Menguak Misteri Tewasnya Ratusan Petugas Pemilu 2019


[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas utk perbesar huruf)

Penulis wartawan senior,

Effendy Asmara Zola:“Mulanya satu-per-satu, lalu beruntun dengan pasti. Kematian demi kematian para petugas Pemilu Indonesia 2019, menjadi perhatian para pengamat dalam dan luar negeri, menyentak mulai dari setingkat kalangan akademisi hingga masyarakat awam.

KETIKA masih puluhan korban meninggal, naluri orang awam sebenarnya sudah banyak yang menduga-duga, kematian demi kematian tersebut jangan-jangan karena “jangan-jangan.” Sebatas menduga-duga saja, karena sadar tak punya kapasitas dan kualitas  angkat bicara.

Sejumlah elite minta perhatian KPU maupun Bawaslu dan pemerintah supaya tidak tinggal diam atas peristiwa demi peristiwa misterius tewasnya  ratusan anggota KPPS, Panwas dan aparat pengamanannya dari Polri.

Jawaban yang diberikan pun tak kalah misterius, faktor “kelelahan” yang merenggut nyawa. Uluran santunan bervariasi antara yang tewas dan yang terkapar di rumah sakit disertai ucapan turut berduka cita,  tak dapat mengubur rasa penasaran ihwal horror Pemilu 2019 itu

Pembodohan pada Rakyat

Tak semua sepakat dengan nyanyian KPU RI, bahwa faktor “kelelahan” yang menjadi penyebab terenggutnya nyawa ratusan petugas KPPS.

 Adalah dr Umar Zein, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) yang menyampaikan sinyalemen hal-ihwal kematian tak biasa itu.

Ketika korban tewas baru menyapai 300 orang, dalam akun Facebooknya, mantan Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan ini mengatakan, perlu penelitian untuk mengungkapkan penyebab pastinya. Namun dia memastikan bukan karena faktor kelelahan, sebab tidak dalam kerja paksa.

Umar Zen mengutip pemberitaan di media, bahwa banyak petugas Pemilu meninggal dunia akibat kelelahan, disebutnya sebagai pembodohan pada rakyat awam atau orang yang tidak faham ilmu medis, atau sedikit tahu ilmu medis.

“Penyebab kematian tidak sesederhana itu, saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Indonesia! Kematian mendadak (sudden death) secara medis, akibat proses di jantung, paru atau otak atau gabungannya,” tegasnya.

“Apa penyebab kematian ratusan Petugas Pemilu Indonesia Tahun 2019? Perlu penelitian. Yang pasti bukan karena kelelahan, butuh pemeriksaan yang cermat,” tegasnya lagi.

(Selengkapnya baca: dr Umar Zein: Curigai Misteri Penyebab Meninggalnya Ratusan Petugas KPPS Bukan Karena Kelelahan, Perlu Penelitian)

Sementara itu korban jiwa terus bertambah dan KPU terus juga masih menyebut  karena faktor “kelelahan”.

Senada dengan dr.Umar Zen, tim medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dengan uraiannya pula, menolak jika “kelelahan” dijadikan kambing hitam penyebab kematian ratusan anggota KPPS dan puluhan anggota Polri Pengamanan Pemilu 2019.

Konyolnya, terjadi debat panas antara politisi PDIP Ardian Napitupulu dengan ahli saraf dr. Ani Hasibuan soal penyebab kematian ratusan petugas Pemilu, anggota KPPS.

Ardian menilai uraian dr.Ani Hasibuan tendensius dengan menghakimi pekerjaan petugas KPPS, dan tetap dengan pandangan pribadinya yang setali tiga uang dengan penguasa, kematian yang biasa saja karena “kelelahan”. Dokter berhijab itu tak kalah sengit menyatakan, analisanya masih dalam kapasitasnya sebagai dokter tidak terkait kemana-mana (politik).

“Saya sekarang tanya Bang Adian deh, di mana kelelahan secara fisiologi membunuh orang?” sindir wanita dokter ahli saraf  yang dijawab Ardian dengan gaya silat lidah. Tambah lagi Rocky Gerung nimbrung dengan sinyalemen nyentriknya, jangan menghalangi niat baik para dokter bangsa dewek untuk mengungkap nasib si Mateus alias Mati Misterius itu.

Sejak awal, kata Ani Hasibuan, dia sudah berpikir, “Ini bencana pembantaian, apa pemilu?” Eh, setelah itu viral kalau dr Ani Hasibuan dipanggil kepolisia dengan tuduhan ujaran kebencian. Saya lalu menyoba melacak jejak digital di mananya ujaran kebencian itu ada diucapkan dr Ani Hasibuan di acara “Catatan Jejak Demokrsasi Kita” di TV One terseubut.

Konon karena ada berita serupa tapi tak sama isinya di media lain yang dipelintir untuk membawa dokter ahli saraf itu masuk parit politik.  Pertanyaannya, mengapa pemerintah diam tak bersikap dan menganggap kematian demi kematian yang misterius itu sebagai hal biasa. Menunggu kalau korban sudah ribuan baru bertindak, bak pribahasa mengatakan  “menunggu terantuk baru tengadah?” Atau malu karena pemilu  berujung pilu?

Sementara IDI (Ikatan Dokter Indonesia) berpendapat sama seperti apa yang dikemukakan oleh dr Umar Zen, dr Ani Hasibuan maupun dari tim medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dengan uraiannya di atas, menolak mentah-mentah  jika “kelelahan” dijadikan kambing hitam penyebab kematian ratusan anggota KPPS dan puluhan anggota Polri Pengamanan Pemilu 2019.

Kalaulah faktor “kelelahan” yang dijadikan kambing hitam penyebab kematian ratusan anggota KPPS Pemilu 2019 itu, alangkah lemahnya fisik anggota Polri kita, dimana  22 anggota amat rapuh ketahanan pisiknya. Tentu tidak demikian. Namun sayangnya tak tercium adanya keinginan pimpinanan Polri untuk investigasi internal atas misteri kematian puluhan anak buahnya.

Sebaliknya IDI (Ikatan Dokter Indonesia) mendukung dan memberikan rekomendasi kepada para dokter anggotanya yang berencana tulus akan melakukan investigasi terhadap misteri kematian ratusan anggota KPPS dan lainnya yang gugur tersebut.

Anehnya,  Menkes Nila F Moeloek menyatakan tak berwenang memberikan rekomendasi otopsi korban, lagi pula Kemenkes disebutkan telah (akan) melakukan otopsi verbal alias tanya-tanya keluarga korban, kemungkinan adanya riwayat penyebab kematian.

Antengnya pemerintah menghadapi kematian ratusan anggota KPPS dan lainnya yang tewas dan ribuan yang jatuh sakit, membuat HMI geram dan sejumlah mahasiswa kadernya, menggeruduk kantor KPU, Jumat (17 Mei 2019), minta KPU tidak bersikap cuek dengan mengkambinghitamkan “kelelahan” sebagai penyebab kematian. Hal yang juga  disebut  oleh Wapres Jussuf Kalla, bahwa kematian korban  murni karena faktor kelelahan.

Sementara di hari yang sama dengan aksi HMI menggeruduk gedung KPU, CEO Aliansi Penggerak Demokrasi Indonesia (APDI), Wa Ode Nur Intan mengatakan, desakan  perlu disampaikan lantaran pesta demokrasi lima tahunan itu masih menyisakan misteri kematian anggota KPPS.

Olehkarena itu pemerintah diminta untuk segera membentuk tim investigasi khusus guna menelusuri penyebab kematian ratusan petugas KPPS Pemilu 2019.

“Kami meminta pemerintah membentuk tim khusus yang komprehensif dan transparan agar penyebab kematian diketahui secara jelas bukan jadi misteri dan beban masa depan demokrasi,” kata Intan dalam acara diskusi di Gado-Gado Boplo, Cikini, Jakarta Pusat.

Menurut berita (Antara), dari data yang dihimpun Kementerian Kesehatan dari 28 provinsi, tercatat petugas anggota KPPS yang meninggal 527 orang dan sakit 11.239 orang per tanggal 15 Mei 2019.  (di luar korban 22 anggota polisi)

CIA Bongkar Data Pilpres, Jokowi Kalah, Wartawan Jadi Korban

Di balik ratusan “pejuang demokrasi” yang tewas itu, ada hal lain yang menggelitik “akal sehat” saya (saya pinjam istilah popular Rocky Gerung). Yaitu, adanya satu kematian yang  “misterius”, mengawali ratusan kematian yang controversial tersebut. Kejadiannya sekitar 2 (dua bulan) sebelum hari “H” Pemilu 17 April 2019,  ihwal meninggalnya wartawan senior Derek Manangka.

Mengutip deliknews yang tayang Senin, 4 Februari 2019 dengan judul berita CIA Bongkar Data Pilpres, Jokowi Kalah, Wartawan Jadi Korban, bahwa Central Inteligence Agency (CIA) atau Badan Pusat Intelijen Amerika Serikat membongkar data Pilpres Indonesia 2019.

Informasi CIA yang bocor itu menyebutkan elektabilitas Joko Widodo hanya 35% sementara Prabowo diatas 50%.Hal itu seperti dikemukakan Neta S Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), dalam keterangan persnya, Senin (4 Febr 2019).

Data CIA terkait tingkat elektabilitas Jokowi itu, sambung Neta sempat diungkapkan oleh wartawan senior Derek Manangka.

Data CIA ini memang sempat menjadi polemik dikalangan politisi Indonesia, sebab data rahasia itu membongkar seluk beluk Jokowi dan juga kepastian kekalahan Jokowi.

Kekalahan Jokowi yang diprediksi CIA itu punya relevansi dengan survei yang dilakukan CRC, dalam survei itu disebutkan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno mampu menyamakan elektabilitas petahana, Joko Widodo dan Ma’ruf Amin dengan memperoleh 47,5 persen.

Derek Manangka, yang merupakan pemberi informasi CIA mengenai kekalahan Jokowi ini lalu mendadak meninggal dunia, lalu diduga karena serangan jantung.

Kabar meninggalnya Derek Manangka ini dibenarkan Tondy Nugroho, anak dari Derek Manangka yang kini bekerja di salah satu perusahaan Televisi terkemuka di Surabaya.

“Bapak meninggal dadakan” kata Tondy Nugroho via akun facebooknya, dikutip, Senin (4/2).

“Masih belum jelas, kematian Derek Manangka ini ada kaitannya dengan informasi Intelijen Amerika Serikat ataukah murni faktor medis,” tulis deliknews ketika itu.

Jadi kematian Derek Manangka 2 (dua) bulan pra Pemilu 17 April 2019, mengawali “gonjang-ganjing” misteri kematian ratusan anggota KPPS dan puluhan Panwas serta 22 anggota Polri.

Bukan mustahil juga jika tim dokter rekomendasi investigasi IDI mengawali investigasinya pada keluarga korban Derek Manangka.

Kerja berat memang, dan butuh waktu cukup yang memerlukan keihlasan demi kemanusian. Perlu penelitian yang cermat, seperti diungkapkan dan diuraikan oleh dr Umar Zen dari Medan. Kendati tak semua ratusan korban yang mesti diotopsi.

Kematian demi kematian yang terus bertambah dan penuh misteri itu, jangan enteng menyebutnya takdir, karena Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang tidak pernah kejam dengan takdirnya. Takdir Allah Azza wa Jalla selalu menyenangkan.

Namun untuk menguak atau menyingkap tabir misteri kematian yang mengoyak demokrasi kita ini, perlu ada diantara keluarga korban yang merelakan untuk dilakukan otopsi total, bukan sekadar otopsi verbal,  tapi menyeluruh secara terang benderang, agar “kelelahan” tak lagi dijadikan kambing hitam. Kasihan kambing hitam yang tak tahu hitam putihnya masalah.

Korban bukan mati konyol, tapi syahid. Diberi label “Pejuang Demokrasi” tapi kejuangannya tak diberi nilai dengan penelitian sebab-musabab terbang jiwanya yang penuh misteri. Perlu investigasi komprehensif dan transparan, agar tak ada lagi dusta di antara kita.* BNTime

(Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan.)

Pontianak, 19 Mei 2019.

(Visited 29 times, 1 visits today)

Comments are closed.