MENGURUNG ROCKY GERUNG MENAWARKAN KUCING DALAM KARUNG


[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas utk perbesar huruf)

 

 Oleh, Effendy Asmara Zola  “Adakah Rocky Gerung menjadi murung di hari-hari terakhir menjelang hari ‘H’ Pilpres  2019 ini? Kelihatannya happy saja, bahkan namanya justeru makin memuncak dengan pelaporan dirinya ke polisi, popularitasnya makin oke.”.

UPAYA menyeret terlapor ke lahan pidana, berdasarkan laporan ke Bareskrim Polri dengan Laporan Polisi TBL/2001/IV/2018/PMJ/Dit.Reskrimsus, 16 April 2018.  Pelapornya Jack Boyd Lapian yang didahului beberapa hari sebelumnya, Rocky Gerung dilaporkan oleh Permadi Arya alias Abu Janda dengan Laporan Polisi TBL/2001/IV/2018/PMJ/Dit.Reskrimsus, 11 April 2018. Kemudian laporan turun ke Polda Metro Jaya.

Di Indonesia Lawyer Club (ILC) TV-One, Selasa (10 April 2018) bertajuk ‘Jokowi – Prabowo Berbalas Pantun’, bak gayung bersambut Rocky Gerung menyambut juga dengan senandung; ‘kitab suci adalah fiksi’.

Narasi inilah yang dijadikan modal dasar dengan cap penodaan agama, untuk menyingkirkan  Rocky Gerung  dari ruang publik. Sempat terhembus kabar-kabur, Rocky Gerung dicekal Karni Ilyas sang Presiden ILC, tapi hoax dengan kemunculan-kemunculan lain di talk show terhormat itu dan tayangan lainnya.

Adakah dalil pidana yang dapat dikail dari pernyataan Rocky Gerung, ‘kitab suci adalah fiksi’?

Polda Metro Jaya nampaknya cukup berhati-hati,  tak serta merta memberkas akademisi itu berstatus tersangka, ‘klarifikasi’ dulu. Maklum Rocky Gerung bukan kelas sarungan.  Penyidik tak boleh yang sekelas nalar pelapor; ustadz dadakan, Abu Janda yang terjungkal dalam debat vs mualaf cerdas, Felix Siaw. Sementara Jack Boyd Lapian viral di medsos doyan lapor melapor, salah satu korbannya Ahmad Dhani bisa kejeblos 1,6  tahun ke balik jeruji besi tersengat pasal karet UU  IT. Sementara Anies Baswedan tak bisa dibuat Lapian tersedu sedan.

Klarifikasi tentunya asik, mendengarkan juga pendapat para ahli yang membidangi disiplin ilmunya; pidana, agama, filsafat, juga kalau perlu pakar ilmu logika. Jangan-jangan pelapor sendiri sebenarnya bingung menafsirkan antara ‘fiksi’ dan ‘fiktif’ entah pula fakta, yang penting Rocky Gerung mesti terkurung paling tidak untuk selama masa tahanan sementara sampai selesai Pilpres.

Sedangkan yang jelas faktanya bermuatan ujaran kebencian penistaan agama oleh antara lain Sukmawati Sukarno Putri, entah berantah laporannya. Bahwa ‘sari konde ibu Indonesia lebih indah ketimbang cadar, kidung Indonesia lebih merdu ketimbang alunan azan’. Astarfirullah.

Lainnya berdasarkan jejak digital media pers online,  politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Muhammad Guntur Romli yang aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) menulis pernyataan yang sangat controversial.

Dalam cuitannya di akun Twitter-nya @GunRomli pada 18 November 2010 menyebut Al Quran bukan kitab suci, “Oleh karena itu, Quran bukan  kitab suci, bukan pula menyebabkan kita tabu  untuk menggaulinya.  Nabi Muhammad bukan pula manusia suci,” kicau Guntur yang nama depannya memikul nama besar Nabi Muhammad itu.

Astarfirullah, dipertajamnya lagi dengan cuitannya 17 Desember 2010: “Tuhan adalah hasil evolusi otak manusia, memang ada pembicaraan Tuhan di luar otak manusia?”

Bandingkan dengan cuitan Ahmad Dhani; “Siapa saja yang dukung Penista Agama, adalah Bajingan yang perlu diludahi mukanya.”

Seberapa ‘greget’ yang dapat melukai hati umat antara cuitan Muhammad Guntur Romli atau puisi Sukmawati dibandingkan curhat seorang musisi seperti Ahmad Dhani. Belum lagi kisah Buni Yani yang merasa dikriminalisasi, padahal bermaksud   menyampaikan faktualisasi informasi pelecehan agama.

Mana yang lebih pas untuk masuk Lapas; Buni Yani, Ahmad Dhani, Ustadz Alfian Tanjung, Rocky Gerung, atau tetangga sebelah seperti Sukmawati, Guntur Romli, Vicktor Liuskodat, Cornelis, Ade Armando dan lain-lain?

Terlalu panjang daftar nama para penista agama yang senyap dari laporan.

Jangan heran kalau bermunculan tarikan napas menganggap hukum itu tajam ke bawah tumpul ke atas. Simpul hukum makin tak jelas antara delik murni dengan delik aduan.

Anggapan pun menguat, laporan yang dilempar ke bilik penyidik sarat bermuatan politik,  karena antara pelapor dengan terlapor berbeda dapur koalisi.

Berikutnya mesti ada lagi yang dibabat karena piawai berdebat, ya itu tadi,  mulut Rocky Gerung mesti disumbat. Hitung-hitung buat menyenangkan hati Ali Mochtar Ngabalin.  Ngabalin selalu saja terpojok, antara lain ketika menyebut gerakan Alumni 212 adalah Gerakan Pengacau Keamanan, namun dikuliti Rocky Gerung bahwa itu adalah Gerakan Akal Sehat.

Habis Rocky Gerung muncullah Haris Azhar, pengacara Rocky Gerung sang terlapor. Haris ternyata tak kalah ‘gila’ dari kliennya, nyebelin Ali Mochtar Ngabalin. Haris tak mau menanggapi komentar sang Doctor, karena menganggap komennya tak nyambung dengan pangkal persoalan kliennya yang ditimang-timang supaya diterima jadi sebagai kasus penodaan agama. Kesal argumennya diremehkan Haris dengan tak diacuhkan, Ngabalin mempertontonkan kwalitasnya sebagai salah satu orang penting negara.

Tenaga Ahli Staf Utama Kantor Staf Kepresidenan itu mempertontonkan prilaku tak pantas di ruang publik (Kabar Petang TV One, Senin 4/2/2019), dia menantang pengacara Rocky Gerung begini: “Saya tantang kalian, kalau kalian mau, tidak ada urusan dengan jabatan dan pangkat-pangkat ini, gitu lohs,” teriaknya.

Hebat! Kalah debat, mulut lawan mesti disumbat.  Melaporkan ujaran Rocky Gerung sebagai penodaan agama ihwal ‘kitab suci adalah fiksi’, mengada-ada dan dipaksakan. Ibarat menawarkan kucing di dalam karung ke bilik penyidik. Karungnya terikat erat, apakah isinya kucing anggora apa kucing kurap. *Pontianak, Kamis (070219), Pimred BNTime

(Visited 46 times, 1 visits today)

Comments are closed.