Aksi Ratusan Ibu-Ibu di Hari Ibu Berpayung Putih ‘Payudara’ Demi Hak Ibu Menyusui


Ratusan ibu menyuarakan Hak Ibu Menysui di hari Ibu 2019 (CNNI/Puput T Junirman)
[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas utk perbesar huruf)

“Payung putih dengan bercak cokelat di bagian kuncup menghiasi Aksi Jalan ke Istana, Perempuan Meruwat Negeri bertepatan dengan Hari Ibu, Minggu (22/12-2019) pagi. Payung ini bukan sekadar untuk menghalau cahaya matahari, melainkan menyuarakan aspirasi hak ibu menyusui.”

PAYUNG itu merupakan simbol payudara yang dibuat oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Ketua AIMI Nia Umar mengecat payung tersebut hingga larut malam agar bisa dibawa dan dibagikan pada peserta aksi.

Nia datang beserta anggota asosiasi dan tiga anak perempuannya yang masih kecil. Dua anaknya berjalan mengikuti Nia sepanjang aksi. Si bungsu yang masih balita, tenang dalam gendongan Nia.

Sambil menggendong anak bungsunya di bagian depan, Nia naik ke atas mobil komando untuk berorasi. Nia berorasi di hadapan ratusan perempuan peserta aksi.

Di atas mobil komando itu, Nia menyuarakan aspirasi agar pemerintah memberikan hak dan perhatian terhadap ibu menyusui. Bagi Nia, menyusui merupakan isu penting di Hari Ibu.

“Menyusui merupakan hak ibu dan hak anak yang harus dipenuhi,” sorak Nia.

Sebagai seorang ibu empat anak, Nia paham betul pentingnya ASI bagi anak. Namun ia menilai pemerintah masih belum memprioritaskan ibu menyusui.

Nia menyoroti ruang laktasi yang sulit dijumpai di banyak kantor dan fasilitas umum, cuti hamil yang sulit didapatkan, hingga peraturan mengenai susu formula dan pendamping ASI.
“Cuti hamil di Vietnam sudah enam bulan, jangan sampai kita ketinggalan oleh Vietnam. Kami juga meminta perlindungan yang lebih tegas mengenai promosi susu formula dan makanan bayi,” kata Nia.

Menurut Nia, promosi yang tidak diatur membuat banyak ibu salah paham dan tidak memberikan ASI kepada anaknya. Padahal, ASI merupakan sumber nutrisi utama untuk perkembangan dan pertumbuhan anak, terutama bagian otak. ASI mengandung banyak nutrisi penting yang tak ada di makanan lain.

“Yang terbaru ada anak kembar meninggal karena diberi makan pisang. Ini karena orang tua tidak mendapatkan informasi yang tepat sehingga membuat ibu tidak berdaya,” ujar Nia.

Sejak mendirikan AIMI pada 2007, Nia terus konsisten menyuarakan hak ibu menyusui. Menurutnya, sejumlah perbaikan sudah terlihat, tapi masih jauh dari harapan.

Pada Hari Ibu 2019, Nia berharap agar pemerintah dan masyarakat lebih peduli terhadap menyusui. Ia menilai menyusui bukan hanya meningkatkan perkembangan anak, tapi juga menambah jalinan kasih ibu dan anak.

Studi menunjukkan menyusui dari payudara pada dua tahun pertama berhubungan dengan kualitas hubungan ibu dan anak di masa depan. *BNTime/CNNI

(Visited 15 times, 1 visits today)

Comments are closed.