Ulamaku Sayang Ulamaku Malang


[ A+ ] /[ A- ]

bersama; Effendy Asmara Zola

.

“Dengan tak mengurangi rasa hormat saya kepada KH Ma’ruf Amin, tulisan ini  tertuang dari lubuk hati yang paling dalam.”

PREDIKAT Ulama, sederhananya dapat diartikan sebagai seorang atau orang berilmu dan berpengetahuan seluk beluk agama (Islam). Dapat dipastikan, seseorang yang menyandang gelar Kiyai Haji adalah ulama, seorang yang dihormati,  tempat bertanya dan pengarah mana yang haq mana yang batil.

Demikianlah juga halnya dengan KH Ma’ruf Amin – yang saat ini Cawapres yang mendampingi Capres pertahana Joko Widodo untuk Pilpres 2019. Itu sah dan konstitusionil tentunya. Tapi bukan soal apa dan mengapa beliau yang disunting menjadi cawapres yang akan jadi pokok bahasan diskusi kecil kami kali ini, sebab hal itu sudah pernah kami diskusikan dalam  Pilihan Cerdas “Jenderal Kardus” ,  jauh sebelum Ijtima Ulama Jilid II.

Pagi ini kepada beberapa teman sepengopian di sebuah warung kopi, istilah elite-nya  ‘copy morning’, saya bercerita bahwa pekan silam saya terkesima mendapat kabar yang tak kabur. Lebih  dari itu, hati saya sedih dan pilu bagai diiris sembilu.

Pasalnya, Cawapres KH Ma’ruf Amin kabarnya gembira, karena dijadwalkan bakal bertemu dengan para Ahoker, pendukung Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) yang ‘terjungkal’ dari kursi gubernur DKI Jakarta tahun lalu dan masih dalam bui karena pasal penistaan agama.

Bukan kegembiraan beliau yang membuat miris, tapi masalahnya beliaulah yang dijadwalkan menemui para Ahoker tersebut. Bahasa birokrasinya ‘menghadap’ lho! KH Ma’ruf Amin disuruh menghadap Ahoker! Astarfirullahal Adzim.

Biang keroknya adalah politisi Partai Golkar, Nusron Wahid yang krasak-krusuk dengan Ma’ruf Amin soal dukungan  Ahoker ke kursi nomor urut 1. Mirisnya, Ma’ruf  Amin mengaminkan hal itu dengan suka cita, tersugesti ajakan menemui Ahoker.  Alasannya, demi keutuhan nusa dan bangsa. Hmm.

Kita ingat ketika MUI di bawah ketuanya, KH Ma’ruf Amin, mengeluarkan fatwa bahwa Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok melakukan penistaan agama terkait surah Al’Maidah (51), yang menyeret  Ahok ke balik jeruji besi dan Ahoker mencak-mencak.

Mari sejenak balik belakang untuk melawan lupa, ketika Mahfud MD selaku Ketua Dewan Penasihat Lembaga Bantuan Hukum PB NU menyatakan amarahnya. Bahwa

pernyataan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kepada KH Ma’ruf Amin (saksi) dalam sidang penistaan surah Al-Maidah 51 sangat tidak beradab dan di luar koridor hukum.

Sikap Ahok yang sangat merendahkan KH Ma’ruf Amin itu, kata Mahfud, tentu saja menimbulkan kemarahan warga nahdliyin (NU).

”Saya pribadi selama ini diam saja. Tapi atas kejadian Ahok di sidang pengadilan yang seperti itu maka saya pun kini emosi. Dan wajar bila para kader dan warga NU seperti dari Ansor dan PMII marah atas sikap itu. Saya kira tindakan Ahok itu tidak beradab. KH Maruf adalah sosok ulama yang sangat dihormati warga NU. Dan di organisasi jamiah NU (PB NU) dia menempati posisi yang sangat tinggi. Semua warga NU hormat dan mencintai beliau,” papar Mahfud kepada Republika co.id (1-2-2017).

Menurut Mahfud, apa yang dipertontonkan oleh Ahok dan penasihat hukumnya di sidang tersebut juga keluar dari substansi. Bahkan, beberapa pernyataan yang terlontar di sidang itu menjadi ‘blunder’ hukum yang punya konsekuensi hukum yang serius. Hal ini misalnya adanya pengakuan Ahok bahwa bila dia tahu ada  percakapan melalui telepon antara KH Ma’ruf Amin dan Susilo Bambang Yudhoyo (SBY), yang menandakan kalau KH Ma’ruf Amin mendukung salah satu calon gubernur tertentu.

Dengan sekilas kilas balik melawan lupa itu, tega nian Nusron Wahid menawarkan KH Ma’ruf Amin untuk menemui Ahoker.  ‘Teganya….. teganya….’ sebaris liryc sebuah lagu dangdut.

Padahal, urusannya kan jelas, demi kursi! Kalau ngebet dengan suara Ahoker atau sebaliknya Ahoker yang ngebet dengan Capres-Cawapres nomor urut 1, ya Ahoker yang dijadwalkan menghadap KH Ma’ruf Amin. Jangan ulama yang disuruh-suruh.  Begitu etikanya! Begitu adabnya!

Nusron perlu camkan ini,  jabatan Ketua MUI boleh lepas demi kursi Cawapres, tapi predikat ulama tetap melekat hingga ke liang lahat. Jadi janganlah nistakan beliau dengan gagasan murahan. Sebab, apabila KH Ma’ruf Amin sampai menemui Ahoker dan Kawan Ahok atau apa pun nama kelompoknya, akan membuat wibawa, harkat dan martabat Ma’ruf Amin menjadi rontok, merugikan kubu ‘9 Hercules’ sendiri.

Sekali lagi, dengan tak mengurangi rasa hormat saya kepada KH Ma’ruf Amin, jagalah harkat dan martabat ulama, meski pun saya bukan pendukung Capres/Cawapres Jokowi-Ma’ruf bukan pula pendukung Prabowo-Sandiaga. Saya hanya pemerhati kelas warung kopi di pinggiran kampung.  Wassalam. *

Pontianak, 011018, 23.00 wib

Penulis, pimred.borneonusantaratime.com

(Visited 48 times, 1 visits today)

Comments are closed.