Haul Sultan Pontianak dan Sekilas Manakib Sultan Syarif Abubakar Alqadri


Sultan Sy. Machmud di acara Haul, 31/3/2019. Insert, kiri; Sultan Syarif Abubakar Alkadri, kanan; Sultan Hamid II.
[ A+ ] /[ A- ]

(klik A+ di atas utk perbesar huruf)

 “Haul tahun ke-2 wafatnya Syarif Abubakar Alqadri, Sultan Pontianak VIII, diperingati oleh keluarga besar Kerajaan Qadriyah, Minggu (31 Maret 2019) pagi,  bertempat di istana kerajaan peninggalan Sultan Syarif Abdurakhman – pendiri kota Pontianak ini.”

 SEKALIGUS diperingati pula 41 tahun berpulangnya Sultan Hamid II (Syarif Abdul Hamid Alqadri), Sultan Pontianak VII yang wafat pada tanggal 30 Maret 1978, selisih satu hari kalender dengan wafatnya Sultan Pontianak VIII, Syarif Abubakar Alqadri, 31 Maret 2017.

Selain pembacaan Yasin, tahlil dan doa serta sambutan Sultan Pontianak IX – Syarif Machmud Melvil Alqadri, SH,  acara dimulai dengan pembacaan manakib (biografi) oleh panitia penyelenggara. Malam harinya diselenggarakan Salawat Akbar untuk Keselamatan Bangsa.

Sekilas manakib Sultan Syarif Abubakar Alqadri. Allahyarham yang lahir pada 26 Juli 1944 (5 Sya’ban 1363), dan yatim sejak bayi. Ia lahir tanpa sempat menikmati kasih sayang ayahnya, Syarif Machmud Alqadri  yang dibantai Kompetai (tentara Jepang) di tahun itu, tak lama sebelum ayahnya – Sultan  Muhammad Alqadri atau jid (datok Syarif Abubakar) diseret dari Istana Qadriyah (Selasa, 22 Februari 1944) dinihari, dan dihabisi di sebuah tempat.

Sepertinya bak tak putus dirundung duka, baru dalam usia 10 tahun Syarif Abubakar Alqadri mesti berurai air mata kembali ditinggal ibunda tercinta, Ratu Mas Perdana Agung, kembali ke pangkuan Illahi Rabbi.

Ringkasnya, sejak usia bocah itulah, Syarif Abubakar Alqadri  dibesarkan dan diberi pendidikan formal dan agama oleh paman kandungnya (abang dari Syarif Machmud Alqadri), yaitu Syarif Abdul Hamid Alqadri yang kemudian dikenal sebagai Sultan Hamid II, wafat 1978.

Menyongsong masa depan dengan hidup berkeluarga, Syarif Abubakar Alqadri menikah dengan Utin Laila Farida binti Gusti Saputra gelar Ratu Mas Perdana Agung, dikaruniai 4 anak perempuan dan satu laki-laki, yakni Syarif Machmud Melvin Alqadrie (pewaris tahta Kerajaan Qadriyah sekarang ini, Sultan Pontianak IX).

Pada tahun 1997 Ratu Mas Utin Laila wafat, dan setahun setelah itu Syarif Abubakar Alqadri menikah lagi dengan Permaisuri Ratu Laila Perdana Agung dan dianugerahi satu-satunya anak, seorang putera yang diberi Nama Syarif Muhammad Fasya Alqadri, adik dari Sultan Syarif Machmud Melvin Alqadri,

Sejatinya, Syarif Abubakar Alqadri sudah berhak atas tahta Kerajaan Qadriyah sejak ditinggal wafat Sultan Hamid II pada 30 Maret 1978. Dimana berdasarkan keputusan Mahkamah Syariah Pengadilan Agama Pontianak no.117/1978, bahwa Syarif Abubakar Alqadri adalah satu-satunya pewaris tahta Kerajaan Qadriyah setelah putera Sultan Hamid II menyatakan tidak bersedia pulang ke Pontianak dan menetap di Negeri Belanda.

Kevakuman kekuasaan pada tahta Kerajaan Qadriyah terjadi selama lk. 26 tahun. Baru kemudian atas titah bibi kandung satu-satunya, Ibunda Ratu Perbu Wijaya Syarifah Hadijah binti Syarif Muhammad Alqadri (Sultan ke-VI),  Syarif Abubakar Alqadri dinobatkan sebagai Sulltan Pontianak VIII bergelar Maulana Seri Sultan Syarif Abubakar Alqadri dalam suatu adat-istiadat Melayu dan dihadiri oleh raja-raja dan segenap bangsawan senusantara, 15 Januari 2004 bertepatan dengan 22 Dzulqa’idah 1424 Hijriyah.

Tigabelas tahun memegang tampuk kekuasaan tahta Kerajaan Qadriyah dengan berbagai persoalan kecil-besar, dapat dihadapi dan diatasi oleh Sultan Ayarif Abubakar Alqadri bersama keluarga besarnya.

Salah satu prioritas yang terus diperjuangkan Sultan Pontianak VIII kepada pemerintah, adalah penetapan diakuinya Sultan Hamid II sebagai pahlawan nasional perancang Lambang NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), yakni Garuda Pancasila.

Hingga akhirnya Sultan Pontianak ke VIII yang pernah berkiprah di dunia politik menjadi anggota DPRD kota Pontianak 1992-1997 ini, tutup usia dini hari Jumat, 31 Maret 2017 dalam usia 73 tahun.

Untuk selanjutnya posisi Allahyarham Sultan Pontianak VIII, Syarif Abubakar Alqadrie digantikan oleh  Putera Mahkota – Syarif  Machmud Melvin Alqadri gelar  Pangeran Ratu Agung Seri Mahkota Maharaja, dinobatkan sebagai Sultan Pontianak IX yang tetap memegang amanah Allahyarham Sultan Syarif Abubakar Alqadri beserta keluarga besar dan karib kerabat, memperjuangkan pengakuan bahwa Sultan Hamid II adalah perancang lambang negara, Garuda Pancasila yang merupakan bagian dari sejarah nasional yang amat penting. *BNTime

 

(Visited 22 times, 1 visits today)

Comments are closed.