KETIKA SAJADAH DIJADIKAN ALAS BERGOYANG


[ A+ ] /[ A- ]

(Klik A+ di atas utk perbesar huruf)

Oleh, Effendy Asmara Zola:“Siapa yang tidak marah, siapa yang tidak geram? Umat Islam kini menunggu penindakan hukum yang diharapkan tidak tenggelam.”

INI kesempatan pucuk pimpinan Polri untuk membuktikan gebrakannya tidak berat sebelah di alam rezim yang controversial dewasa ini. Kesempatan untuk membuktikan stigma penindakan tidak  tajam ke bawah tumpul ke atas dan atau tajam ke oposisi tumpul ke koalisi penguasa.

Betapa tidak, cukup banyak laporan resmi umat Islam yang antah berantah kelanjutan penindakannya; Ade Armando, Viktor Laiskodat (kini gubernur NTT), Cornelis (mantan Gubernur Kalbar, kini Caleg DPR-RI), Sukmawati, Guntur Romli, Abu Janda dan lainnya. Sementara Buni Yani, Ustadz Alfian Tanjung, persekusi dakwah asset bangsa Felix Siaw, Ustadz Abdul Somad dan lainnya, paling anyar Ahmad Dani, yang dibuat lintang pukang menuntut keadilan. Entah pula nasib Rocky Gerung untuk bisa dikurung yang masih dicari-cari delikya bagaikan mencari jarum di dalam rumput.

Kali ini adalah Caleg DPRD DKI Jakarta dari PDIP, Doddy Akhmadsyah Matondang yang melakukan penistaan. Bersama beberapa koleganya, ibu-ibu pula, bersenam ria di atas panggung yang beralaskan sajadah. Dalam lacak jejak pewarta, dari video berdurasi 57 detik, lokasi senam diberitakan, di depan Mushola Nurul Iman di wilayah Rukun Warga (RW) 05 Cengkareng Timur, Jakarta Barat, Ahad (17/02/2019).

Umat Islam boleh jadi cuma sanggup mengurut dada sambil beristifar, memohonkan ampunan Allah bagi Doddy Akhmadsyah Cs yang tak masuk di akal jika itu sebuah kekhilafan. Khilaf kok bareng?

Bukankah disadari, tidak ada fungsi lain dengan sajadah selain untuk meletakan kening, merendah diri sebagai hamba yang daif, sujud ke khadirat Allah. Tidak ada alasan kalau yang dipakai alas bergoyang itu adalah sajadah bekas yang dijadikan keset kaki pula. Bukankah pula sepatutnya diketahui, seusang-usang sajadah haruslah dimusnahkan (dibakar hingga menjadi abu), bukan dinistakan.

Adalah Muhammad Sofyan yang masih percaya pada amar makruf nahi mungkar masih bisa ditegakan di bumi pertiwi tercinta ini. Dia coba melaporkan peristiwa yang menggores hati tersebut, karena menganggap Doddy Akhmadsyah telah menistakan agama Islam. Peristiwanya pun lantas jadi urusan polisi. Kita tunggu saja, akankah Doddy akhmadsyah seberuntung Ade Armando cs?

Memang beredar juga di media sosial, permintaan maaf dari sang Caleg dan beberapa orang lain yang bersenam ria. Maaf bisa saja diterima, namun harus diingat, kata ‘maaf’ tidaklah dapat menjadi pembenar yang dapat menghapus pidana.

“Kami dari Forum Masyarakat Muslim Jakarta Selatan dan sekitarnya, ingin melaporkan dugaan penistaan agama oleh caleg dapil Cengkareng, Dody Akhmadsyah dan tiga kawannya dari PDIP,” terang Sofyan di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Pusat pada Kamis (21/02/2019), dikutip dari Kiblatnet.

“Saya rasa, saya sebagai umat muslim merasa sakit dan terhina melihat simbolis sajadah dimainkan diinjak-injak untuk target politik,” sambungnya.

Ia sangat menaruh harapan, kepolisian bisa segera menindaklanjuti laporannya yang disertai bukti-bukti rekaman hasil video, mereka menginjak-injak simbol agama Islam yaitu sajadah, dan beberapa link berita. Menurut Sofyan, Doddy telah melanggar pasal 157 ayat 1 KUHP. Unsurnya memang sudah jelas, dengan sengaja melakukan.

Bahkan, dia juga meminta supaya pihak lain seperti MUI dan Bawaslu turut memberikan tidak tinggal diam terkait kasus ini.

Penulis angkat topi pada pucuk pimpinan PDIP (Megawati), tegas dengan tiada maaf bagi kadernya yang korupsi, pecat! Bagaimana dengan penista agama, akankah setegas itu juga? Parah, jika wakil rakyat senista itu.

Harus diingat peristiwa yang menyayat hati ini, viral di tengah tahun politik. Setitik nila saja dapat merusak santan sebelanga, ‘goyangan di atas sajadah’ juga dapat menggoyang suara Capres-Cawapres Jokowi-Ma’ruf berceceran ke perahu Capres-Cawapres 02 Prabowo-Sandi di Pilpres 2019.

Entahlah jika kubu petahana tak ambil pusing, karena baginya suara umat Islam memang tak penting. Wallahualam bisawab ! *BNTime  (Pontianak, Jumat 22022019),

*Penulis Wartawan Senior

(Visited 26 times, 1 visits today)

Comments are closed.