Terungkap, Ini Orangnya Biang Kerok Amplop “Serangan Fajar” Bowo Sidik Rp 8 Miliar


Nusron Wahid juga pernah jadi timses Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Pilgub DKI 2017.(Foto:dokumentasi)
[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas utk perbesar huruf)

 “Romahurmuziy alias Romy – Ketum PPP agaknya tak bakalan sendirian jadi pesakitan KPK (Komisi Pemilihan Umum) terkait money politic jelang Pilpres/Pileg 2019, bisa ditemani kawan sekubunya terkait hal serupa kendati tak sama.”

DIA adalah Ketua DPP Partai Golkar, Nusron Wahid diduga terlibat dalam kasus suap calon legislatif DPR petahana dari Partai Golkar, Bowo Sidik Pangarso.

Nusron yang juga Kepala BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) itu disebut-sebut yang memerintahkan uang Rp 8 miliar lebih “serangan fajar” yang diamankan bersama Bowo Sidik untuk dibagikan ke Jawa Tengah.

Dalam kasus ini, KPK sudah menetapkan Bowo Sidik sebagai tersangka suap jasa angkut pupuk PT Pupuk Indonesia oleh kapal milik PT Humpuss.

“Amplop (Rp 8 miliar) mau dibagi ke Jawa Tengah atas perintah pimpinan dia, pak Nusron Wahid,” kata pengacara Bowo Sidik, Saut Edward Rajagukguk kepada wartawan di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Selasa (9/4-2019).

Edward mengungkapkan hal tersebut berdasarkan pengakuan kliennya saat dimintai keterangan oleh penyidik KPK.

Dia mengatakan, posisi kliennya sama dengan Nusron sebagai calon DPR, yaitu Caleg Dapil Jateng II. Tapi jabatan Nusron lebih tinggi, yaitu Ketua Bappilu Golkar untuk Jateng dan Kalimantan.

“(Nusron Wahid) pimpinan di Bappilu Jateng Kalimantan. Ini langsung disampaikan Bowo ke penyidik,” ujar Edward.

Namun, terkait stempel “cap jempol” yang identik dengan salah satu paslon di Pilpres 2019 yakni Jokowi-Maruf, dibantah oleh Edward. Menurutnya, amplop serangan fajar itu untuk pencalegan bukan Pilpres.

“Cap jempol memang dibuat karena supaya tahu bahwa amplop ini sampai atau tidak nanti. Sebagai tanda saja,” tampik Edrwad. *BNTime/rmol  

 

(Visited 17 times, 1 visits today)

Comments are closed.