ANTARA DEBAT KUSIR Dan DEBAT KURSI


[ A+ ] /[ A- ]

(klik A+ di atas utk perbesar huruf)

Oleh, Effendy Asmara Zola:”Seberapa penting ‘debat’ diperlukan sehingga masuk dalam metode perebutan kekuasaan,  seberapa besar ‘khasiat’nya untuk ‘mencuci otak’ alias ‘menggoreng’ opini publik guna mendulang suara? Rakyat sudah pada melek politik untuk menentukan pilihan, debat dianggap cuma sebagai tontonan dan penghambur-hamburan dana.”

ISTILAH ‘debat kusir’  hanya ada di Indonesia yang kemudian dikiaskan untuk hal-hal tak berfaedah dalam adu argumentasi. Antara pendebat dengan yang didebat  jangankan mau kalah, seri (drow) saja mereka tak mau.

Syahdan tempo doeloe, seorang diplomat ulung Indonesia – KH Agus Salim naik delman untuk sebuah tujuan. Tiba-tiba Pak Kusir pengendali delman yang duduk di depan penumpang kedengaran kentut. Agus Salim menyidir dengan halus, tak mau menyinggung perasaan si kusir.

“Wah, kudanya masuk angin tuh” , ujar sang diplomat.

Namun rupanya Pak Kusir termasuk jenis yang tak mau disalahkan, disindir saja dia tak sudi. Pak Kusir pun ngeles, “buang angin, bukan masuk angin”.

“Buang angin, iya juga sih,” pikir Agus Salim dalam hati sambil mengelus jenggotya.

Sama saja dengan menyoal keberadaan telur ayam. Telur duluan yang ada, apa ayamnya? Tapi apa untungnya mempersoalkan.

Sebagai seorang diplomat ulung, KH Agus Salim tak mau menggulung angin yang masuk keluar itu. Selain buang-buang waktu,  Agus Salim menyadari dirinya tak selevel dengan si kusir, bisa menimbulkan kebencian antara keduanya. Mending diam, besok-besok ada undangan lagi dari luar negeri, ya beradu argumentasi lagi ditingkat internasional. Siapa takut?

Begitulah sekilas  awal mula muncul istilah debat kusir’. Sama dengan kisah pokrol bamboe’  tempo doeloe, kisah  sang ‘pokrol’ yang merasa dirinya hebat bak ahli hukum, padahal dia tak pernah mengenyam pendidikan hukum sama sekali. Sekadar take book begitulah konon.

Di pembuluh sepeda ontelnya tergantung tas lipat tebuat dari anyaman bamboe, sehingga di masanya dia pun mendapat gelar pokrol bamboe’. Ngomong tak pernah mau kalah, merasa diri paling pintar dan paling benar.

Suatu ketika, di Landraat (Pengadilan Negeri Kolonial Belanda), bak seorang Advokad  profesionil si pokrol berdebat dengan jaksa dalam sebuah kasus pembunuhan. Bahwa menurut si pokrol yang dipukul pelaku dengan sepotong kayu  adalah tawon yang hinggap di kepala korban. Jadi tak ada unsur kesengajaan menyabut nyawa orang., karena tawonnya sempat terbang, yang kena malah kepala korban dan mati.

Di masa rakyat terayun-ayun di lamunan politik sekarang ini, banyak pula kisah Debat Kusir dan cerita fakta hal-ihwal Pokrol Bamboe . Baik bergulir  di ruang resmi debat  capres-cawapres, maupun di kesempatan lain dalam ribut-ribut berebut kursi panas Pilpres 2019.

Contoh soal ketika Ali Mochtar Ngabalin – Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden, mati-matian sampai terbaring di rumah sakit mempertahankan argumentasi bahwa “tagar 2019gantipresiden” merupakan gerakan makar. Meskipun sejumlah pakar tata negara termasuk Yusril Ihza Mahendra yang kini melompat masuk pagar Istana Negara mengatakan, ‘tagar’ itu masih di dalam pagar konstitusi, tidak ada yang dilanggar, konon pula makar.

Pilpres tinggal menghitung hari,  mana makarnya? Yang terjadi malah munkar di sana-sini. Para ulama tertekan, aktivis kubu tetangga yang nota-bene asset bangsa juga terkekang bahkan dipersekusi. Tak heran jika ada warganet yang meplesetkan nama Ali Mochtar Ngabalin menjadi Ahli Makar Nyebelin. Jangankan disalahkan, remis pun dia tak hendak.

Gagasan Presiden Jokowi yang tergelitik napas politik untuk membebaskan Ustadz Abu Bakar Ba’azir, malah diamini  mentah-mentah oleh Yusril Ihza Mahendra yang pakar hukum tata negara.

Dengan memakai jurus Pokrol Bamboe, Yusril melancarkan aksi PHP. Bak kingkong menepuk dada menang bertarung, belum apa-apa di sebuah masjid, sang pakar mempublikasikan kalau terpidana yang mengantongi tuduhan teroris itu segera akan menghirup udara bebas.

Yusril Ihza Mahendra yang sejatinya bukan Pokrol Bamboe tapi Advokad tulen  sepatutnya menyadari, dirinya bukan siapa-siapa di lingkup pemerintahan, menisbikan struktur berkompeten untuk urusan itu, MenkumHAM dan Menhankam dan atau Kapolri.

Telur duluan apa ayam duluan? Pakai aturan dulu, baru bebaskan Baasyir atau Bebaskan Ba’asir duluan, aturan belakangan? Hah!

Apa mau dikata, nasi telah menjadi bubur, isu pembebasan Abu Bakar Ba’asir viral menjadi hoaxs akbar abad ini, lebih pahit daripada hoax ‘bunuh diri’ Ratna Sarumpaet.

Tak heran juga jika di ‘episode’ lain, capres 02 Prabowo Subianto mengklaim, bahwa di masa kepemimpinan Jokowi, penegakan hukum berat sebelah. Membludaknya tenaga kerja asing bikin bising. Sementara Jokowi asik berkisah soal infrstruktur yang disebut berpihak kepada rakyat, tidak ada konflik dalam masalah lahan, karena masalah keagrariaannya diganti untung bukan ganti rugi.

Namun seorang ibu menangis dan bersimpuh di kaki Jokowi, terkait ganti rugi lahan yang tak kunjung selesai. Perempuan ini nekat menerobos barikade Paspampres untuk bisa menemui Presiden Jokowi saat peresmian  Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) atau Tol Lampung ruas Bakauheni-Terbanggi Besar yang dipusatkan di gerbang tol Natar, Jumat, 8 Maret 2019 pagi.

Itu hanyalah satu di antara sejumlah peristiwa ‘ganti untung’, disebut mereka yang terkena gusur lahannya sebagai ‘ganti buntung’ dan viral di ranah dunia maya.

Sementara di debat gelombang ketiga antara cawapres 01 Ma’ruf Amin vs cawapres 02 Sandiaga Uno, antara lain ada ‘perang tanding kartu sakti’.

Sim salabim, KH Ma’ruf Amin mengacungkan contoh 3 kartu sakti yang akan dikeluarkan. Ketiga kartu  yang masih ‘akan’ alias baru merupakan janji itu adalah Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Pra Kerja, dan Kartu Sembako Murah.

“Hup!” Ketiga kartu yang dijanjikan cawapres 01 Ma’ruf Amin, dilumpuhkan oleh satu kartu yang dikeluarkan cawapres 02 Sandiaga Uno dari dalam dompetnya dan para pendukung juga memperlihatkan. Menurut Sandiaga, cukup dengan satu kartu yang di dalamnya tertanam chip data diri alias KTP–elektronik, orang bisa melakukan kegiatan apa saja e-KTP.

Itu hanyalah secuil kisah ‘debat kusir’ diantara puluhan ‘debat kusir’  lainnya dari area persilatan politik jelang Pilpres 17 April 2019 yang tinggal menghitung hari. Jika  diungkap dan diungkit  semua, bisa bikin artikel ini berjilid-jilid bak cerita silat Kho Ping Ho tempo doeloe, sementara kursi RI-1 2019 makin panas.

Dari debat ke debat politik di beberapa ruang publik tayangan TV swasta nasional sampai ke debat capres-cawapres yang tinggal menunggu “grand final”, apa hebatnya? Program wallahualam, yang terlihat cuma bangkit-membangkit pembangunan yang dikalim sebagai keberhasilan. Debat capres-cawapres malah dijadikan modal ekor debat oleh penyuka bantah-berbantah untuk dikalkulasi berapa scorenya. Konyol!

Menurut  Nicoolo Machiaveli, ahli pikir kenegaraan  dari Florence, Perancis yang hidup di abad XVI,  kekuasaan harus direbut dan atau dipertahankan dengan menghalalkan segala cara. Urusan rakyat urusan belakangan. Jika negara merasa akan dirugikan, maka penguasa tak perlu menepati janjinya.

Teori Mach yang kontra reformis mengajarkan,  seorang penguasa harus dapat menjadi binatang yang merupakan singa dan kancil sekaligus. Merupakan kancil agar tidak terjerat dalam jaring orang lain. Merupakan singa, supaya ia tidak gentar mendengar raungan srigala.

Kalaulah Teori Mach yang dimainkan dalam ‘perang tanding’ untuk menuju Kursi RI-1  sebentar lagi, tak pelak adalah kecurangan juga yang dimainkan, karena Teori Mach pada prinsipnya mengajarkan tentang kecurangan dan ketakutan rakyat pada ancaman raja (penguasa) dan orang-orang dekatnya.

Apa kata dunia, jika kecurangan dibiarkan berdendang ria  di tengah teori hukum alam di negara beradab-budaya yang berlandaskan Pancasila ini. Sementara antara ‘debat kusir’ dengan ‘debat kursi’  beda-beda tipis.

Bahwa rakyat di republik ini sudah pada melek politik untuk menimbang dan memutuskan ke pemimpin mana suara akan diberikan,  sudah dapat membedakan mana yang masuk angin’, mana yangbuang angin’, mana pula yang ‘angin pukul angin’! *Pontianak, 28 Maret 2019

 *Penulis wartawan senior

“Kepala dapur” BNTime

 

 

 

 

 

 

(Visited 16 times, 1 visits today)

Comments are closed.