Di Istana Qadriyah, Pontianak: Cawapres Sandiaga Uno Bermandikan Takbir dan Doa


[ A+ ] /[ A- ]

“Kunjungan Sandiaga Salahuddin Uno  dan rombongan ke Pontianak, diawali silaturahmi dengan Sultan ke IX Kerajaan Qadriyah, kota Pontianak, ibukota Kalimantan Barat, Sultan Syarif Mahmud Alqadrie dan keluarga besar.”

TAKLAH  aneh jika kunjungan Sandi, panggilan akrab Sandiaga, mengenakan pakaian adat Melayu, Rabu (19 September 2018) pagi. Hal tersebut tak lepas adanya hubungan emosionil antara Sandi dan Melvin – panggilan akrab Sultan Syarif Mahmud, karena sama-sama berasal dari satu adat budaya ranah kerajaan Melayu, kerajaan Islam umumnya, bukan kerajaan penjajah yang bekerjasama dengan Belanda sebagaimana baru-baru ini difitnahkan.

Sandiaga Uno (49) dilahirkan di Rumbai, Pekan Baru, Riau,  yang pernah diperintah oleh Sultan Syarif Kasim yang diabadikan sebagai nama Bandara di sana, sedangkan Melvin (44) adalah cicit buyut dari Sultan Syarif Abdurahman Alqadri, pendiri kota Pontianak yang pada 23 Oktober 2018 ini genap berusia 247 tahun.

Ketika mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu menginjakkan kaki di “tangga 9” Istana Qadriyah dan disambut langsung oleh Sultan dan keluarga serta sejumlah Pangeran, suara takbir pun berkumandang silih berganti sebagai ucapan selamat datang dan doa bagi Cawapres pendamping Capres Prabowo Subianto.

Sebelum menyosialisasikan maksud dan kunjungannya, peci (kopiah) warna kuning terlebih dahulu dicopot sendiri oleh Sandi, sebelum Sultan Syarif Mahmud menggantinya dengan kopiah harian Kerajaan warna hitam. Kemudian di dada baju telok-belanganya disematkan pin Kerajaan Qadriyah.

Ada yang menarik tatkala orang muda terkaya ke 37 di Indonesia itu mencopot sendiri peci warna kuning dari kepalanya, riuh rendah tertawa senang terdengar dari emak-emak yang tumpah ruah di balairung istana tempat acara dihelat. Itu ketika Sandi membenahi rambutnya yang terjuntai di kening sebelum dipasangkan kopiah hitam oleh Sultan.

Terdengar suara emak-emak dan remaja puteri meneriakan “Bang Sandi Ganteng”, “hidup Prabowo – Sandi.  Tak herandi digandrungi emak-emak dan milenial puteri, karena program pembangunan ekonomi bangsa yang dikedepankannya harus dimulai dari disiplin pembangunan ekonomi  dapur emak-emak. Sementara suara takbir terus bersahutan  mengiringi acara sosiasasi orang muda calon pemimpin bangsa Indonesia itu. *BNTime

(Visited 28 times, 1 visits today)

Comments are closed.