Rindu Kepulangan Anak-Ingat Kebrutalan Aparat, Emak-emak Anak STM Tabur Bunga di Polda Metro


Emak-emak STM Tabur Bunga di depan Mapolda, Minggu 13 Okt 2019
[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas utk perbesar huruf)

Bait-bait puisi “Anakku Sayang-Anakku Malang, Kamu Berjuang-Aparat Menendang” membuat mereka tak kuasa membendung air mata.

“Hentikan kekerasan, bebaskan anak kami. Teriakan itu berulang kali menggema di sepanjang jalan kantor Polda Metro Jaya (PMJ) Jakarta, Minggu (13 Okt 2019) siang. Orator demi orator aksi menyuarakan tuntutan sama.”

YA, demikian aksi belasan emak-emak berkostum hitam saat beraksi menuntut keadilan kepada polisi, soal dugaan demonstran pelajar yang ditahan hingga saat ini. Mereka berdiri berjejer. Di atas trotoar Mapolda Metro Jaya itu, Kokon Komalawati, Wiwin Warsiating, dan teman-temannya bergantian orasi.

Di depan mereka, dibentangkan seragam STM. Penuh coretan tinta merah. Simbol darah yang mengalir. Simbol korban tewas karena protes keras lewat aksi demonstrasi. Di atas seragam itu pula, ditaburi bunga. Bunga yang didominasi warna merah. Mirip bunga yang lazim dibawa peziarah ke pusara.

Di samping seragam itu, diletakan kertas bertuliskan nama-nama korban meninggal akibat kebrutalan polisi menangani demonstran. Immawan Randi, Muhammad Yusuf Kardawi, Bagus Putra Mahendra, Maulana Suryadi, Akbar Alamsyah.

Nama-nama itu melekat kuat di ingatan. Terutama pada mereka yang  ikut dalam barisan mahasiswa, saat demo besar sepanjang akhir September lalu. Mereka digelari pahlawan pejuang demokrasi.

Kokom, Wiwin dan belasan perempuan lain itu memprotes aksi aparat. Juga kepada presiden Jokowi. Atas kematian 4 orang remaja Indonesia. Hanya karena ikut menyalurkan aspirasi.

.

“Mereka dipukuli, kepalanya diinjak-injak, tulang rusuk remuk kena pentungan, tengkorak kepala mereka pecah dipukuli membabi-buta,” teriak Kokom saat orasi.

.

Sebagai ibu, mereka sedih. Puluhan bahkan mungkin ratusan ibu hingga kini masih menunggu di rumah. Mereka menunggu kepulangan anak yang tiba-tiba hilang setelah pamit ikut demonstrasi. Polisi dituduh berada dibalik hilangnya anak-anak itu.

Berapa yang ditahan, berapa yang sudah dibebaskan? Semua itu belum terjawab. Akses informasi tidak dibuka. Para aktivis juga tak diberi akses mendampingi anak-anak yang ditahan itu. Bahkan rekomendasi hasil penyelidikan Ombudsman dicuekin begitu saja.

Kokom, Wiwin dan belasan ibu yang lain adalah potret ibu-ibu dari anak yang ikut demonstrasi besar itu. Suara mereka Minggu siang itu adalah gambaran suasana hati para ibu. Yang tak kuasa menahan rindu, pada anaknya yang sedang tumbuh dewasa. Tapi hingga kini tak kunjung bersua. Entah dimana.

Suara mereka memang tak menggelegar. Aksi mereka juga hanya diikuti belasan orang ibu. Tetapi, pean mereka kuat. Mereka menuntut agar Polisi membebaskan pelajar juga mahasiswa yang masih ditahan. Juga menuntut Mendikbud, Menristekdikti, KPAI dan Dinas Pendidikan yang melarang anak-anak ikut demonstrasi.

Aksi belasan emak-emak itu berakhir sendu. Tabur bunga diiringi lagu Gugur Bunga mengakhiri aksi mereka. Bait-bait puisi “Anakku Sayang-Anakku Pejuang” membuat mereka tak kuasa membendung air mata. *BNTime/Indopol

(Visited 16 times, 1 visits today)

Comments are closed.