang kualifikasi yang sah. Seperti Pelatihan Jasa Konstruksi dan menjadi anggota salah satu organisasi konstruksi yang ada melalui persyaratan tertentu, Rekening Bank, NPWP, dan lain-lain sebagainya.

Rubuhnya bangunan atau jembatan bukan baru kali pertama ini terjadi, sudah belasan atau puluhan kali terjadi di tanah air karena berbagai sebab. Di Jawa, Sumatera, Kalteng, dan lain-lain, bahkan di ibukota (Jakarta) pernah terjadi.  Bahkan ada yang bernilai belasan sampai puluhan milyar.

Semua di internal dulu kajian dan analisa penyebabnya, sampai-sampai dibutuhkan analisa akademis di bidangnya untuk pendalaman analisa dan kajiannya guna tindak lanjut pertanggungjawabannya.

“Nah, yang perlu diperhatikan lagi adalah dari masyarakat atau pengguna jalan itu sendiri. Misal, jangan sampai membawa kendaraan bermuatan lebih dari ketentuan maksimum kemampuan pikul beban jalan atau jembatan yang sudah ditentukan. Pernah terjadi, jalan atau jembatan bagus dan kokoh, tiba-tiba rubuh karena dilalui truck atau pick-up bermuatan lebih,” papar Andry.

“Jadi peran serta masyarakat setempat bersama perangkat desanya diperlukan juga untuk  sama-sama melakukan pemeliharaan dan pengawasan infrastruktur yang ada agar awet,” pungkas Advokad alumnus Untan yang mantan anggota DPRD Prov.Kalbar 2009 – 2014 itu. *BNTime

(Visited 26 times, 1 visits today)

Comments are closed.