KPU Tolak Permintaan Ijtima Ulama III untuk Diskualifikasi Jokowi, Sementara Kecurangan Jalan Terus


[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas untuk perbesar huruf)

 

 KPU menolak permintaan Ijtima Ulama III untuk diskualifikasi Jokowi – Maruf Amin sebagai peserta calon presiden dan wakil presiden di Pilpres 2019. Komisioner Komisi Pemilihan Umum atau KPU Wahyu Setiawan beralasan, KPU hanya bekerja dan tunduk pada peraturan undang-undang.”

HAL itu dikatakan Wahyu menanggapi atas hasil Ijtima Ulama III yang di gelar di Lor In Sentul, Bogor, Rabu (1Mei 2019), salah satu poinnya mendesak KPU RI dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI untuk mendiskualifikasi pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo – Ma’ruf Amin dari peserta Pilpres 2019.

“Mendesak Bawaslu dan KPU untuk memutuskan membatalkan atau men diskualifikasi paslon capres cawapres 01,” kata Ketua GNPF Ulama Yusuf Martak, tulis Suara.com.

Wahyu meminta semua pihak memberi kesempatan kepada KPU untuk bekerja dengan sebaik-baiknya.

Namun sebaliknya tidak sedikit laporan dari kubu capres-cawapres 02 tidak digubris oleh KPU/Bawaslu yang sejatinya juga amburadul jika tak terima disebut sama curangnya dengan yang di lapangan.

Tengok salah satu kecurangan diantara ribuan kecurangan ini misalnya, Sistem Informasi Hitung Suara (Situng) Komisi Pemilihan Umum (KPU) terindikasi melakukan input/scan form C1 yang tidak sesuai dengan hasil penghitungan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

“Temuan tersebut terjadi di TPS 33 Kelurahan Amplas, Kecamatan Medan Amplas, Medan, Sumatra Utara”, ungkap Gelora.com.

Input form C1 yang dilakukan dalam Situng KPU berbeda hasilnya dengan fakta perolehan suara di TPS. Dalam input perolehan suara di Situng KPU, pasangan Jokowi-Ma’ruf meraih 174 suara, sementara pasangan Prabowo-Sandiaga meraih 147 suara.

Protes bermunculan, riak protes netizen di media sosial hadir, menuding KPU telah melakukan pemalsuan terhadap form C1 yang diinput melalui Situng. Sebab fakta dari TPS, pasangan Jokowi-Ma’ruf hanya mendapat 74 suara, atau kelebihan 100 suara versi scan C1 yang diduga ‘dipalsukan’.

Kejanggalan memang muncul dalam scan form C1 yang diinput di Situng KPU. Sebab, jika perolehan suara Jokowi-Ma’ruf sebanyak 174 suara, ditambah 147 suara perolehan Prabowo-Sandiaga = 321 suara, tak sesuai dengan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) yang ada di TPS sebanyak 221 pemilih alias kelebihan 100 suara untuk Jokowi-Ma’ruf. Halal Pak Yai? *BNTime/sua/gnews   

 

(Visited 17 times, 1 visits today)

Comments are closed.