Bak Hilang Ditelan Bumi, Ternyata Mbak Tutut Melanjutkan Kiprah Ibundanya untuk Sesama


[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ utk perbesar huruf)

Intro: Ya, nama Mbak Tutut tak terdengar sama sekali – bahkan dalam hiruk pikuk kancah politik setelah reformasi. Lenyap bak ditelan bumi. Ternyata puteri mantan Presiden ke II RI – Pak Haro itu, tak menyia-nyiakan waktu. Diam-diam  dia berkiprah untuk kemanusian. Berikut kiprah Mbak Tutut dalam kekiniannya.

“Adalah mendiang Ibu Negara Siti Hartinah Soeharto atau yang karib dipanggil Ibu Tien menginisiasi Yayasan Dana Gotong Royong pada 1986. Yayasan ini didukung oleh Presiden Soeharto selaku pribadi dan dikhususkan untuk membantu korban bencana alam yang ada di Tanah Air,” ungkap Sri Wulandari dari media rekan AKSIKATA mengawali tulisannya baru-baru ini.

YAYASAN Dana Gotong Royong Kemanusiaan Siti Hartinah Soeharto (YDGRK) telah melampaui usia 33 tahun dalam membantu sesama. Bukanlah waktu yang pendek untuk mempertahankan konsistensi di ranah perjuangan dan kepedulian.

Gagasan berdirinya yayasan itu, karena dalam pandangan Ibu Tien, negara belum punya alokasi anggaran yang cukup memadai dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana, yang datangnya bisa saja tiba-tiba. Ibu Tien mengetuk solidaritas masyarakat agar dapat dana dari seluruh lapisan masyarakat yang kelak dana ini  dapat digunakan sebagai dana “siaga bencana”.

Pada 23 Agustus 2019 lalu, di Gedung Granadi, Jakarta Selatan Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut selaku putri sulung Soeharto dan Tien Soeharto menggelar acara  syukuran sebagai peringatan 33 Tahun Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan berdiri. Tak hanya, memperingati keberadaan yayasan itu saja, Mbak Tutut juga merayakan hari jadi ke 51 untuk Yayasan Harapan Kita, yang juga didirikan oleh Ibu Tien.

Mbak Tutut hingga kini meneruskan pengabdian Ibu Tien Soeharto untuk berbagi terhadap mereka yang membutuhkan bantuan kemanusiaan atas musibah yang dialami. Tak heran, jika peringatan syukuran kedua yayasan itu mengusung tema “Melanjutkan Membangun Harapan dan Melaksanakan Bakti Untuk Indonesia”.

Dalam sambutannya, Mbak Tutut menyampaikan, YDGRK telah menyalurkan bantuan sekitar Rp64 miliar sejak yayasan didirikan. Selama itu YDGRK telah menyalurkan bantuan di 1.099 lokasi bencana, pada 899 kejadian bencana di 34 provinsi di Indonesia, serta beberapa titik bencana dunia.

Yayasan ini menjadi penanda dan jejak pengabdian almarhumah ibu Tien Soeharto kepada masyarakat Indonesia. Diawali pada tahun 1986, di Istana Bogor, dimana Ibu Tien sebagai Ibu Negara mengajak untuk membantu sesama.

Dalam pertemuan kala itu ia mendapat simpati dan dukungan dari tokoh-tokoh masyarakat, serta para pengusaha nasional yang memiliki kepedulian besar terhadap masalah-masalah sosial kemanusiaan. Maka kemudian muncullah pembentukan Panitia Dana Gotong Royong Kemanusiaan yang belakangan namanya menjadi Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan.

Status kepanitiaan itu kemudian ditingkatkan menjadi Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK). Ide itu kelak mampu berpartisipasi dalam meringankan beban kemanusiaan atas bencana terjadi di dalam maupun luar negeri.

Seiring perjalanan waktu yayasan, lewat Rapat Pengurus Yayasan pada 12 Maret 1997, nama almarhumah Ibu Tien Soeharto diabadikan di belakang nama yayasan sehingga menjadi Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan Siti Hartinah Soeharto. Sebuah upaya untuk mengenang dan menghormati jasa jasa beliau selaku pendiri dan ketua umum yayasan. Ibu Tien wafat akibat serangan jantung pada 28 April 1996.

Ibu Tien yang menginisiasi YDGRK itu tidak lepas dari peran suaminya yang kala itu menjadi presiden kedua Indonesia, dinobatkan pada tahun 1967.

Ibu Tien dan Pak Harto (Foto;Wikipedia)

Pada tahun 1985, Soeharto hadir di Roma, Italia, pada peringatan 40 tahun berdirinya Food and Agriculture Organization (FAO). Kehadiran Pak Harto ke markas organisasi naungan PBB itu untuk menyerahkan bantuan kemanusiaan sebanyak 100.000 ton gabah untuk meringankan penderitaan masyarakat di benua Afrika yang sedang mengalami kelaparan karena bencana alam.

Pidato Pak Harto tentang keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras saat itu, telah menggugah Ibu Tien untuk kemudian memiliki gagasan menggerakkan solidaritas masyarakat dalam pengumpulan dana dari seluruh lapisan masyarakat yang mampu, sebagai dana siaga bencana yang sangat dibutuhkan untuk meringankan beban penderitaan sesama akibat musibah kemanusiaan.

Indonesia memang berpotensi banyak terjadi bencana alam. Belum lagi letak geografis Indonesia di wilayah cincin api atau ring of fire, masih memungkinkan datangnya bencana lain, yakni, gunung meletus ataupun gempa bumi. Selain, musim kemarau berkepanjangan, kebakaran hutan, tanah longsor, atau banjir.

Mendiang Ibu Negara Siti Hartinah Soeharto mendirikan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan yang didukung oleh Presiden Soeharto selaku pribadi, dikhususkan untuk membantu korban bencana alam yang ada di Tanah Air.

Selain korban musibah bencana dalam negeri, yang dibantu termasuk korban musibah bencana terowongan Mina dan korban perang teluk Persia (bantuan melalui PMI) yang merasakan sentuhan manfaat dari ide ini. Ibu Tien bukan saja seorang istri Presiden, akan tetapi juga merupakan sosok pejuang yang patut menjadi contoh bagi kita semua.

Keikhlasan dan solidaritas kemanusiaan para petani itu telah menggugah Ibu Tien Soeharto untuk menggerakkan usaha pengumpulan dana dari seluruh para dermawan, pengusaha dan berbagai lapisan masyarakat, untuk membantu meringankan penderitaan sesama manusia akibat musibah bencana alam di tanah air.

Semasa Ibu Tien masih hidup, ia yang langsung memegang komandonya. Ia seringkali mengantarkan langsung kebutuhan mendasar perkotaan di daerah seperti gerobak sampah dan merehabilitasi banyak perkampungan kumuh.

Ibu Tien mempercayakan pengabdian besar ini turut dilaksanakan oleh putra-putri dan menantunya. Putri sulung, Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut, serta suaminya, Indra Rukmana, Sigit Harjojudanto, Siti Hedianti atau Mbak Titiek, Hutomo Mandala Putra atau Mas Tommy, dan Mbak Mamiek Soeharto menjadi ujung tombak yang memecah kesedihan. Putra-putri Presiden kedua ini menguatkan dan mengajak warga kembali menyusun harapan bahwa hidup tidak harus berhenti hanya karena bencana.

Mereka membawakan berbagai keperluan yang sangat dibutuhkan para korban musibah alam seperti angin ribut atau puting beliung, gempa-gempa tektonik yang menelan rumah-rumah warga dan jalan-jalan raya, gunung meletus, banjir bandang, gelombang pasang, tsunami, tanah longsor, kebakaran, juga para korban kemarau panjang.

Konsistensi memberi bantuan ini dilakukan sepanjang 33 tahun. Ini dilakukan oleh putra putri Ibu Tien dan Pak Harto. Sejak 1990-an, mereka telah dilibatkan sebagai pengurus yayasan. Pak Harto mendorong hal itu agar anak-anaknya, seperti ketika diwawancarai Majalah Warta Ekonomi pada tahun 1990, “Mereka belajar dalam rangka kegiatan sosial,” ujar Pak Harto mengenai anak-anaknya yang menjadi pengurus yayasan yang ia ketuai.

Selain itu, presiden kedua Indonesia ini berinisiatif mendirikan yayasan yayasan sosial untuk menutup tanggung jawab negara yang masih tercecer. Seperti, penyediaan beasiswa anak-anak tidak mampu tapi berprestasi, pemberdayaan fakir miskin maupun peningkatan kesejahteraan para veteran dan korban perang.

Pada era reformasi, eksistensi yayasan-yayasan ini diperdebatkan banyak pihak dengan berbagai tudingan. Bahwa faktanya hingga di usia 33 tahun, yayasan sosial ini masih tetap hadir memberikan bantuan kepada masyarakat yang tertimpa musibah.

Di depan sejumlah wartawan, Tutut juga menjelaskan, bahwa seluruh yayasan yang didirikan orangtuanya sepenuhnya diperuntukkan demi kemaslahatan masyarakat. Orangtuanya mengamanatkan agar putra putri Soeharto tidak boleh sedikitpun menikmati dana yayasan.

“Bapak melarang anak-anaknya menggunakan dana yayasan untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Jadi terpisah. Yayasan ada yang mengurusnya,” terang Tutut. Ia mengatakan, semua itu mereka lakukan melalui kerja sama luar biasa dengan semua pihak. Semua yang percaya bahwa kehidupan yang lebih baik, yang lebih sejahtera itu bisa diraih bersama melalui tolong-menolong di antara kita.

Di bawah komando Mbak Tutut, hingga kini Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan tetap melanjutkan bakti sosialnya. Bahkan kini dijalankan bersama generasi ketiga keluarga Pak Harto dan Ibu Tien yakni, putri Mbak Tutut, Danty Rukmana, Eno Sigit, putri Sigit Harjojudanto, Gendis Trihatmojo, putri Bambang Trihatmodjo. Mereka melanjutkan pengabdian Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto di ranah kemanusiaan tanah air Indonesia.

Yayasan juga mengadakan berbagai pelatihan dan simulasi bencana untuk para relawan, mengukuhkan keberadaan mereka, kemudian menyerahkannya kepada pemerintah daerah setempat untuk bertugas di lokasi-lokasi bencana.

Menurut Tutut, jika tidak dihadapi dengan keyakinan iman, dengan mudah orang akan pasrah dan menyatakan bahwa memang manusia hidup ke dunia untuk menderita. “ Ibu Tien mengajarkan agar kita tidak pasrah dalam penderitaan itu,” kata Mbak Tutut.

Menurut Tutut, sikap pesimistis tersebut tidak saja menjadi perangai buruk. Padahal dari sisi ajaran agama, pesimistis bisa dianggap mata air dari dosa. Dalam al- Quran Surat Yusuf 87, dikisahkan Nabi Ya’qub AS berkata kepada putra-putranya, “…… dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidaklah ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.”  “ Subhanallahu,”papar ibu empat anak ini. “ Berbagai sumbangsih kedua yayasan ini diharapkan turut memberi kontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia,”ujarnya.  (Sri Wulandari)

(Visited 16 times, 1 visits today)

Comments are closed.