KETIKA IJTIHAD TAK LAGI BERSEMANGAT JIHAD


[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas untuk perbesar huruf)

 

Oleh, Effendy Asmara Zola: “Debat Capres-Cawapres RI 2019 gelombang terakhir yang disebut sebagai debat pamungkas,  baru saja berakhir sekitar jam 22.45 WIB,  setelah sekitar tiga jam berakrobat politik ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan, investasi, dan industri.”

SEJAK awal debat dimulai, saya tak melihat keberadaan si pamungkas, entah sembunyi di mana? Mengingatkan saya  pada  program lucu-lucuan tayangan sebuah TV nasional swasta, Indonesia Lawak Klab dengan semboyan ‘Menyelesaikan Masalah Tanpa Solusi’. Ujung-ujungnya hasil debat malah diperdebatkan pula antara kedua pihak team sukses oleh pancingan host TV, mempertanyakan berapa score 01 vs 02?

Debat demi debat yang dilalui sampai kali ke lima yang baru saja usai, saya melihat tak ubahnya silat lidah dengan jurus berkelit dan membungkam. Padahal debat capres-cawapres bisa jadi penguat kampanye untuk merangkul suara rakyat pemilih.

Di tengah nonton debat itu, sebenarnya hati saya sedang lara, teringat  sebuah lagu nasional Ibu Pertiwi. Begini lriknya; kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati, air matamu berlinang, mas intanmu terkenang // Hutan Gunung sawah lautan, simpanan kekayaan, kini ibu sedang lara, merintih dan berdoa…….

Namun ibu pertiwi sekarang ini sedang bersusah hati karena tak hanya karena simpanan kekayaannya yang raib ke tangan bangsa asing, utang negara menggunung, penganggur meraung-raung, tapi ia benar-benar merintih melihat kelakuan para elite bangsanya yang tak jauh dari kolusi dan korupsi bukan solusi.

Di tengah ‘perang tanding’ antara petahana Jokowi-Ma’ruf vs Prabowo-Sandi atau 01 vs 02, dicemari oleh permainan ‘jual-beli jabatan’ oleh Ketum PPP Romahurmuziy untuk kepentingan politiknya, disusul ratusan ribu amplop Bowo Sidik bernilai Rp.8 miliar yang konon guna serangan fajar, belum lagi viralnya Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan yang menyodorkan amplop (duit) kepada seorang kiai NU and so on and so on. Wahai, katanya hukum tak tebang pilih.

Paling anyar dari yang teranyar adalah, tercemarnya demokrasi bangsa ini di luar negeri dengan temuan di Selangor – Malaysia,  ribuan surat suara yang sudah tercoblos pada pasangan 01 Jokowi-Ma’ruf Amin. Hoaxs? KPU/Bawaslu tak membantah kejadian ini. Dimanakah moral? Dimanakah adab dan adat budaya bangsa besar yang berlandaskan Pancasila ini?

Jenderal AH NASUTION di dalam bukunya PEMBANGUNAN MORAL Inti Pembangunan Nasional pada Bab NEGARA IDAMAN yang diterbitkan pada Oktober 1994, mengatakan: “Sesungguhnya suatu negara berdiri, adalah karena budi pekerti, Manakala akhlak mereka pergi, negara itu pun musnah sendiri.”

Lalu ketika ada penulis asing menanyakan tokoh pemimpin dan panglima perang yang paling dikagumi, Jendral DR. AH Nasution menjawab tegas, Nabi Muhammad SAW.

Saya pun teringat juga pada sebuah kisah perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman yang selalu lolos dari eksekusi Kolonialis Belanda, karena punya tiga azimat sakti. Azimatnya adalah selalu tak lepas dari berwudhu, sholat tepat waktu, semua yang dilakukan dengan tulus semata-mata untuk seluruh rakyat dan negara Indonesia.

Lalu budi pekerti bagaimanakah yang dimiliki pemimpin masa kini, setelah 20 tahun reformasi berjalan? Kata tak lagi berbahasa, mengagumi Rasulullah dan mengagungi kebesar Allah dengan menyeru Allahu Akbar, dituduh radikal dan penyebar terror.

Salahkah jika ada penulis asing dalam imajinasinya menyebut, 30 tahun lagi Indonesia musnah? Padahal itu patut dijadikan warning! Bandingkanlah dengan peringatan Pak Nas di atas, “Manakala akhlak mereka pergi, negara itu pun musnah sendiri!”

Andai Jendral AH Nasution hidup kembali di rezim yang kini ditengarai dikendalikan oleh imposible hand, saya yakin beliau akan tersentak karena runtuhnya akhlak elite. Kita lihat misalnya, layakkah seorang elite mencerca elite lainnya yang layak dihormati dengan ucapan sebagai ‘bermulut comberan’? Dan macam-macam ujaran lain yang juga disemburkan yang menunjukan dekadensi budi pekerti.

Ulama dipilah-pilah, dakwah diamat-amati. Upaya menegakan amar ma’ruf nahi munkar  justeru  dituduh radikal.  Bahkan doa sekalipun bisa dinilai provokatif, sementara yang terang-terangan menista suara azan tak lebih indah dari suara kidung ibu sarikonde, melenggang riang, sedangkan ulama pengingat ihwal bahaya laten PKI masuk penjara.

Kebesaran Allah dinisbikan, padahal DIAlah dengan segala kebesaran dan kehendakNYA membolak-balik waktu siang dan malam dengan segala cuaca dan suasana alam. Tapi, no! Katanya politik tidak boleh dicampur-adukan dengan agama, ini sculler and liberal Brow. Pantas saja sumpah jabatan cuma dijadikan sekadar alat pelengkap menyapai tujuan. Korupsi dan dekadensi moral merajalela. Inilah yang mesti diperbaiki dengan sebuah perubahan seperti yang dicita-citakan pendiri bangsa,

Ijtihad sudah tak lagi bersemangat  jihad untuk membangun bangsa dan negara, tapi untuk kepentingan pribadi dan atau kelompok. Betapa ibu pertiwi takan bersusah hati,  keberanian Bung Karno yang dengan tegas bersuara lantang, ‘Kami Bukan Bangsa Tempe” tak lagi pernah dikenang. Kita tak lagi disegani sebagai Macan Asia.

Ketika Jenderal AH Nasution mengatakan “Sesungguhnya suatu negara berdiri, adalah karena budi pekerti, Manakala akhlak mereka pergi, negara itu pun musnah sendiri.” Ia pun mengambil contoh pembinaan kepemimpinan negara secara dasar oleh khalifah yang pertama Abu Bakar As Siddiq ra. yang terpilih memimpin umat dan negara setelah Rasulullah wafat seperti dalam pidato pelantikan beliau:

1.”Jika aku berlaku baik dalam menjalankan kekuasaan itu, bantulah aku. Tetapi jika salah betulkanlah”.

2.”Taatilah aku, selama aku taat kepada Allah dan RasulNYA. Apabila aku mendurhakai Allah dan Rasulnya, tidak ada atasmu wajib taat kepadaku”.

3.”Barangsiapa yang lemah di antaramu akan kuat pada sisiku, sehingga aku kembalikan haknya (dari tangan orang lain yang memegangnya), Insya-Allah”.

4.”Barangsiapa yang kuat di antaramu, akan lemah berhadapan denganku, sehingga aku ambil hak orang lain dari tangannya, Insya-Allah.”

Betapa Pak Nas dalam pikiran politiknya tidak memisahkan antara politik dengan agama. Ia menuntun bangsa besar ini untuk membangun dengan menggunakan Teori Akal Sehat (Ijtihad), bukan dengan Teori Hukum Alam peradaban masa silam. Namun apa yang terjadi di era reformasi yang repot nasi ini? Ayat Qursi sudah tak dianggap lagi karena syahwat kursi.!*

(Pontianak, Sabtu 13 April 2019, penulis kepala dapur BNTime)

(Visited 20 times, 1 visits today)

Comments are closed.